10 December 2019

Unsur “Su” Pada Nama Capres. Prabowo Lebih Pantas Jadi Presiden !

                                                                             Oleh : Mohammad Naf'an Fuadi

Saya pernah membaca sebuah buku karangan Jenderal AH. Nasution yang isinya kira-kira begini, Presiden Indonesia tidak bisa lepas dari suku jawa. Ini mungkin sebuah analisis historis,  akan tetapi saya   memandangnya sebagai sebuah ramalan belaka. Dan sebuah ramalan tentu bisa salah dan bisa benar. Di kemudian hari, nyatanya dalam perkembangan sejarah tercatat  kepresidenan Republik Indonesia ada juga presiden dari Pulau Sulawesi,  Prof. DR. Ing. BJ. Habibie.

Hari ini saya membaca sebuah statemen yang susah dimengerti. Bisa jadi, saya  adalah orang Jawa yang kurang njawani. Kurang bisa memahami budaya sendiri. Sulit membedakan mana ramalan dan mana dukungan. Kalimatnya berasal dari Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung Tedjowulan, Mahapatih keraton kasunanan Surakarta.

Bunyinya  begini:

“Prabowo Subiyanto pantas menjadi presiden berikutnya karena di dalam namanya ada unsur “su. Unsur ini sama dengan penggalan nama yang ada pada presiden sebelumnya, yaitu Sukarno dan Suharto. Presiden pertama adalah Sukarno, kedua Sukarno, presiden ketujuh Subiyanto. Perlu diingat itu”.

Saya lalu buka-buka di google, berusaha mencari tahu nama-nama presiden RI ke-1 sampai ke-6. Akhirnya saya ketemu juga. Presiden pertama, Ir. Sukarno. Presiden kedua, Suharto (menjalani 5 periode). Presiden ketiga, Prof. Dr. BJ. Habibie. Presiden keempat, KH. Abdurrahman Wahid. Presiden kelima, Megawati Sukarnoputri. Preside keenam, Susilo Bambang Yudoyono. Presiden ketujuh masih kita nanti.

Mencengangkan sekali jika menemukan presiden ketiga hingga kelima tidak ada unsur “su”. Lantas saya harus bertanya, apakah dengan demikian BJ. Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati tidak pantas menjalani takdirnya menjadi presiden RI?

Untunglah, otak saya tidak perlu lebih keras lagi dalam bekerja. Ternyata di alinea terakhir reportase itu saya membaca  kalimat pamungkas di dalam berita tersebut  bunyinya begini:

“Jokowi dengan saya, masih tuaan saya. Yang punya Solo seharusnya saya,” kata KGPHPA Tedjowulan. disini

Olala, saya kira ini ramalan, eh ternyata cuman kalimat dukungan  !

Saya lihat dukungan ini terlahir dari sejarah permusuhan. Musuh dari musuh saya adalah kawan saya. Kira-kira begitulah maknanya yang saya baca.

Lebih leganya lagi,   saya kembali semangat untuk mencalonkan diri menjadi presiden RI  meskipun nama saya tidak membunyai unsur “su” lagi !

Selamat malam.

Rembang, 6 Juni 2014.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...