19 August 2019

Saat Mati Listrik Bikin Mati Rasa

Oleh : Henyk Nur Widaryanti
Dosen Swasta

 

Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka." (HR Ibnu Asakir, Abu Nu’aim).

Begitulah seorang pemimpin. Ia akan senantiasa melayani rakyat. Hingga memastikan seluruh rakyatnya dalam komdisi aman, kenyang dan nyaman. Barulah ia bisa istirahat tenang.

Namun, sisi gelap seorang pemimpin itu datang ketika ia tak mampu menjadi pelayan bagi rakyatnya. Dilansir oleh Viva.com pada Minggu, 4/8/19 sebagian pulau jawa menjadi gelap gulita. Bukan makna yang sesungguhnya, tapi listrik tiba-tiba padm selama berjam-jam. Terutama wilayah Banten, Jawa Barat dan Jakarta menjadi korbannya.

Listrik pergi rakyatpun rugi

Kematian arus listrik secara tiba-tiba menyebabkan rakyat rugi. Bagaimana tidak? Selama ini listrik digunakan untuk menopang perekonomian rakyat. Segala usaha, transportasi, pabrik, lampu lalu lintas, perkantoran seluruhnya memakai pelayanan listrik. Ketika listrik terputus, seluruh kegiatan pun akan beku. Bahkan malam pun menjadi gelap gulita.

Atas kerugian yang dialami rakyat, PLN akan memberikan kompensasi sekitar Rp 1 Triliun. Dana ini dirasa cukup untuk mengganti kerugian rakyat saat listrik padam.

Kini Perusahaan Listrik Negara (PLN) dituntut ganti rugi atas peristiwa 4/8 yang lalu. Pihak Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Indonesia (LKBHI) telah melayangkan gugatan ganti rugi ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Besarnya berkisar Rp 40 Triliun. (Kompas.com,10/08/19)

Keteledoran yang dipelihara

Setelah mendalami penyebab kasus ini, ditemukan bukti yang menggelitik pikiran. Pasalnya, penyelidikan awal mengungkap bahwa terduga penyebab listrik padam adalah pohon sengon. Pohon ini tumbuh di dekat sutet. Dengan pertumbuhannya yang tidak dikontrol akhirnya menyebabkan aliran listrik terganggu.

Menurut hasil investigasi, sengon memiliki ketinggian yang melebihi batas ruang bebas atau Right of Way (ROW) dengan jaringan listrik di kawasan tower transmisi, Desa Malom, Gunung Pati, Semarang, Jawa Tengah. Sengon tumbuh mencapai lebih dari 8,5 meter.

Peristiwa ini tidak akan terjadi apabila pihak pemeliharaan dari PLN senantiasa mengontrol kondisi lapangan. Jika alasan terhambat dengan Peraturan Menteri (Permen) ESDM terkait pemotongan pohon. Maka untuk mengantisipasi seharusnya sudah dikoordinasikan. Apalagi keduanya adalah badan pelayan umat. Seyogiyanya dapat meminimalisir kondisi seperti saat ini. Ini adalah bentuk keteledoran pelayanan (negara) yang merugikan masyarakat.

Menyerahkan Pekerjaan pada Ahlinya

Pemberian amanat pelayanan rakyat sebaiknya diberikan kepada ahlinya. Sebagaimana masalah listrik, diberikan pada teknik kelistrikan. Dan masalah pengolahan Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) juga diberikan kepada ahlinya.

Hal ini perlu dilakukan agar para ahli mampu merumuskan  Standar Operasional (SOP) yang benar. Mereka mampu menentukan kebijakan sesuai dengan teknis lapangan. Selain itu mampu menganalisa kemungkinan yang terjadi jika ada persoalan mendatang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR. Bukhari)

Jika setiap urusan diberikan kepada ahlinya. Segala bentuk permasalahan dapat diantisipasi. Seluruh badan pelayanan rakyat akan memiliki plan A dan plan B. Sehingga kejadian seperti ini bisa diminimalisir atau terdeteksi sebelum waktunya.

Mengembalikan Peran Pelayan Umat

Ketika para pelayan umat menyadari tugas mereka. Maka, mereka akan berusaha maksimal untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Para pelayan umat bukanlah orang yang rela menjual Energi Sumber Daya Alam (ESDA) negerinya demi perut sendiri. Mereka adalah pemimpin yang rela mengorbankan harta, pikiran, tenaga dan waktu untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Bukan pemimpin yang mati rasa atas penderitaan rakyat.

Sebagaimana sahabat Umar Bin Khatab, seorang khalifah ke-2 kaum muslimin. Beliau membagi waktu menjadi tiga bagian. Pertama untuk keluarga, kedua Allah, ketiga untuk rakyatnya. Setiap malam setelah beliau bermunajat kepada Allah, keliling untuk mengetahui kondisi rakyatnya. Memastikan setiap rakyat dapat tidur tenang.

Hingga beliau mendapati rakyatnya masih ada yang kelaparan, ada yang gelisan karena suaminya menjalankan tugas negara belum pulang. Dengan sigap beliau menyelesaikan masalah itu. Bahkan beliau ikhlas memikul sendiri bahan  makanan untuk rakyatnya yang kelaparan. Semua itu beliau lakukan hanya karena dorongan Iman. Memahami bagaimana kewajiban beliau sebagai pelayan umat. Dan akan diminta pertanggungjawaban.

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya”.(HR. Bukhari Muslim).

Wallahu a'lam bishowab.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...