Ketika Akidah Bercabang

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Muslimah Penulis Sidoarjo

Beredar video yang menayangkan ucapan selamat dari Mentri Agama, Fakhrurrozi untuk umat Kristiani yang sedang merayakan Kenaikan Isa Al Masih. Dan ini menjadi semacam tradisi, Menag sebelumnya pun, seperti Lukman Hakim, secara rutin mengucapkan selamat di setiap perayaan hari besar agama selain Islam.

Menteri agama FakhurRozi sendiri menegaskan bahwa dirinya bukanlah menteri yang hanya mengurusi agama Islam saja. Sebab ada lima agama yang diakui di Indonesia. "Saya kan bukan menteri agama Islam, saya menteri agama Republik Indonesia yang di dalamnya ada lima agama," kata Fachrul seusai dilantik di Istana Negara, Jakarta(CNN Indonesia, 29/10/2019).

Secara akidah, pendapat menag sangat tidak bisa diterima, sebab ia Muslim. Bagaimanapun keadaannya ia tetap punya kewajiban menunjukkan identitas muslimnya yang selalu menyandarkan perbuatannya pada hukum syara. Terlebih, akidahnya juga memastikan bahwa setiap pengingkaran atas apa yang diperintah dan dilarang oleh Allah adalah perbuatan orang-orang kafir.

Sebagai menteri agama, tentu ia punya kapabilitas keagamaan yang mumpuni, sebab ia garda terdepan penjaga umat. Maka pantang baginya mengucapkan ucapan selamat kepada agama lain, hanya dengan alasan menjunjung tinggi kerukunan umat. Jelas yang ditampakkan rezim adalah wajah sekularisme,

Menteri semua agama ini, selama pandemi tak muncul untuk edukasi atau penguatan akidah umat. Malah kini mengucapkan selamat kepada agama lain. Padahal, imunitas bisa pula didapat dari kepercayaan umat kepada penguasanya, bahwa penguasa tak akan membiarkan mereka kelaparan, menderita bahkan tergesernya akidah.

Pemimpin dalam Islam adalah negarawan sejati. Mereka Lebih takut terlalu lama tak beranjak kakinya di dalam pengadilan akhirat daripada di dunia dianggap pilih kasih terhadap agama lain. Dan menjaga kerukunan beragama tidak harus dengan cara memberi ucapan selamat. Islam adalah agama paling toleran. Itu tercermin dari surat Al -Kafiruun : 1-6 yang di ayat terakhir menegaskan" Bagiku agamaku dan bagimu agamamu".

Maka, tak perlu lagi menunjukkan betapa tolerannya Islam. Jika semua ayat dalam Alquran diterapkan dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat hingga bernegara insyaallah yang didapat adalah rahmatan Lil Aalamin, alias penuh Rahmat bagi siapa saja. Baik Muslim maupun non Muslim. Baik manusia, hewan dan tumbuhan. Sebab Islam berasal dari Wahyu Allah, Sang Pencipta langit dan bumi.

Hari ini hal yang demikian sulit diwujudkan, sebab, sekulerisme yang menjiwai sistem politik dan ekonominya benar-benar meniadakan peran Tuhan di dalam setiap kebijakannya. Akidah hanya berada di ranah individu, urusan pribadi. Sementara ketika bermasyarakat buang jauh agama.  Selama pandemi berlangsung, wajar jika menteri agama tak terlalu turut campur, sebab di negara ini agama Islam hanya simbol. Wallahu a' lam bish showab.

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA