13 December 2019

Haji Agus Salim “Leiden Is Lijden” Memimpin Itu Menderita

Adigium “leiden is lijden” yang memiliki makna memimpin itu menderita, rupanya bukan sekedar pepatah semata. Adigium ini sesuai dengan realitas kehidupan nyata, yang dialami K.H. Haji Agus Salim, yang sering dijuluki “The Grand Old Man” yakni orang besar yang sudah tua. Dia kelahiran Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat pada 18 Oktober 1884. Meskipun dia adalah pejabat negara, yang memegang jabatan strategis pada zamannya, namun tidak membuat kehidupannya layaknya para pejabat negara pada eranya, yang hidup berkecukupan yang dilihat dari kondisi sosial mereka sehari-hari ditengah-tengah masyarakat.

Sosok berkumis dan berjenggot kawan seperjuangan dari Abdul Muthalib Sangaji di Sarekat Islam asal Negeri Rohomoni Maluku Tengah, yang kemudian keduanya hengkang dari Sarekat Islam lantas mendirikan Pergerakan Penyadar pada 23 Februari 1937 itu, sangat bokeh dimana tidak ada tokoh bangsa yang semelarat namun sebahagia Haji Agus Salim. Hatta masih punya rumah di kawasan Menteng. Haji Agus Salim boro-boro punya rumah. Sampai wafat ia tetap berstatus “kontraktor”. Kediamannya berupa rumah sempit di gang sempit pula masih berstatus sewa, ketika sang penghuni, Agus Salim, wafat pada November 1954. 

Padahal, kurang apa posisi yang pernah ia sandang : salah satu dari sembilan perumus Pembukaan UUD 45, anggota dewan Volksraad, diplomat ulung yang meraih pengakuan internasional pertama bagi RI, dan Menteri Luar Negeri era revolusi itu wafat. Baru setelah itu, beberapa tahun kemudian, anak-anaknya patungan membeli rumah kontrakannya itu demi mengenang sang ayah. Sepanjang hidupnya Haji Agus Salim hidup nomaden, berpindah-pindah dari kontrakan di satu gang ke gang lainnya di berbagai kota.

Di dalam gang sempit itu, berkelok dari jalan utama, menyelusup gang pada perkampungan di sudut kota, di tempat becek, di kawasan kumuh, di sanalah Haji Agus Salim dan istrinya, Zainatun Nahar, menjalani hari-hari mereka. Di Jakarta, pasangan ini pernah tinggal di daerah Tanah Abang, Karet, Petamburan, Jatinegara, di gang-gang Kernolong, Tuapekong, gang Listrik dan masih banyak lagi. Khusus ketika tinggal di Gang Listrik, menjadi kenangan tersendiri.  Di gang Listrik, justru Haji Agus Salim dan istrinya Zainatun Nahar hidup tanpa listrik gara-gara tak sanggup membayar iuran listrik. 

Salah satu muridnya yang juga diplomat pejuang, Mr. Mohammad Roem mengenang kasur gulung, ruang makan, dapur, dan tempat menerima tamu di kontrakan Haji Agus Salim bersatu dalam satu ruangan besar. Nasi goreng kecap mentega menjadi menu favorit, khususnya ketika keluarga Haji Agus Salim sedang tidak ada makanan lain yang lebih bergizi, dan tidak ada uang. Murid politiknya yang lain, Mr. Kasman Singodimedjo, mengagumi kondisi guru besarnya itu sambil mengingat adagiumnya yang menciutkan hati, “leiden is lijden”, memimpin itu menderita.

Ketua delegasi Belanda dalam perundingan Linggarjati 15 Novembeer 1946, Willem Schermerhorn Perdana Menteri Belanda periode 1945-1946 membuat penilaian pribadi terhadap setiap anggota delegasi lawan untuk ditelisik setiap kelemahan dan kekuatannya. Untuk Haji Agus Salim, ia mencatatnya sebagai sosok negosiator tangguh, pandai bicara dan berdebat. Ia hanya mempunyai satu kelemahan : selama hidupnya melarat. Mungkin nanti akan ada “pendekatan khusus” agar Haji Agus Salim tidak galak-galak amat dalam perundingan. Biar miskin, Salim ternyata tidak pernah mempan disogok, baik terang-terangan maupun secara tersamar. Baginya, jangankan yang haram ; yang halal saja belum tentu ia mau.

Perawakannya kecil, doyan merokok, dan sangat cerdas. Setidak-tidaknya Haji Agus Salim mampu berbicara dalam sembilan bahasa. Selera humornya tinggi, dan ia bisa melucu dengan lancar dalam kesembilan bahasa itu.  Haji Agus Salim tidak terlahir sebagai orang papa. Lingkungan keluarganya berada, dan ia sempat lama memiliki pekerjaan bergaji besar yang bisa menyenangkan keluarganya secara materi. Ia baru “jatuh miskin” gara-gara “jatuh cinta” kepada 
Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Ditugasi sebagai intel politik, Haji Agus Salim malahan  terjun penuh sebagai pejuang kemerdekaan. 

Meskipun miskin untuk ukuran orang kebanyakan, Haji Agus Salim sendiri merasa dirinya baik-baik saja. Karenanya, rasa percaya dirinya selalu tinggi, tidak pernah minder atau canggung di lingkungan mana pun. Dalam urusan satu ini Haji Agus Salim mirip Bung Karno. Ia bisa berbincang dengan Pangeran Phillip (suami Ratu Inggris) sama nyamannya dengan kalau ia bicara dengan hansip yang di tengah ronda malam mampir ke rumah kontrakannya. Dari berbagai kekhasan perilakunya itu, dia adalah sosok yang memiliki integritas yang tak tertandingi dengan tokoh-tokoh kemerdekaan lainnya. (Basri 2019, Isnaeni 2018, wikipedia.org 2019/M.J. Latuconsina).

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...