13 December 2019

Yakin Kita sudah Merdeka?

Oleh : Ratna Kurniawati

Tanggal 17 Agustus selalu diperingati sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, kita harus merenungi setiap diperingatinya hari kemerdekaan, karena kemerdekaan bukan hanya diperingati setiap tahun sebagai acara seremonial tetapi tidak memberikan kesan yang berarti. Indonesia sudah 74 tahun sejak kemerdekaannya, tetapi apakah negeri ini sudah merdeka dan lepas dari segala penjajahan?. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata merdeka adalah bebas dari penghambaan, penjajahan, berdiri sendiri dan sebagainya. Tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak terikat, tidak bergantung kepada orang lain atau pihak tertentu. Kemerdekaan merupakan sesuatu yang dicita-citakan suatu bangsa, karena kemerdekaan adalah hak segala bangsa oleh sebab itu penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, itulah yang tertulis di naskah pembukaan UUD 1945 alinea pertama.

Namun, melihat kondisi Indonesia saat ini apakah sudah merdeka?

Kalau diartikan dalam harfiah memang sudah. Proklamasi kemerdekaan sudah diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta.Tapi saat ini, pengangguran merabah luas, kemiskinan merajalela, pedagang kaki lima tergusur teraniaya, bocah-bocah kecil merintih melangsungkan mimpi dijalanan, buruh kerap dihadapi penderitaan. Inilah negeri kita, alamnya gelap tiada berbintang dari derita dan derita menderita, derita terus. Sampai kapankah derita ini, yang kaya darah dan air mata yang senantiasa mewarnai bumi pertiwi. Mulai dari tingginya angka kemiskinan, kerusuhan, kriminal, pembunuhan, kenakalan remaja, perzinahan, prostitusi, bahkan ternyata Indonesia masih di jajah, salah satunya dari segi ekonomi, Indonesia sudah dijajah oleh Kapitalisme Global.

Masih terlalu banyak kesenjangan di masyarakat kita. Disana-sini masih banyak tindakan kesewenang-wenangan. Indonesia merdeka hanya bisa dirasakan oleh mereka para pengusaha kaya, pejabat tinggi dan mereka-mereka yang telah berhasil mengentaskan diri mereka sendiri ke taraf hidup sosial yang lebih baik. Tetapi kemerdekaan masih belum menyentuh rakyat jelata kawan!

Rakyat jelata Indonesia, yang masih hidup dibawah garis kemiskinan, yang masih menjadi mayoritas penduduk Indonesia. Belum lagi kekayaan negara yang hingga saat ini sampai anak cucu kita kelak dihisap habis-habisan oleh perusahaan-perusahaan Internasional, dihisap oleh Pengusaha konglomerat, tetapi imbal balik kepada Negara Indonesia hanya berupa pajak yang kemudian pajak itu dihabiskan untuk Subsidi BBM yang ujung-ujungnya dinikmati bukan oleh rakyat jelata dan dihabiskan untuk menggaji parlemen yang kinerjanya masih menjadi pertanyaan. Upah buruh yang rendah.

Seharusnya dengan ‘umur kemerdekaan’ yang cukup matang (74 tahun), idealnya bangsa ini telah banyak meraih impiannya. Apalagi, segala potensi dan energi untuk itu dimiliki oleh bangsa ini. Sayang, fakta lebih kuat berbicara, bahwa Indonesia belum merdeka dari keterjajahan pemikiran, politik, ekonomi, pendidikan, hukum, budaya, sosial dll. Indonesia belum merdeka dari kemiskinan, kebodohan, kerusakan moral dan keterbelakangan.

Anggota MPR Ahmad Basarah, di depan peserta Training of Trainers 4 Pilar di lingkungan TNI dan Polri di Bandung, mengatakan, bahwa bangsa ini secara ekonomi sudah dijajah oleh kapitalisme global. Dia mengatakan, bahwa tak hanya dalam soal kepemimpinan yang sudah terkontaminasi unsur kapitalisme, namun saat ini juga ada sekitar 173 undang-undang yang berpihak pada asing dan tak sesuai dengan Pancasila (reportaseindonesia.com, 29/8/2015).    

Saat ini Indonesia sudah dikurung oleh 13 pangkalan militer Amerika Serikat, Indonesia sama juga “sudah terkurung” seperti Irak, oleh pangkalan-pangkalan AS yang berada di Christmas Island, Cocos Island, Darwin, Guam, Philippina, Malaysia, Singapore, Vietnam hingga kepulauan Andaman dan Nicobar beserta sejumlah tempat lainnya.” Connie Rahakundini Bakrie, pengamat Pertahanan dan Militer dari Universitas Indonesia. Jakarta (Garuda Militer, 14/12/2012).

Tingkat korupsi di Indonesiapun masih tinggi, korupsi di Indonesia semakin merajalela. Ada beberapa faktor yang membuat korupsi di Indonesia terasa malah semakin banyak hingga ke berbagai pejabat lintas tingkatan. Pertama, objek korupsi yang biasa dilakukan di Indonesia adalah anggaran, baik APBN maupun APBD. Kemudian, nilai anggaran setiap tahunnya pun semakin besar        

Hari kemerdekaan yang selalu diperingati setiap tahun tidak memberikan kesan yang sangat berarti untuk kemerdekaan Indonesia. Peringatan kemerdekaan kemarin hanya berupa seremonial belaka. Sebuah candu yang memberikan persepsi kalau kita sudah merdeka dan patut disyukuri. Padahal, semua peringatan ini akan sia-sia belaka karena kita belum merdeka secara penuh. Seremonial tahunan ini hanya memalingkan kita dari kondisi kita yang sedang terjajah.

Hari-hari yang dilalui semakin menambah tetesan air mata di bumi pertiwi, jelas kita masih dijajah, kebijakan ekonomi masih merujuk pada Kapitalisme, tragisnya, hukum kita pun masih didominasi oleh hukum-hukum kolonial. Akibatnya kemiskinan menjadi 'penyakit' umum rakyat. Negara pun gagal membebaskan rakyatnya dari kebodohan. Rakyat juga masih belum aman. Pembunuhan, penganiyaan, pemerkosaan, pencabulan, dan kriminalitas menjadi menu harian rakyat negeri ini. Bukan hanya tak aman dari sesama, rakyat pun tak aman dari penguasa mereka.

Apakah Islam adalah solusi??

Islam akan memecah persoalan kusut yang ditimbulkan oleh kapitalisme neoliberal. Sumber-sumber kekayaan seperti sumber daya alam tidak mungkin lagi dipermainkan pemerintah dan pemilik modal, penguasaannya sepenuhnya oleh negara dan pemanfaatannya sebesar-besarnya untuk rakyat. Faktor-faktor produksi yang dimanfaatkan sesuai tuntunan Islam akan mengkondisikan pasar domestik Indonesia yang besar menjadi produktif untuk masyarakat Indonesia sendiri. Industri-industri manufaktur pun akan bergairah dengan iklim usaha yang baik, karena barang-barang impor akan diperketat untuk masuk ke pasar domestik Indonesia, para pelaku industri baik domestik maupun asing yang melakukan mopoli akan ditebas, dan menutup keran modal asing. Hasilnya peningkatan besar pada cadangan devisa negara dan pemanfaatan devisa sesuai tuntunan Islam yang mensejahterahkan.

Islam memandang seluruh perbuatan manusia harus terikat dengan hukum syariat Islam. Maka Islam telah menetapkan model negara untuk mengatur interaksi dan aktifitas manusia, negara itu adalah Khilafah Islamiyah.

 

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...