27 January 2020

Celana Profesor Melorot, Auratnya Kelihatan

Dan seorang profesor bertransformasi dari kupu-kupu menjadi ulat melata. 
Jiwa merdekanya tergadai menjadi hamba boneka.
Lihatlah akrobat politiknya, bagai badut sirkus keliling yang kedodoran busananya.
Dia tak menyadari celana longgarnya melorot memperlihatkan auratnya.

Di akhir pekan kemarin Profesor MMD bikin heboh dalam sebuah tayangan video. Provinsi yang menenangkan PrabowoSandi, katanya, sebagai wilayah penganut garis keras dalam agama (Islam). Ia sebut Jawa Barat, Sumatera Barat, Aceh, Sulawesi Selatan.

Saya sempat mengagumi MMD. Ia cerdas, bijak, pandai menempatkan diri. Sempat kasihan saat ia gagal memenuhi "panggilan sejarah" yang kemeja putihnya tertinggal di istana. 

Saya terheran-heran waktu ia datang ke KPU, memuji kinerja dan membela Situng yang banyak membuat ngilu. Ia lompat pagar kompetensi. Ambil peran di luar bidang kepakarannya.

Bak ahli IT ia menganalisis dan membedah Situng KPU. Lalu menyimpulkan segala sesuatunya okey. Salah input, katanya, kecil saja. Cuma 0,4 ... persen. Tak ada kecurangan. Untung rugi di kedua pihak. 
Okey, itu hak dia untuk ambil posisi, meskipun mengundang kontroversi.

Saya terhenyak sesudah itu ia berkoar dalam upaya menghidupkan lagi QC yang sudah jadi bangkai opini, sampah digital. 
Okey, itu hak dia sebagai akademisi. Juga hak dia untuk "mendaur-ulang" dan memoles image tukang survei yang sudah dicap abal-abal agar kembali bersinar.

Kemudian saya tersentak seperti juga banyak anak bangsa ini terperanjat, waktu dia menggunakan term "garis keras" dalam beragama di provinsi yang memenangkan PrabowoSandi.  MMD offside. Harus disemprit dengan tegas dan keras.

Sulit dicerna. Seorang profesor, mantan menteri, figur publik, terjerumus menjadi buzzer politik khas kaum gorong-gorong yang menghamba pada kekuasaan. Pernyataannya picik dan kerdil. Serampangan membonsai pilihan rakyat yang mencintai negeri ini dalam sekat "agama garis keras".

Mustahil MMD tak menyadari makna konotatif Islam "garis keras". Stigma dalam satu rangkaian dengan intoleran, radikal, anti kebinekaan, anti NKRI, anti Pancasila, bahkan teroris! Semua itu jualan kaum gorong-gorong pengidap Islamophobia. Didengungkan saat Pilkada DKI Jakarta. Diasong lagi saat Pilpres ini.

MMD menabur angin. MMD menuai badai. Banjir protes dan kecaman menderanya. Bukan saja dari netizen jelata seperti saya, yang ikut menghadiahinya tagar TT #ProfesorNolKoma. Juga banyak tokoh bangsa angkat suara. Lintas daerah lintas suku lintas agama. Utamanya tokoh daerah yang distigma "garis keras". 

MMD di-bully. Meme mengejek dan satir pun membanjiri timeline. Misalnya,  "Prabowo menang di kompleks Paspampres. Apa penghuni kompleks itu Islam garis keras?" 

Ramai juga olok-olok, "Di era rezim ini ada menteri segala urusan. Ada profesor segala urusan. Ada presiden tak tahu urusan."

Namun MMD bela diri hingga kehabisan argumentasi. Akhirnya blunder sendiri, mempertontonkan wawasan sejarahnya ternyata dangkal sekali. Sumatera Barat, ia sebut wilayah Islam garis keras karena pernah ada "pemberontakan" PRRI - Permesta. Konyol. Padahal PRRI tak ada kaitan sama sekali dengan ideologi keagamaan. 

MMD yang ternyata tak tahu apa-apa tentang Ranah Minang dan sejarah PRRI jadi bahan tertawaan. Makin di-bully habis-habisan. Beberapa sahabatnya mengingatkan kekeliruan konyol itu dengan tetap berusaha santun. Termasuk Presiden ILC Karni Ilyas.

"Sekedar meluruskan Prof Mahfud. PRRI/Permesta bukan pemberontakan dg ideologi agama. Pemimpin perlawanan Kol Simbolon (Medan), Letkol A.Husein (Padang), Letkol Ismail Lengah (Riau), Kol Kawilarang dan Lekol V. Samual (Sul-Ut). Tidak ada hubungannya denga daerah Islam garis keras," kata Bang Karni melalui twitnya.

Akhirnya sang profesor berubah menjadi sebongkah omong kosong belaka.
Dia kehilangan makna.
Demi apa?
Jiwa merdeka yang kemudian menghamba pada boneka hanya akan berakhir hampa.
Segala yang hampa berjarak jauh dengan rasa bahagia..

Secara kemanusiaan, saya ngenes dengan MMD. Ramai dikecam, dihujat, dicaci-maki. Tapi sepak terjang yang dia pertontonkan memang menjengkelkan. Pernyataannya bikin geram lantaran melecehkan akal sehat. Tak ubahnya provokator yang memecah-belah kebersamaan anak bangsa.  

Apa sang profesor tak tahu, bahwa mayoritas rakyat di penjuru negeri memilih PrabowoSandi karena pertimbangan akal sehat. Rakyat yang tak ingin dibohongi satu priode lagi. Rakyat yang ingin negeri ini adil makmur sentosa dalam ridho Allah SWT. 

Salam
Banda Bening
Copas FB Banda Bening

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...