10 April 2020

Infrastruktur, Citra yang Melantur

Oleh: Arsya Febian

Lagi-lagi umbar janji. Bangun jalan tol di sana-sini, sepertinya sudah jadi model kampanye, atau lebih pantas disebut jurus Jokowi meraih suara. Lha, tiap kunjungan, terutama di Jawa Barat, capres nomor urut satu itu kerap menjanjikan pembangunan jalan tol. 

Dua hari lalu, Jumat (8/2), saat berkunjung ke Cianjur, Jawa Barat, Jokowi mengumumkan pembangunan jalan tol. Rutenya Bogor-Sukabumi menuju Bandung via Cianjur. Pertengahan Januari lalu, saat kunjungan ke Garut, Jokowi juga menjanjikan pembangunan Tol Cileunyi-Garut Tasik.

Nah, di sini masalahnya. Empat tahun berkuasa, rezim Jokowi lebih mengutamakan pembangunan infrastruktur komersil ketimbang yang menyetuh rakyat. Jelas bukan? Jalan tol itu berbayar, tidak gratis. Jalan tol itu komersil, hanya orang-orang tertentu yang bisa lewat. 

Wikipedia menyebut para pengguna jalan tol harus membayar sesuai tarif yang berlaku. Penetapan tarif didasarkan pada golongan kendaraan. Bangunan atau fasilitas di mana tol dikumpulkan disebut sebagai pintu tol, rumah tol, plaza tol atau di Indonesia lebih dikenal sebagai gerbang tol. 

Sederhananya begini. Negara memberikan hak kepada swasta untuk membangun jalan tol. Swasta mengutip biaya dari jalan itu dan memperlakukan tol ini sebagai investasi. Sementara pengguna jalan harus membayar biaya pembangunan dan pemeliharaan jalan itu. 

Oke, soal jalan tol sudah jelas, tidak menyentuh rakyat banyak. Lantas, bagaimana infrastruktur lainnya? Sama saja.  Data Kemenkeu dalam tiga tahun sejak 2015-2017, pemerintah mengalokasikan dana infrastruktur sebesar Rp913,5 triliun. 

Pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018, dana infrastruktur kembali dinaikkan menjadi Rp 410,7 triliun. Memang hasilnya terlihat nyata. Ribuan kilometer jalan berhasil dibangun, dari Sumatera hingga Papua. Bandara hingga pelabuhan juga terbangun megah di era Jokowi.

Nah, apakah efek ekonomi dari pembangunan infrastruktur itu besar? Tidak juga! Jalan di Papua misalnya memang sudah bagus, hasil dari pemerataan pembangunan infrastruktur di rezim Jokowi. Tapi, apakah ada yang lewat di sana? Meski jalannya bagus dan lebar, tetap saja sepi. 

Padahal, banyak infrastruktur dasar untuk rakyat seperti rumah murah, gedung sekolah, dan puskesmas, banyak  yang belum tersentuh. Tapi, rezim Jokowi seolah melupakan itu. Demi sebuah pencitraan politik, Jokowi terburu-buru membangun infrastruktur komersil.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...