Argumen Kebenaran Rasional Al-Qur’an

Oleh:  Dr. Mohammad Nasih*

 

 

Al-Qur’an adalah kitab suci agama Islam yang kebenaran pernyataan-pernyataannya semakin banyak yang terverifikasi dan terkonfirmasi. Al-Qur’an makin nampak sebagai sebuah narasi untuk mengantarkan manusia yang berakal kepada pandangan yang utuh tentang dunia dan kehidupan setelahnya.

Berbagai tuduhan bahwa al-Qur’an sama dengan kitab-kitab suci agama-agama lain yang lebih banyak berisi mitos-mitos atau cerita-cerita buatan manusia, kian hari menjadi kian terlihat tidak berada pada pijakan yang kokoh. Bahkan, tidak sedikit ilmuan yang memiliki fokus kepada disiplin ilmu pasti dan alam yang pernah mengakses al-Qur’an, baik karena sengaja maupun tidak sengaja, merasa takjub dan kemudian secara sadar memilih Islam sebagai agama baru mereka.

Bukti kebenaran al-Qur’an nampak sangat menonjol pada beberapa aspek, di antaranya yaitu:

Pertama, bahasa sastranya sangat tinggi. Al-Qur’an, di samping memiliki kandungan ajaran yang sangat substansial dan berbobot, juga memiliki kualitas sastra yang sangat mengagumkan. Rima pada keseluruhan ayatnya pun sangat terasa oleh siapa pun, termasuk mereka yang walaupun tidak memahami makna al-Qur’an. Sebagai contoh sederhana, kekuatan rima tersebut bisa dirasakan pada surat-surat pendek di akhir juz 30. Semua ayat di QS. al-Nâs berakhir dengan huruf sîn (s), al-Ikhlash berakhir dengan huruf-huruf qalqalah, al-‘Ashr berakhir dengan huruf râ’ (r), al-Fîl berakhir dengan huruf lâm (l) dan masih banyak lagi surat yang lainnya yang memberikan efek berbeda ketika membaca dan/atau mendengarnya.

Awal surat Thaha dengan kekuatan isi dan keelokan bahasa sastranya itu bahkan berhasil tidak hanya menggoyahkan permusuhan Umar bin Khaththab terhadap Islam, tetapi lebih dari itu membalikkannya menjadi orang yang termasuk dalam kategori paling depan dalam membela Islam. Sebab, kecerdasan intelektualnya mengantarkan kepada pemahaman bahwa ayat-ayat yang dibacanya tidak mungkin diciptakan oleh manusia.

Al-Qur’an diturunkan dengan ketinggian bahasa sastra itu bukan tanpa latar belakang sosio-kultural masyarakat yang menjadi audiensnya yang paling awal. Ia diturunkan dalam konteks masyarakat yang sesungguhnya memiliki multi kecerdasan: intelektual, emosional, finansial, dll; dan yang paling menonjol serta mereka sendiri banggakan adalah kecerdasan linguistik verbal. Hanya saja mereka kemudian disebut oleh al-Qur’an dan Nabi Muhammad dengan masyarakat jâhiliyyah, karena mereka tidak memiliki kecerdasan spiritual. Mereka terjerumus ke dalam paham materialisme (al-dahriyyah) dan berpaham teologi politeisme (al-syirk) (al-Jâtsiyah: 24).

Kemampuan berbahasa yang sangat baik pada orang-orang yang disebut sebagai syu’arâ’(para penyair) itu mereka anggap bukan semata-mata kemampuan teknikal. Mereka berparadigma bahwa orang-orang yang memiliki kemampuan bersya’ir dengan sangat baik disebabkan mereka memiliki pembantu (khadam) berupa jin. Karena itulah, mereka disebut majnûn.

Terjadi kekeliruan umum dalam mengartikan majnûn ini dengan “gila”. Padahal yang dimaksud majnûn sesungguhnya adalah kerasukan jin. Karena konsepsi inilah, masyarakat percaya bahwa orang yang majnûn adalah orang jinius (dari kata jinjuga) yang memiliki kemampuan untuk melihat atau mencandra masa depan. Maka para penyair itu juga disebut sebagai “orang pintar” alias dukun.

Orang-orang kafir menuduh bahwa Nabi Muhammad, karena menyampaikan kalimat-kalimat yang sangat indah itu, sebagai penyair biasa yang kerasukan jin, bukan nabi sebagaimana diklaimnya. Karena tuduhan mereka itu, maka al-Qur’an menantang untuk mendatangkan yang seperti al-Qur’an (al-Isra’: 88), sepuluh surat saja (Hud: 13), bahkan satu surat saja (al-Baqarah: 23 dan Yunus: 38). Namun, tantangan al-Qur’an yang sudah sampai taraf paling rendah dan merendahkan itu, tidak terjawab sampai hari ini dan tentu saja tidak akan pernah ada yang mampu menandinginya sampai kapan pun.

Kedua, prediksi al-Qur’an bukan saja tepat, tapi bahkan sangat presisi. Prediksi dalam al-Qur’an sampai bisa disebut sangat presisi karena benar-benar tidak menyisakan ruang interpretasi apalagi apologi, karena menyebut kata yang berkait erat dengan angka. Prediksi tersebut seputar pertempuran antara Romawi dan Persia yang pada saat itu merupakan dua imperium besar yang selalu bersaing.

Setelah tersiar kabar bahwa Persia yang menganut agama Majusi berhasil mengalahkan Romawi yang menganut agama Kristen, umat Islam merasa bersedih. Sebab, orang-orang musyrik Makkah pada saat itu mengolok-olok kaum muslimin dengan mengatakan bahwa orang-orang yang menyembah Allah dan memiliki kitab suci, bisa dikalahkan oleh para penyembah api. Dengan kata lain, orang-orang yang memiliki kitab suci itu ternyata lebih hina dibandingkan para penyembah api. Di antara para sahabat menyampaikan kesedihan itu kepada Nabi Muhammad. Turunlah ayat yang menjelaskan bahwa Romawi akan bisa kembali mengalahkan Persia sebagai kabar gembira.

Romawi telah dikalahkan. Di bumi yang terendah, dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang. Dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu, bergembiralah orang-orang yang beriman.” (al-Rum: 2-4)

Kata bidl’un pada ayat ke-4 di atas, dalam al-Qur’an terjemah, biasanya diartikan dengan “beberapa tahun”. Namun, banyak ulama’ tafsir memberikan ulasan bahwa kata bidl’unsesungguhnya digunakan untuk menyebut rentang angka antara 6 sampai 9. Karena itu, jika makna ini disubstitusikan, maka al-Qur’an telah menegaskan prediksi bahwa Romawi akan menang kembali pada rentang waktu antara 6 sampai 9 tahun. Dan ternyata benar, pada tahun ke-7, Romawi mengalahkan Persia.

Seandainya, Romawi menang tetapi tidak pada rentang waktu itu, al-Qur’an dan Islam akan menjadi bahan ejekan yang lebih parah dan bahkan tidak menutup kemungkinan akan ditinggalkan oleh orang-orang yang sebelumnya telah mempercayainya. Namun, karena ternyata pernyataan al-Qur’an sangat presisi, maka justru keimanan kaum muslimin menjadi bertambah kuat dan makin banyak orang yang mempercayai al-Qur’an sebagai wahyu Allah.

Ketiga, makin banyak informasi ilmiahnya yang terbukti. Al-Qur’an menyajikan berbagai macam informasi ilmiah yang terdapat di alam semesta. Al-Qur’an telah menyatakan bahwa tubuh Fir’aun, raja otoriter yang bahkan sampai mengaku Tuhan di Mesir pada era Nabi Musa dan Harun, walaupun tenggelam di samudra, akan diselamatkan agar menjadi tanda-tanda bagi manusia sesudahnya. Dan ternyata pada abad XX, jasad itu ditemukan, lalu diteliti oleh seorang ilmuan Perancis bernama Maurice Buchail yang dituangkannya dalam karyanya yang sangat terkenal berjudul “Al-Qur’an and Modern Science”.

Al-Qur’an menyatakan bahwa air laut terbelah menjadi dua, seolah-olah ada batas antara keduanya; yang sebelah berasa tawar nan enak diminum dan yang sebelahnya asin cenderung pahit. Fenomena itu terdapat di dekat Jabal Thariq (Gibraltar), karena adanya perbedaan kerapatan di antara keduanya. Yang saat ini bisa disaksikan oleh makin banyak orang adalah informasi al-Qur’an tentang perkembangan janin di dalam rahim, karena ditemukan teknologi USG, yang diungkapkan pada awal QS. al-Mu’minun dengan sangat mengagumkan:

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (al-Mu’minun: 12-14)

Informasi dalam ayat tersebut, makin mengundang decak kagum saat ini, karena disampaikan pada saat sama sekali belum ada teknologi yang bisa mendeteksi keadaan perkembangan embrio di dalam kandungan ibunya.

Jika berdasarkan ilmu pengetahuan modern ternyata diketahui ada satu saja proses yang disebutkan tersebut terbalik misanya, maka legitimasi al-Qur’an sebagai kebenaran yang datang dari Allah akan gugur dan bahkan jadi bahan tertawaan. Namun, karena realitasnya justru sebaliknya, maka justru menjadi salah satu faktor yang makin meyakinkan bahwa al-Qur’an memang bukan buatan manusia, melainkan berasal dari yang menciptakan alam semesta.

Keempat, bisa dihafalkan di luar kepala, bahkan oleh anak kecil sekalipun. Tidak ada satu pun buku di dunia ini dengan jumlah kata yang sebanyak al-Qur’an, bisa dihafalkan sebagaimana al-Qur’an dihafalkan, baik dalam konteks kualitas hafalan maupun jumlah orang yang menghafalkannya. Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa Allah akan memudahkannya untuk diingat (QS. al-Qamar: 17, 22, 32, 40). Ini merupakan sebuah kenyataan yang menakjubkan dan tentu saja merupakan salah satu bukti bahwa al-Qur’an memang selalu benar dalam segala pernyataannya. Dan ini makin memperkokoh argumen bahwa ia adalah benar-benar mu’jizat dari Allah Swt..

Jika pernyataan-pernyataan al-Qur’an yang bersifat verfikatif ternyata terbukti di kemudian hari, bahkan di antaranya setelah belasan abad kemudian, maka pernyataan-pernyataan al-Qur’an yang belum terverifikasi di dunia ini, juga layak dan sudah seharusnya dianggap sebagai kebenaran, karena sesungguhnya hanya tinggal menunggu waktunya saja untuk menyaksikan kebenarannya. Untuk informasi yang termasuk dalam wilayah eskatologi, maka itu juga harus dianggap benar dan masuk dalam wilayah iman kepada yang ghaib. Semua itu akan terverifikasi di akhirat nanti. Wallahu a’lam bi al-shawab.

 

*Dr. Mohammad Nasih, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Guru Utama di Rumah Perkaderan & Tahfidh al-Qur’an MONASH INSTITUTE.

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA