Abrakadabra: Penumpang Gelap Reformasi Yang Menjelma Tirani

Cukup sulit  kugambarkan dengan kata-kata
Dua puluh tahun lalu ketika gelora api pembebasan negeri
Tengah diboncengi penumpang gelap yang tak dikenali
Di saat orang-orang sibuk melengserkan kekuasaan yang sudah layu
Ada orang yang mengendap-endap naik di tikungan ketika orang lain lengah.
Dan bajing loncat yang jadi penumpang gelap itu belum berani memperlihatkan diri
Dia bermain dari dalam dan mengatur skenario
Untuk menguasai desain rumah kalian
Pertama penumpang gelap meminta agar penggunaan kata Cuing
Diganti dengan Toang, apa maksudnya?
Agar penumpang gelap lebih terhormat mengelabui tuan rumah
Dapat mengacak-acak isi rumah dan memporak-porandakan segala
Tatanan yang telah jadi baku
Dan diakui semua anak-anak bangsa sejak tahun1945
Itu diminta bukan oleh si Toang, tapi oleh tuan rumah yang duduk
Di kursi terhormat
Orang-orang bingung, kata-kata Cuing sudah sangat mendarah daging di lidah tuan rumah
Diganti kata Toang, sungguh terasa janggal
Tapi yang janggal itu dipaksakan, lama-lama menjadi biasa dan ringan saja

 

Baru dua tahun kapal reformasi berjalan
Penumpang gelap itu ternyata kian berani
Kini ia bermutasi menjadi pembajak
Dengan kelihaian dan uang ratusan trilyun di tangan
Penumpang gelap menjelma pembajak, pertama membajak UUD 1945
Tuan rumah yang duduk di kursi terhormat
Digelontorkan uang dengan jumlah yang mencengangkan
Tuan rumah yang duduk di kursi terhormat terperangah
Apa yang ingin dirubah tuan? Kata tuan rumah
Itu, itu, ya kalian namakanlah itu amandemen UUD 1945
Maka tuan rumah yang berbahagia dan banyak uang karena gelontoran penumpang gelap
Bersemangat mengamandemen Undang-undang
Tiang-tiang rumah negeri antah-berantah dipreteli
Diganti dengan tiang dari negeri Toang
Kaum terlepajar yang sedang bersemangat intelektual
Merasa berbahagia keluarnya amandemen UUD 1945
Dan kaum intelektual menamakannya dengan:
Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

 

Kapal reformasi terus berjalan ke hilir waktu
Dalam waktu dua tahun usai reformasi
Oang-oang berteriak, si Amon yang duduk di kursi terhormat
Adalah pengkhianat
Bau busuk pengkhianat tercium kemana-mana
Dua orang penjaga reformasi berteriak-teriak di siang bolong:
Si Amon telah membobol dasar negara Republik Indonesia
SBP dan DJM berani bertanggungjawab dengan ucapannya
Si Amon telah membongkar dasar negara Republik Tercinta
Berapa si Amon dapat duit dari penumpang gelap
Untuk membongkar dasar negara Republik Tercinta?
Itu urusan si Amon, dan orang-orang tak peduli dengan si Amon
Mau jungkirbalik, mau buka baju atau mau kabur ke planet Mars
Orang-orang terus merasa nyaman

 

Kapal reformasi berjalan jauh ke hilir
Tepat di siang bolong ketika orang-orang memilih pemimpin baru
Si Toang menampakkan diri seperti seorang ‘sinterklas’ yang sangat baik
Dan pemurah hati
Orang setempat menyebutnya ‘Ratu Adil’ yang ditunggu-tunggu
Saat kampanye si Toang yang baik, rendah hati masuk gorong-gorong
Di tengah ibu kota
Seluruh negeri heboh dan terpincut akan memilih si Toang yang
Memperlihatkan diri sebagai ‘Ratu Adil’ yang terpercaya
Saat azan tiba, ‘Ratu Adil’ mengajak pengikutnya yang makin banyak
Mendirikan kewajiban shalat lima waktu
Kata-kata indah, bicara yang lembut dan sopan-santun yang tinggi
Menggugurkan lawan politik si Toang dengan mudah
Itu belum cukup, ada politik uang yang akan dimainkan
Dengan sangat canggih dan 'super rahasia'
Orang-oang berteriak, tapi tak jadi perhatian
Dan semua menjadi buta, untuk mencari :Siapa sesungguhnya
Yang getol bermain politik uang?”
Bingung, sungguh pusing mencari sosok pemenang suka menggelontorkan uang
Petruk sukses jadi Raja
Sungguh upaya serius penumpang gelap, alias bajing loncat
berhasil menembak sasaran
Kursi Republik nomor satu sempurna diraih
Akhirnya gelar si cebong dimusnahkan
Si kampret pun dimakan zaman

 

Kapal reformasi terus bergulir melayani lautan
Sering terjadi keributan di dalam kapal,
penumpang kapal sering ditimpa penyakit ‘panas dalam’
Anak-anak, orang tua, emak-emak dan semua rakyat
Ditimpa penyakit ‘panas dalam’, tiba-tiba panas tubuh meninggi
Beberapa hari, suhu panas menurun dan semua aman-aman saja
Namun pancaroba tak tentu, panas dalam datang lagi dan Papua
Porak-poranda oleh penyakit baru yang tak jelas virus apa penyebabnya

 

Saat itulah si Toang mulai menampakkan diri setengah wujud
Dengan lantang ia berkata: kalian pribumi, kami kaum elit
Maka pecahlah ‘people power’ yang merangsek pusat kekuasaan
Kelihatannya, 100 % polisi mendukung pusat kekuasaan
Anak buahnya memukuli mahasiswa
Petinggi polisi di atas diam saja
Ada apa dengan negara dan mengapa para jenderal Polisi
Diam seribu bahasa?
Ada desain  yang salah sejak era reformasi
Dengan kapal layarnya menggemuruh mengarungi lautan luas
Kadang kapal hampir tenggelam
Karena badai demikian hebatnya
Badai kemudian reda dan negara kembali damai, walau tidak sejahtera
Yang sejahtera tentu cukong-cukong kaya
Rakyat tetap saja lapar dan menderita  

 

Usai berjalan selama dua dekade sejak lahirnya
Mimpi, dan cita-cita reformasi jauh panggang dari api
Api kalau kecil menjadi sahabat
Ketika membesar orang-orang ribut
Si Toang yang mempreteli sendi-sendi UUD melalui si Amon Roys
Telah membangunkan seluruh anak bangsa
Api yang terus membesar
Pasti melumatkan seluruh isi rumah dan membakar seluruh penghuninya
Atau kapal reformasi akan tenggelam dan musnah untuk selamanya
Cerita singkat dari dongeng ‘abrakadabra’
Ulah si Toang dan si Amon Roys
Kini menjelma TIRANI
Yang membuat marah seisi negeri!

 


 

 

Jakarta, 26 September 2019

________________________
Oleh: Juftazani, penyair, penulis novel "De Atjeh Oorlog", alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogya

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA