26 January 2020

Kesalahan Mendasar Kapitalisme

Oleh: Dina Wachid

Kondisi perekonomian global semakin memburuk. Pertumbuhan ekonomi yang terus melambat. perang dagang antara AS dan China yang tak kunjung reda, hingga ketidakpastian geopolitik yang memicu dampak lainnya. International Monetary Fund (IMF) resmi memangkas target pertumbuhan ekonomi dunia 2019 menjadi 3 persen dari sebelumnya 3,2 persen. Pemangkasan ini menjadi yang keempat kalinya IMF merevisi target sepanjang tahun ini. IMF juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2020, dari 3,5 persen menjadi 3,4 persen. Ihwal revisi yang berkali-kali itu lantaran belum meredanya perang dagang antara AS dan Cina, sehingga berdampak terhadap geliat ekonomi global. (tirto.id/21/10/2019)

Salah satu imbas dari melemahnya ekonomi global dan perang dagang adalah adanya gelombang phk massal yang terjadi dimana-mana. Perusahaan-perusahaan besar bahkan tak luput dari ketidakpastian ekonomi global. Bank Eropa terbesar HSBC dilaporkan akan merumahkan 10.000 pegawainya. Perusahaan produsen komputer HP juga menyatakan bakal memangkas 16 persen dari jumlah pegawainya. Ini merupakan bagian dari upaya restrukturisasi yang dilakukan HP guna menghemat biaya. Dikutip dari Reuters, Sabtu (5/10/2019), HP akan melakukan pemutusan hubungan kerja ( PHK) terhadap 7.000 hingga 9.000 pegawai melalui kombinasi antara pegawai keluar dan pensiun dini secara sukarela. (Kompas.com - 05/10/2019).

Kondisi yang semakin tidak menentu seperti ini diprediksi akan terus berlangsung, bahkan bisa jadi lebih memburuk. Para pengamat ekonomi menyatakan tahun 2020 diperkirakan akan terjadi krisis ekonomi. Krisis ekonomi ini bukan sekali terjadi, tetapi sudah menjadi siklus 10 tahunan dalam sistem ekonomi kapitalis. Inilah sekelumit masalah dalam sistem ekonomi kapitalisme. Tetapi kenapa masih saja dipertahankan?

Kapitalisme; Kesalahan Dari Akar Dan Konsekuensinya

Berbagai masalah yang terjadi dalam sistem ekonomi kapitalis tak bisa dilepaskan dari kegagalan dalam memahami akar masalah dalam ekonomi. Kegagalan dalam mendiagnosis masalah ekonomi tak bisa dipisahkan dari asas yang mendasari sistem ini. Kapitalisme tegak atas dasar pemisahan agama dengan kehidupan (sekulerisme). Ide ini menjadi aqidahnya (sebagai asas), sekaligus menjadi qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir) dan qaidah fikriyah (kaidah berpikir).

Maka dengan kaidah berpikir seperti ini, mereka berpendapat bahwa manusia berhak membuat aturan sendiri dalam kehidupannya. Mereka mempertahankan kebebasan manusia yang terdiri dari kebebasan berakidah, kebebasan berpendapat, hak milik dan kebebasan pribadi. Dari kebebasan hak milik inilah lahir sistem ekonomi kapitalis.

Dalam sistem ekonomi kapitalisme, kepemilikan diatur atas dasar modal. Inilah yang menajdi dasar sistem ekonomi ini, dimana kebebasan kepemilikan memberi ruang seluas-luasnya bagi individu untuk memiliki apapun dan menguasai kekayaan apapun, dengan cara apapun. Sehingga yang menjadi tolok ukur perbuatan adalah manfaat. Tidak ada prinsip benar dan salah. Semua sah asal ada manfaatnya. Prinsip ala Machiavelli dengan menghalalkan segala macam cara untuk meraih tujuan menjadi ciri khas sistem ekonomi kapitalisme.

Dengan dasar yang seperti itu, maka tak mengherankan jika sistem kapitalisme menciptakan banyak masalah. Seperti ketimpangan ekonomi yang kian melebar, sulitnya lapangan pekerjaan dan phk massal, distribusi barang dan jasa yang tidak merata, penjarahan sumber daya alam oleh para korporat (dan asing/aseng), korupsi yang kian menggurita, hutang riba yang semakin menumpuk sampai pada masalah kerusakan lingkungan akibat dari keserakahan kapitalis.

Perang dagang antara AS dan China yang terjadi saat ini menunjukkan bagaimana para elit kapitalis dengan modal besar saling beradu, sementara masyarakat kecil dan lemah yang terkena imbasnya. Seperti hukum rimba dimana siapa yang terkuat dialah yang akan paling banyak menguasai sumber-sumber kekayaan yang ada. Sedangkan yang lemah akan termarginalkan dan tereksploitasi.

Semakin besar modal yang dimiliki, maka semakin besar pula aset yang dikuasai. Sehingga kemudian kekayaan akan menumpuk pada individu kaya dan atau korporasi besar. Akibatnya kesenjangan antara yang kaya dengan yang miskin semakin melebar.

Persoalan ketimpangan ekonomi selanjutnya akan berimbas pada ketimpangan kekuasaan. Ini berkaitan dengan siapa yang membuat aturan, siapa yang menguasai modal dan siapa yang bisa menantang status quo. Bukan rahasia lagi jika negeri ini banyak memiliki peraturan dan undang-undang yang lebih berpihak pada para pemilik modal ketimbang rakyat banyak. Penguasa sudah dikuasai oleh pengusaha dengan modal tak terbatas untuk melanggengkan posisinya. Akibatnya kebijakan yang diambil oleh penguasa cenderung berlawanan dengan kepentingan publik dan lebih pro kepada kapitalis.

Peran negara diminimalkan, kalau bisa dihilangkan sama sekali. Kekayaan alam yang merupakan milik umum harusnya dikelola negara untuk kepentingan rakyat banyak justru diserahkan kepada swasta, apalagi asing. Swastanisasi dan privatisasi kepemilikan umum sangat membahayakan kepentingan rakyat dan negara secara umum. Dengan dikuasainya milik publik oleh selain negara menyebabkan terjadinya monopoli oleh segelintir kapitalis. Akibatnya, hanya sebagian kecil individu (yang kaya modal) bisa merasakan manfaatnya, sementara sebagian besar rakyat justru tak kebagian. Selain itu masuknya asing dalam pengelolaan SDA membuka celah terongrongnya kedaulatan negara. Keamanan dalam negeri menjadi taruhannya.

Berbagai macam pajak dan iuran yang diterapkan oleh negara adalah bukti nyata minimnya peran negara sekaligus salah pengelolaan negara atas urusan rakyat. SDA yang harusnya hasilnya bisa dirasakan oleh rakyat dalam berbagai bentuk fasilitas pelayanan publik dan pemenuhan kebutuhan pokok, justru dinikmati oleh segelintir kapitalis dan asing. Imbasnya negara tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok rakyat banyak dengan alasan negara tidak punya uang. Atau jika ada dana, itupun dari hutang luar negeri dengan bunga yang sangat besar. Sementara hutang luar negeri itu menjadi pintu masuk penjajahan asing.

Dan untuk membayar hutang luar negeri dibebankan kepada rakyat melalui bermacam pajak. Pajak sendiri dijadikan sebagai sumber pendapatan utama negara, yang artinya APBN disokong oleh pajak rakyat. Sungguh malang nasib rakyat di alam kapitalisme ini, SDA melayang, hutang menggunung, pajak kian mencekik. Kondisi rakyat kian terhimpit.

Sulitnya lapangan pekerjaan dan kran impor yang dibuka luas juga menjadi masalah yang tak kunjung usai. Negara yang harusnya menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya justru membuka pintu masuk untuk tenaga kerja asing. Tenaga kerja lokal harus bersaing dengan asing untuk mengais rezeki di tanahnya sendiri. Begitu halnya dengan dibukanya kran impor, tidak sejalan dengan pemberdayaan produk lokal. Sebuah kontradiksi tatkala pemerintah mendorong produksi lokal untuk dikembangkan, tapi justru dihantam oleh membanjirnya barang-barang impor dengan berbagai fasilitas kemudahannya.

Perekonomian yang disokong dengan bunga bank (riba) tak bisa dihindarkan dalam sistem kapitalisme. Padahal riba (bunga bank) dan berkembangnya sektor non riil (bursa efek, pasar saham dan perangkat pendukungnya) seringkali menjadi penyebab ketidakstabilan ekonomi karena mengakibatkan keputusan investasi tidak terkait langsung dengan sektor riil, baik barang dan jasa. Sehingga pertumbuhan uang lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan sektor riil. Pertumbuhan jumlah uang yang melebihi pertumbuhan sector riil inilah yang menyebabkan terjadinya inflasi karena mengakibatkan daya beli uang terus menurun. Selain keharamannya yang jelas dalam pandangan Islam, riba sangat berbahaya dan merugikan rakyat banyak.

Karena itulah hidup sejahtera dan makmur dalam sistem kapitalisme adalah sebuah fatamorgana belaka. Sesuatu yang dibangun dengan dasar yang keliru akan menghasilkan produk yang keliru juga. Kesalahan dalam dasar pemikiran akan menyebabkan kesalahan merumuskan masalah yang selanjutnya berdampak pada kesalahan dalam mengaplikasikan solusi masalah tersebut.

Islam: Satu-satunya Sistem Yang Shahih

Tidak seperti kapitalisme yang merupakan buatan manusia, dimana sarat dengan kepentingan individu-individunya, hingga satu dengan yang lainnya saling bertentangan dan bertikai tanpa akhir. Sementara Islam adalah sebuah ideologi yang berlandaskan pada dasar pemikiran yang menyeluruh tentang kehidupan. Sebuah ideologi yang mampu menjawab secara tuntas tentang problematika mendasar umat manusia, yaitu darimana manusia berasal, untuk apa manusia hidup dan kemana manusia setelah kematian. Ini adalah tiga pertanyaan pokok bagi manusia, dan Islam mampu menjawabnya dengan jawaban yang memuaskan akal, sesuai fitrah dan menentramkan hati. Kenapa? Karena Islam berangkat dari wahyu Illahi, berasal dari Sang Pencipta. Adakah yang lebih paham manusia daripada Sang Pencipta manusia? Jawabnya sudah jelas.

Karena sejatinya tiga hal itulah yang menjadi pertanyaan atau masalah besar bagi manusia. jika manusia mampu menjawabnya dengan benar maka terjawablah seluruh pertanyaan cabang lainnya. Dari waktu ke waktu, dari masa ke masa tiga problematika dasar tersebut tidak pernah berubah. Yang berubah dan berkembang adalah zaman dengan pemasalahan cabangnya. Sedang jawaban mendasar sekaligus solusi hakikinya tetaplah sama, yaitu Islam.

Karena itulah, tidak ada solusi lain bagi permasalahan umat manusia selain kembali pada Islam. Kapitalisme buatan manusia jelas rusak dan merusak bagi kehidupan. Tak bisa dijadikan rujukan pemecahan masalah, apalagi mengantarkan pada kesejahteraan yang hakiki. Tidak ada harapan dalam kapitalisme. Selama sistem bobrok ini terus dilanggengkan, maka selama itu pula kerusakan demi kerusakan akan terus mengiringi kehidupan manusia. Hanya dengan penerapan syariat Islam kaffah seluruh problematika manusia bisa diselesaikan dengan tuntas. Karena Islam adalah aturan kehidupan yang bersumber dari Sang Pemilik Kehidupan, Allah SWT. Wallahu a'lam bish-shawab[]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...