Living In Cyber World: Dunia Tanpa Komando dan Pemimpin

Oleh: Iramawati Oemar

Apa yang terjadi jika suatu pasukan tempur kehilangan komandannya? Ambillah contoh Brigadir Jendral Mallaby, komandan pasukan sekutu yang dikirim Inggris ke Indonesia pada Oktober 1945, yang kemudian mati di tangan arek-arek Suroboyo. Betapapun dahsyatnya peralatan tempur NICA, tetap saja pasukan dapat dikalahkan oleh arek-arek Suroboyo pimpinan Bung Tomo. Mereka kalah karena komandannya sudah mati duluan. Zonder komandan jendral di lapangan, 6000-an pasukan plus artileri tempur berat menjadi tak ada artinya.

Itulah yang terjadi dalam kehidupan nyata, yang mengenal struktur yang rigid dan garis komando yang jelas. Itu sebabnya ketika suatu organisasi kehilangan pemimpinnya, maka organisasi tersebut akan segera berkumpul untuk melakukan penggantian pemimpin. Semisal suatu parpol pucuk pimpinannya ditangkap KPK, maka majelis tertinggi partai akan bersidang/rapat, menentukan siapa penggantinya. Tidak boleh ada kekosongan kepemimpinan, sebab tak ada orang yang bisa menandatangani dokumen penting atas nama organisasi.

Berbeda dengan dunia maya yang tak membutuhkan alamat nyata, cukup alamat email, yang tidak butuh tanda tangan dan stempel, cukup dengan verifikasi password dan captcha. Maka di dunia maya tak ada yang bisa mengklaim dirinya adalah pemimpin dari suatu kelompok warga net. Kehidupan warga net (nettizen) tidak dibatasi teritori RT, RW, kelurahan, kecamatan, dll. Bahkan tidak juga ada batasan antar negara.
Donald Trump boleh saja mengancam semua negara yang melawan kehendak Amerika di PBB. Namun, nettizen dari berbagai penjuru dunia juga bisa ikut membully Trump lewat akun twitter resminya.

Itu sebabnya cyberworld disebut juga borderless world.
Setidaknya ada 2 keniscayaan di dunia saiber, pertama : ketiadaan batas teritori, kedua : ketiadaan pemimpin struktural karena setiap warga net adalah entitas bebas.

Maka sangat ironis jika belakangan ini negara kita dihebohkan penangkapan sejumlah orang yang disebut PEMIMPIN kelompok MCA, Muslim Cyber Army. Hanya karena mereka yang ditangkap konon katanya adalah admin grup WA. WhatsApp adalah aplikasi layanan perpesanan (messenger) yang menyediakan fasilitas grup chating. Seorang pengguna WA bisa saja tergabung dalam puluhan bahkan ratusan grup.

Agak lucu sebenarnya, jika "admin" dikategorikan sebagai "pemimpin". Dalam sebuah grup WA, admin bisa ada beberapa orang. Bahkan ada satu grup WA yang saya ikuti, semua membernya dijadikan admin dengan tujuan agar semua bisa memasukkan anggota baru, karena grup itu adalah grup alumni yang sedang mencari keberadaan teman-teman lama.

Itulah uniknya dunia maya, sebutan untuk pengelola sebuah grup adalah "admin", artinya tugasnya hanya melakukan administrasi, pengelolaan grup saja. BUKAN MEMIMPIN! 
Di media sosial facebook, ada ribuan grup FB. Grup yang mencantumkan nama dan/atau logo MCA, jumlahnya bisa berpuluh-puluh. Adminnya tentu berbeda-beda, karena siapapun bisa menginisiasi sebuah grup dan memasukkan kawan-kawannya menjadi anggota grup. Bahkan ada grup yang membernya bisa bergabung tanpa harus menunggu verifikasi/approval dari admin.

Nah, jika baru 1 saja grup WA yang namanya mencantumkan 3 huruf M, C dan A yang adminnya ditangkap, apakah bisa disebut "pimpinan MCA telah tertangkap"?! Padahal bisa saja ada puluhan grup WA dengan embel-embel nama MCA, ada puluhan grup FB juga dengan nama dan logo MCA yang berbeda-beda. Dimana setiap grup bisa punya admin 2 orang bahkan lebih. Maka, siapakah yang paling layak disebut pemimpin dari para admin ini?!

Maka, memaksakan logika bahwa pemimpin MCA sudah ditangkap sejatinya adalah pengulangan cerita yang sama dengan kabar ditangkapnya gembong Saracen tahun lalu.

* * *

Dalam konferensi pers resmi yang digelar kepolisian dan dihadiri banyak sekali wartawan dari berbagai media massa, disiarkan oleh sebuah stasiun televisi semalam, saya mendengar seorang wartawan bertanya kurang lebih begini : "Jika sudah diketahui (gerakan) ini motifnya ekonomi, kenapa tidak diungkap saja dalangnya? Apa susahnya dan apa kendalanya untuk mengungkap SIAPA YANG MEMBIAYAI gerakan ini? Dulu ada Saracen, katanya juga sindikat penyebar hoax yang dibayar, ada pemesannya. Lalu sekarang MCA. Jika pemesannya tidak ditangkap, siapa yang mendanai tidak diungkap, nanti akan terus terulang, ada lagi kelompok apa lagi yang seperti ini. Bukankah ini sama dengan (kalau dimisalkan narkoba) hanya menangkap kurir-kurirnya saja sementara bandarnya tidak ditangkap?!".

Sebuah pertanyaan yang CERDAS dan sangat LOGIS. Jika benar ada suatu kelompok yang terorganisir, pekerjaannya memproduksi hoax, bekerja atas dasar pesanan dan berbayar, tentu yang lebih berbahaya adalah yang memesan, pihak yang membayar. Tinggal tangkap saja si pemesan, maka akan terhentilah seluruh sumber pendanaan. Dan praktis semua aktivitas akan lumpuh, berhenti total. As simple as like that!

Benar kata si wartawan itu, tak ada guna menangkapi kurir jika bandarnya tak disentuh.
Apalah artinya menangkap pengedar beberapa gram sabu yang beroperasi di sejumlah diskotik, jika pemasok berton-ton alias berjuta-juta gram sabu tidak bisa diungkap?! Apalah gunanya mengekspose segelintir artis pemakai narkoba, jika importir jutaan gram narkoba sama sekali tidak diungkap?!

Masalahnya..., benarkah Saracen, MCA atau apapun kelompok yang konon pimpinannya sudah ditangkap itu, memang benar pola kerjanya atas dasar pesanan, terorganisir, memiliki organ terstruktur, punya garis komando dan berbayar?!

* * *

CNN mengunggah sebuah berita onlen pada Jumat, 2 Maret 2018 dengan judul “Muslim Cyber Army, Bujuk Rayu Jihad dan Cari Duit dari Medsos”. Sebuah tulisan yang sangat tendensius dan memsimplifikasi MCA sebagai sekumpulan orang yang diiming-imingi gerakan jihad di media sosial yang juga bisa menghasilkan uang. Lalu, salah satu dari mereka yang berprofesi sebagai dosen mengaku sudah 5 tahun bergabung dengan MCA. It means, MCA sudah ada sejak awal 2013???!!
Ini dagelan paling konyol. Tak harus jadi orang cerdas untuk mencerna ini sebuah kebohongan.

Sejak kapan sih istilah MCA dikenal warganet? Seingat saya sejak heboh berita kasus penistaan agama oleh gubernur DKI (saat itu), terkait ujaran soal Surat Al Maidah ayat 51 di pulau Pramuka. 
Sejak itu, perang opini antar warganet makin seru. Ada kelompok yang memberitakan demo ummat Islam dari sisi negatifnya saja. Media mainstream juga seakan enggan memberitakan faktanya. Akhirnya, atas inisiatif sendiri, setiap peserta demo Aksi Bela Islam di berbagai kota saat itu, mengabarkan kondisi riil suasana demo yang ramai diikuti ribuan ummat Islam di masing-masing kota. Kemudian, secara berantai foto-foto itu disebar melalui grup WA dan diunggah di akun media sosial masing-masing.

Ketika Aksi Bela Islam di berbagai kota terus dikecilkan, muncullah ide memfokuskan Aksi Bela Islam II di Jakarta, dengan titik kumpul Istiqlal. Para buzzer pendukung sang gubernur pun terus mengecilkan rencana aksi ini. Media mainstream masih enggan meliput. Maka, sekali lagi warganet yang mendukung Aksi tersebut, berlomba-lomba mengabarkan situasi terkini Masjid Istiqlal, sejak H-3 sebelum puncak ABI II. 

Perang opini di media sosial terus berlanjut. Seorang buzzer kawakan dengan banyak follower mengunggah foto suasana Istiqlal yang sepi, subuh hari tepat di hari akan dilaksanakannya Aksi 411. Hanya ada segelintir orang yang duduk lesehan dan sebagian tiduran. Warganet pun tak mau kalah, mereka memposting foto-foto bagaimana kendaraan yang akan mendropping logistik makanan harus antri panjang untuk bisa masuk Istiqlal. Dan tak dinyana..., usai sholat Jum’at, ketika massa mulai bergerak berjalan kaki menuju istana, seluruh bundaran HI tertutup lautan manusia. Belum lagi yang memanjang di keempat sisi jalan. Diperkirakan 2,5 juta orang memenuhi jalanan. Saat itulah buzzer terpukul, media massa mainstream terbelalak, tak menyangka lautan manusia akan sebanyak itu. Barulah orang mulai berpaling : ternyata kekuatan berita informal dari status yang diunggah warganet lebih layak dipercaya. Keberhasilan Aksi 411 (4 November 2016) itu kemudian memunculkan istilah kekuatan Moslems Cyber Army.

Lewat tangan-tangan warganet itu pulalah Aksi 212 yang lebih fenomenal bisa terselenggara. Aksi jalan kaki longmarch rombongan santri asal Ciamis terus diberitakan dari waktu ke waktu oleh warganet. Pun juga insiden penghadangan terhadap beberapa rombongan dari berbagai daerah. Sehingga mereka bisa saling menguatkan. Alhasil, Aksi 212 pun lebih mengejutkan karena jumlah massa yang terkumpul sekitar 3x lipat massa Aksi 411. Sejak itu, kekuatan tangan-tangan warganet yang disebut Moslems Cyber Army tak lagi bisa diremehkan. Ketika Sari Roti dengan agak arogan menyatakan mereka tidak mendukung Aksi 212, ajakan boikot Sari Roti pun langsung bergema dan dalam hitungan hari omzet penjualan Sari Roti merosot, yang dipajang di rak-rak di supermarket menumpuk.

* * *

MCA jelas tanpa proses rekrutmen, tanpa proses pendaftaran, tanpa seleksi dan yang jelas tanpa bayaran. Bisa dikatakan ujung tombak MCA justru di tangan kelompok Emak-Emak berdaster yang makin galak karena APBRT-nya (Anggaran Pendapatan dan Belanja Rumah Tangga) terganggu. Emak-Emak inilah barisan para Menteri Keuangan tanpa predikat terbaik sedunia, namun mereka lebih prudent me-manage isi dompetnya di saat kondisi ekonomi makin sulit. Ketika pendapatan suami tak juga meningkat, sementara rekening listrik terus membengkak dan jatah beli bensin untuk mobil dan motor juga merangkak naik, Emak-Emak ini harus putar otak agar tak mudah berhutang sana-sini yang akan makin membebani “cash flow” bulan depan. Emak-emak itu mungkin tak lulus mata kuliah ekonomi makro, tapi mereka lebih paham apa itu makna dari “turunnya daya beli” tanpa banyak bertanya parameter aneh yang ada di kamus para ekonom. Bagi Emak-Emak, ketika selembar 50 ribuan yang dibawa ke pasar dulu cukup untuk berbelanja daging ayam seekor, kini dengan lembaran yang sama mereka harus beli setengah ekor karena harga cabe dan bawang putih juga naik, cukup bagi mereka untuk tahu “daya beli memang turun”.

Emak-Emak berdaster yang dulu hanya cerita soal sinetron dan telenovela, kini mulai belajar “ngompol” alias ngomong politik. Sebab mereka tahu, harga garam dan beras pun dipengaruhi oleh keputusan politik. Ketika garam dan beras harus impor, apa daya dompet Emak-Emak akan makin tergerus, jatah jajan anak-anak berkurang. Ketika subsidi energi terus dipangkas karena keputusan politik, maka itu artinya token listrik dengan harga sama akan lebih cepat habis, beli bensin akan lebih mahal, gas elpiji akan makin langka dan harus antri.

Emak-Emak pula yang secara sukarela bertestimoni soal harga beras Maknyuuss ketika produsen beras itu “didzholimi” dengan tuduhan merugikan negara puluhan triliun.

Mungkin sebagian Emak-Emak itu kemudian menyematkan foto karikatur logo MCA atau BEM (Barisan Emak Militan), tak lebih dari sekedar semangat bahwa dirinya kini jadi bagian yang ikut peduli masalah sosial dan politik negeri ini. Bukan untuk jadi caleg, bukan karena mau jadi calon bupati, walikota, gubernur. Tapi karena mereka peduli masa depan bangsa dan negeri ini demi anak-anak mereka. Di tengah keterbatasan dan kegaptekan mereka, ponsel android cukup membantu. Soal paket internet, mereka bisa beli dari sisa uang belanja. Banyak provider yang menawarkan paket kuota promo. Maka tak jarang Emak-Emak suka beli paket murah meriah sekali pakai, nomornya ganti baru, cari provider lain yang sedang promo.

Nah, apakah yang semacam itu akan mengguncang negeri ini?!

Katakanlah ada 1-2 Emak-Emak yang terlalu bernafsu membagikan berita tanpa cek dan ricek atau terjebak meneruskan postingan yang ternyata hoax, ya itu adalah sebuah kekhilafan, kekeliruan. Namun melabeli Emak-Emak dan kawanannya sebagai sindikat produsen hoax yang berbayar, rasanya kok terlalu berlebihan.

Mungkin akan lebih baik jika semua menoleh kembali ke belakang, kenapa muncul MCA. Tidak perlu sampai 5 tahun lalu, sebab MCA baru ada jelang akhir tahun 2016. Belum ada 1,5 tahun lalu. Yang sudah lebih dari 5 tahun itu justru JASMEV. Coba saja ditelusuri jejaknya lewat arsip Mbah Google.

Percayalah...,
Meski ada puluhan orang lain yang akan ditangkap dan dinisbatkan sebagai pemimpin MCA, Saracen, atau apapun nanti nama-nama yang dimunculkan, gerakan mengkritisi situasi dan kondisi negeri ini tak akan berhenti. Lihat saja, sudah berapa akun dengan puluhan ribu bahkan ratusan ribu follower yang ditutup, toh tak menyurutkan warganet menyuarakan kegelisahan mereka.

Masih ingat ketika akun FB dan IG resmi Presiden dibully ratusan ribu komentar pasca insiden Paspampres yang dikabarkan mencegah Anies Baswedan turun ke lapangan saat penyerahan piala Presiden? Siapa yang menggerakkan ratusan ribu akun itu terus berkomentar selama berhari-hari? Dibayarkah mereka? Lalu kemana para buzzer dan lovers yang selama ini memuja-muji Presiden? Kenapa mereka membiarkan saja akun resmi Presiden dibully? Tidakkah mereka tergerak membela?

Kalau mau, mungkin aparat berwenang bisa memulai dari situ : mencari siapa dalang penggerak ratusan ribu akun pembully/komentator di akun resmi Presiden. Cari siapa yang mendanai. Itu hanya contoh paling simple, betapa gerakan warganet adalah murni gerakan tanpa komando dan tak ada yang memimpin. 
Ibarat hukum alam sebuah kran air yang coba disumbat, maka alirannya akan muncrat kemana-mana.

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA