11 December 2019

Halusinasi Sang Terpidana Pembunuhan Nasrudin

KONFRONTASI - Antasari Azhar menyandang gelar terpidana pada tanggal 11 Feb 2010 setelah divonis 18 tahun penjara oleh majelis hakim yang dipimpin Herry Swantoro dengan anggota Nugroho Setiadji dan Prasetyo Ibnu Asmara, setelah pada tanggal 19 Januari 2010, Antasari dituntut hukuman mati oleh jaksa yang dipimpin Cirus Sinaga. Jaksa menganggap Antasari terbukti terlibat bersama-sama terdakwa lain membunuh Nasrudin. Dan atas vonis tersebut, Jaksa dan Antasari sama-sama mengajukan banding karena tidak puas stas vonis yang dibetikan hakim.

Proses banding hingga Kasasi sampai pada proses Peninjauan Kembali semua majelis hakim yang meneriksa perkara Antasari tersebut menguatkan keputusan Hakim Pengadilan tingkat pertama. Artinya ada keyakinan yang utuh dari seluruh Hakim yang memeriksa bahwa Antasari Azhar memang terbukti secara syah dan meyakinkan terlibat dalam pembunuhan Nasrudin. Mestinya Antasari Azhar bersyukur kepada Tuhan dan berterimakasih kepada majelis Hakim tidak memvonisnya dengan hukuman mati sebagaimana tuntutan Jaksa Penuntut Umum.

Tiba-tiba saja Antasari mendapat Grasi dari Presiden yang publik sama sekali tidak tahu apakah Grasi tersebut sudah mendengar dan mendapat pertimbangan dari Mahkamah Agung. Selepas Antasari mendapat Grasi, Presiden Jokowi entah dengan alasan apa dan demi kepentingan apa tiba-tiba menerima Antasari dan menjadikan Istana panggung politik bagi seorang Terpidana Pembunuhan yang mendapat Grasi.

Ada apa dibalik Grasi Antasari Azhar? Adakah motif politik dibalik itu? Tentu publik jadi menduga-duga bahwa ada kepentingan politik dibalik Grasi tersebut karena tidak berselang lama setelah diterima Jokowi di Istana, Antasari hadir dalam debat kedua Pilgub DKI Jakarta entah sebagai apa dan duduk di kursi VIP yang hanya diperuntukkan bagi undangan KPU, padahal KPU mengaku tidak mengundang Antasari. Ternyata moral dan etika Antasari masih harus dipertanyakan.

Pasca kehadirannya dalam debat kedua Pilkada DKI dimana Antasari hadir sebagai pendukung Ahok, Antasari pun hadir dalam acara Jambore Mahasiswa di Cibubur yang kemudian tanpa etika dan tanpa ijin menggeruduk kediaman pribadi Presiden RI Ke 6 Soesilo Bambang Yudhoyono.

Kehadiran Antasari disetiap moment tersebut tampaknya adalah bertujuan politik dan Antasari memamfaatkan panggung politik ini untuk membentuk opini bahwa seolah-olah Antasari adalah korban rekayasa. Logika mana yang bisa percaya bahwa Antasari korban rekayasa kecuali logika tidak waras dan logika yang ditompangi kepentingan politik dan ketidak senangan secara personal kepada SBY? Apakah Antasari akan menuding semua penyidik Polri, Jaksa dan Hakim terlibat merekayasa kasusnya? Siapa yang akan percaya kepada pengakuan Antasari jika kita mendengar rekaman suaranya dengan Rani di hotel Mahakam? Moral saja sudah seperti itu, tidak mungkin publik bisa menerima rekayasa opini Antasari.

Tiba-tiba juga hari ini, sehari menjelang Pilkada serentak, Antasari Azhar melakukan konperensi pers dan menyeret-nyeret nama SBY. Entah apa hubungannya  SBY harus diseret kepada kasus pembunuhan yang menurut dakwaan Jaksa Antasari terlibat dalam pembunuhan tersebut. Antasari tampaknya sedang bermain api yang justru akan membakar dirinya sendiri. Antasari tampak begitu yakin menebar fitnah yang jika sekiranya SBY mengambil langkah hukum melaporkan Antasari dengan pasal pencemaran nama baik, sudah pasti tidak akan ditindak lanjuti. Tampak sekali kesan semua yang dilakukan ini demi kepentingan paslon yang didukung Antasari dan didukung istana.

Inilah skandal paling memalukan dinegara ini, dimana seorang terpidana yang dituntut hukuman mati, divonis 18 tahun penjara, merasa dirinya benar dan merasa dirinya bersih sementara orang yang tidak pernah tersangkut perkara dianggab kotor. Bukannya memilih tobat, bersyukur tidak dihukum mati, malah menebar opini yang tidak patut.

Diera pemerintahan Jokowi memang logika terbalik menjadi sesuatu yang lazim. Penjahat dicap baik, orang baik dicap jahat, yang jujur dicap pembohong dan pembohong dicap jujur. Hanya diera Jokowi lah terpidana yang dapat grasi diberikan panggung oleh istana untuk makin merusak logika waras manusia Indonesia.

Nampaknya sang terpidana itu sedang berhalusinasi setelah sekitar 8 tahun mendekam dipenjara. Tampaknya juga sang terpidana itu belum berhasil dibina di lembaga pemasyarakatan, tapi sayangnya Presiden malah menerikan Grasi.

Jakarta, 14 Pebruari 2017
Ferdinand Hutahaean

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...