21 June 2018

Stop Ambisi Kalap Infrastruktur

Oleh: Moh. Nizar Zahro*

Kembali lagi terjadi kecelakaan pada proyek infrastruktur yang sedang digarap pemerintahan Jokowi. Teranyar, kecelakaan terjadi pada tiang grider Tol Becakayu yang ambruk pada Selasa dini hari tadi (20/2/2018). Dilaporkan ada 7 orang pekerja yang menjadi korban. Ketujuh korban tersebut saat ini dalam keadaan kritis di RS UKI Jakarta Timur.

Bukan kali ini saja terjadi kecelakaan pada proyek infrastruktur. Ini sudah yang kesekian kalinya dari rentetan kecelakaan yang pernah terjadi. Dan setiap kecelakaan selalu saja para pekerja rendahan yang menjadi korban.

Dalam bulan ini saja sudah banyak terjadi kecelakaan. Pertama, ambruknya tiang pancang Tol Becakayu, terjadi pada 20/2/2018 yang mengakibatkan 7 pekerja kritis. Kedua, ambruknya dinding di Perimeter Bandara Soekarno Hatta sesaat setelah dilewati Kereta Bandara, terjadi pada 5/2/2018 dan mengakibatkan 1 orang pelintas tewas dan 1 orang kritis. Dan ketiga, jatuhnya crane pada proyek double-double track di Jatinegara Jakarta Timur pada 4/2/2018 yang mengakibatkan 4 pekerja tewas.

Sedari awal sudah banyak pihak yang mengkritik pengerjaan proyek yang dilakukan secara kalap. Tenaga rakyat kecil dipacu untuk memenuhi ambisi presiden. Proyek dikebut siang dan malam untuk mengejar acara “peresmian” yang akan oleh presiden.

Porsi kerja yang di luar kemampuan manusia menjadikan proyek terkesan dikerjakan asal-asalan. Maka tidak heran jika satu-per satu mulai bermunculan kecelakaan.

Tersedih lagi meskipun sudah berkali-kali jatuh korban, namun tidak ada evaluasi yang dilakukan. Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu sebuah ungkapan yang menggambarkan betapa pemerintah tidak memperdulikan hujan kritik dari masyarakat. Dan proyek-proyek pun terus dikerjakan dengan tidak mengindahkan keselamatan pekerja dan masyarakat yang melintas.

Pengerjaan proyek yang sarat dengan kecelakaan menjadikan proyek infrstruktur tak ubahnya proyek Kerja Rodi di zaman kolonial Belanda atau Romusha di era penjajahan Jepang.

Nyawa rakyat sama-sama dihargai dengan murah karena yang terpenting proyek harus selesai sesusai target. Di era kolonial, bila ada pekerja yang lambat maka akan dihukum cambuk. Sementara di era sekarang, pekerja yang terkesan lambat bisa terancam dipecat.

Kerja di bawah tekanan super berat itulah yang menjadikan pekerja kehilangan kemampuan terbaiknya sehingga menghasilkan proyek infrastruktur berlabel asal jadi.

Bagi para pekerja yang sedang menggarap proyek diharapkan kewaspadaannya, jangan sampai menjadi korban yang berikutnya. Para masyarakat yang melintas atau sedang mamakai proyek infrastruktur juga harus hati-hati. Dan pemerintah sebagai penanggung jawab proyek, bukalah hati nurani Anda, sudah banyak korban berjatuhan. Hentikanlah ambisi yang kalap tersebut.

*Ketua Umum SATRIA GERINDRA

Category: 

Berita Terkait

Loading...