12 December 2017

Membenahi Pengelolaan Sumber Daya Air di Indonesia

Judul : Blue Gold, Emas Biru Sumber Nyawa Kehidupan
Penulis : Dr Gunawan Jusuf MSc
Penerbit : PT Berita Nusantara
Cetakan : November 2015
Tebal : xv + 176 halaman
ISBN : 978-602-73025-0-1

Meski termasuk bacaan serius, buku Blue Gold, Emas Biru Sumber Nyawa Kehidupan terasa mudah dipahami karena disajikan mengalir dalam bahasa yang enak dan komunikatif. Mereka yang tidak berpengetahuan tentang sumber daya air pun mudah memahaminya. Bacaan ini berhasil memaparkan secara ringkas dan sederhana persoalan yang melingkupi aneka masalah dalam pengelolaan sumber daya air di Indonesia.

Pandangan yang menempatkan air sebagai “harta terpendam” dan menyebutnya dengan blue gold, merupakan suatu bentuk penegasan bahwa air merupakan sumber daya yang sangat berharga. Air lebih penting dari logam mulia ataupun minyak bumi karena tidak akan ada kehidupan, tanpa air (hlm 5).Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa air masih menjadi masalah. Persoalan sumber daya air di Indonesia tidak hanya berupa kekurangan, tetapi juga kelebihan air dalam bentuk banjir yang terjadi hampir setiap tahun di banyak tempat. Salah satu kota yang sangat menderita karena banjir adalah Jakarta (hlm 33-34).

Tidak jarang, di Jakarta, air bersih dalam jeriken dijajakan di permukiman dekat sungai. Sangat ironis bahwa air bersih untuk minum harus diambil dan dijajakan di dekat sampah yang menggunung di bantaran sungai (35-36).

Masalah serius saat ini, pengelolaan sumber daya air tidak memiliki aturan yang memadai. Pada 2 November 2013 Pengurus Pusat Muhammadiyah dan beberapa tokoh masyarakat mengajukan judicial review UU No 7 Tahun 2014 tentang Sumber Daya Air ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Atas gugatan yang dilayangkan, MK pada 18 Februari 2015 mengeluarkan putusan, UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air bertentangan dengan UUD 1945. UU No 7 tidak memiliki kekuatan hukum mengikat (hlm 90).

Efek paling besar pembatalan UU No 7 Tahun 2004, tidak adanya aturan pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan sumber daya air dalam waktu dekat karena semua aturan pelaksanaan yang berdasarkan UU No 7 Tahun 2004 ini juga dibatalkan (hlm 90).

Menyadari kondisi tersebut dan masih banyaknya masalah dalam pengelolaan sumber daya air, pembenahan pengelolaannya sudah tidak bisa ditunda lagi. Pengelolaan air secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan sudah menjadi keharusan.

Untuk itu, semua pihak harus dapat memanfaatkan air secara efektif dan efisien. Para petani, pengusaha perkebunan, serta masyarakat umum harus bisa mengelola air yang mereka gunakan dengan baik. Terlebih bagi mereka yang mengelola perkebunan, khususnya tebu di lahan-lahan yang ketersediaan airnya tidak bisa menggantungkan pada saluran irigasi.

Para pelaku perkebunan tebu, ketersediaan air untuk irigasi seyogianya diupayakan sendiri. Untuk perkebunan tebu lahan kering, prasarana irigasi sangatlah mahal. Pengadaan air dilakukan melalui penampungan air hujan dengan membangun embung dan memelihara lebung alami sampai pada penyemprotan air ke tanaman menggunakan peralatan mekanis yang sangat mahal (hlm 166).

Semua harus dilakukan karena para pelaku perkebunan tebu sangat sadar bahwa mati hidupnya perkebunan tebu lahan kering sangat tergantung dari tersedianya irigasi. Mengingat bahwa pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur dalam pengelolaan sumber daya air termasuk wadah-wadah air alami yang terdapat di lahan perkebunan ini mahal sekali, sangat penting diberikan insentif bagi para pihak yang berupaya mengonservasi secara masif (hlm 166).

Insentif tidak mesti uang, dapat berbentuk penghargaan. Sangat disayangkan perundang-undangan belum memuat kebijakan pemberian insentif dan disinsentif ini (166-167).

Buku berisi tujuh bab ini patut dibaca karena banyak informasi baru. Dengan memahami buku ini diharapkan tumbuh semangat untuk menghemat air dalam kehidupan sehari-hari.

Buku Blue Gold, Emas Biru Sumber Nyawa Kehidupan cukup menarik untuk dibaca. Dengan dilengkapi 13 tabel dan 94 gambar, membuat pembaca tidak akan terlalu jenuh. Tabel dan gambar membuat pembaca merasa “ringan” saat membaca.(Juft/Korja)

Sumber: Koran Jakarta

Tags: 
Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...