Ibu Pertiwi Tak Menangisi Konde, Ibu Pertiwi Meratapi Nasib Anak Bangsa

Oleh: Iramawati Oemar

Siapakah Ibu Indonesia?
Bukankah ia Ibu Pertiwi?

Yang aku tahu Ibu Pertiwi memang sedang berduka
Tapi lara-nya bukan karena raganya
Hatinya pilu bukan karena kidungmu
Ibu Pertiwi menangisi warisan untuk anak cucu

Ibu Pertiwi tak menangisi sari kondenya
Tak pula risau akan gerai tekukan rambutnya
Ibu Pertiwi tak galau dengar suara adzan yang tak merdu
Baginya lantunan adzan adalah pekik kemenangan nan syahdu

Ibu Pertiwi sudah lama bersusah hati
Melihat petani tak lagi bertanam padi
Lahannya digusur demi berdirinya pabrik
Meski kaum Ibu menangis pedih dan merintih
Sambil menyemen kakkinya di depan istana
Namun tak ada yang peduli akan duka laranya

Ibu Pertiwi tak lagi sekedar berlinang air mata
Air mata sudah mengalir deras membasahi wajahnya
Melihat anak-anak kandungnya merana
Di negeri sendiri berebut peluang kerja
Tapi anak aseng malah dipermudah ijin bekerja
Merampas kesempatan anak bangsa

Ibu Pertiwi meratap penuh duka lara
Gunung emasnya telah dijarah sebegitu lama
Kini lautnya pun tak asin lagi
Sehingga garam pun harus membeli

Ibu Pertiwi menangis pedih
Melihat ironi bangsa agraris
Kini cangkulpun didatangkan dari negeri tirai bambu
Mereka datang sambil membawa berton-ton sabu

Ibu Pertiwi sungguh sedang lara
Beras pun kini mahal harganya
Didatangkan dari negeri tetangga
Disaat petani lokal sedang panen raya
Beras lokal terbanting dibuatnya
Importir tertawa penuh suka cita

Ibu Pertiwi makin merasa miris
Gula pun kini tak lagi manis
Petani tebu pun menangis
Gula impor siap jadi penglaris

Ibu Pertiwi menahan geram
Dari beras sampai garam
Semua tak lagi jadi harapan
Padahal negeri ini dulu pernah swasembada pangan

Beras mahal silakan kurangi makan
Cabai mahal cobalah tanam sendiri
Daging sapi mahal ganti makanlah keong sawah
Yang begini Ibu Pertiwi tak bolehkah marah???

Listrik dan BBM kini jadi barang mewah
Harganya tak lagi murah
Subsidi untuk rakyat hilanglah sudah
Pada yang seperti ini Ibu Pertiwi merasa gundah

Kulihat Ibu Pertiwi
Sedang bersusah hati
Lautnya direklamasi
Untuk jadi bisnis properti

Kelak kalau sudah jadi
Anak kandung Pertiwi tak mampu membeli
Harganya kelewat tinggi
Asing dan aseng siap memiliki

Kini Ibu sedang lara
Anak-anaknya telah lupa berdoa
Tuhan semakin dicampakkan
Karena agama harus dipisahkan
Dari politik yang makin licik
Oleh mereka yang berpikiran picik

Wahai nenek tua berkonde
Yang terganggu dengan suara adzan
Tidakkah kau peduli Ibu Pertiwi bertangisan?!

Ibu Pertiwi tak menangisi konde
Ibu Pertiwi tak memprotes suara adzan
Namun Ibu Pertiwi bersedih hati
Karena praktek-praktek tak manusiawi
Atas anak bangsa sendiri

Wahai wanita berkonde,
Tidakkah mulut nyinyirmu peduli
Pernahkah engkau mengkritisi
Nasib saudara kandungmu kaum pribumi
Yang digusur, dipinggirkan dan didzholimi

Wahai wanita berkonde,
Janganlah merasa paling Indonesia
Kalau kau tak risau dengan membanjirnya bubuk mimpi
Yang sanggup memberangus habis satu generasi

Wahai wanita berkonde,
Janganlah merasa paling Pancasila
Kalau kau tak pernah galau melihat laut direklamasi
Sementara wong cilik dipinggirkan dan diusir dari kampung sendiri

Wahai wanita berkonde,
Janganlah merasa paling jadi ibu Indonesia
Jika kau tak resah gelisah dengan hutang negara
Yang akan membebani anak cucu sejak dalam kandungan bunda

Wahai wanita berkonde,
Alangkah palsu kepedulianmu
Sepalsu bedak tebal di wajahmu
Sepalsu 2 lembar ijazahmu

Ibu Pertiwi berduka
Karena kejujuran makin sirna
Termasuk engkau salah satunya
Dan mereka yang tega membohongi anak bangsanya

*******
 
Bumi Pertiwi, 03 april 2018

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA