Beras, Rokok & Mi Instan Jadi Indikator Kemiskinan di Indonesia

KONFRONTASI  -  Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto mengatakan, peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan, yakni perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan.Sumbangan makanan terhadap garis kemiskinan pada September 2016 tercatat sebesar 73,19 persen. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan Maret 2016 yang mencapai 73,5 persen.

"Jenis komoditi makanan yang berpengaruh terbesar terhadap nilai garis kemiskinan antara lain beras, rokok, daging sapi, telur ayam ras, gula pasir, mi instan, bawang merah dan tempe," kata Suhariyanto di kantornya, Jakarta, Selasa (3/1).

Dia mencatat, rata-rata harga beras turun 1,21 persen, yakni sebesar Rp 13.301 per kg pada Maret 2016 menjadi Rp 13.140 per kg pada September 2016. Rata-rata harga cabai merah menurun 14,06 persen, dari Rp 45.554 per kg menjadi Rp 39.151 per kg

"Cabai rawit juga menurun 13,77 persen dan telur ayam ras menurun 0,56 persen," imbuhnya.

Menurut Suhariyanto, munculnya daging sapi sebagai salah satu komoditi penyumbang terbesar garis kemiskinan disebabkan pada periode September 2015 bertepatan dengan perayaan Idul Adha.

"Sementara itu, untuk komoditi bukan makanan yang terbesar pengaruhnya adalah biaya perumahan, listrik, bensin, dan pendidikan," pungkasnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2016 mencapai 27,76 juta orang. Angka ini turun 0,16 persen atau 250 ribu orang dibandingkan dengan Maret 2016 sebesar 28,01 juta orang.

"Kalau dilihat dari September 2015, jumlah penduduk miskin ini mengalami penurunan 0,53 persen. Dari 28,51 juta orang menjadi 27,76 juta orang," kata Kepala BPS Suhariyanto di kantornya, Jakarta, Selasa (3/1).(Juft/Mrdk)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA