25 September 2018

#2019GantiPresiden: Memasuki Babak Knockout

Oleh: Chusnatul Jannah
Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Pendaftaran Capres-Cawapres sudah di depan mata. Namun tak ada satu pun partai baik koalisi pemerintah dan oposisi mendeklarasikan siapa cawapres Jokowi dan Prabowo. Spekulasi pun berkembang dengan liar. Formasi duet capres dan cawapres dari berbagai versi dibuat. Ada yang bilang Anies-AHY, Jokowi – TGB, Prabowo – Anies, dan lainnya. Disinilah babak penyisihan itu terjadi. TGB sudah pasti tersisih dari daftar capres umat Islam. Sebab, secara terang-terangan ia sudah mendukung Jokowi untuk dua periode. Nampaknya jargon #2019GantiPresiden sudah menjadi harga mati bagi partai oposisi dan umat Islam sendiri. Siapapun yang jadi, asal bukan Jokowi.

Sentimen publik terhadap rezim Jokowi memang sudah mencapai titik jenuh. Partai penguasa pun tak tinggal diam. Mereka mencoba mengembalikan marwah Jokowi yang terlanjur jatuh dengan merangkul ulama yang sebelumnya mendapat tempat di hati umat. Sebut saja KH Ma’ruf Amien, Ali Mochtar Nabalin, Ustadz Yusuf Mansur hingga TGB Zainul Majdi. Manuver yang cukup cerdas. Sebab, track record Jokowi tak cukup baik sebagai pemimpin yang mampu merangkul semua kalangan. Malah, menjadi pendukung penista agama dan terkesan memusuhi ulama yang kritis terhadapnya.

Di sisi lain, partai-partai oposisi yang cukup kritis dengan pemerintahan Jokowi semakin mendapat simpati dari umat. Alhasil, dukungan terhadap Prabowo mengalir deras. Jika menginginkan Jokowi tumbang di 2019, maka lawan yang pas akan menjadi penentu kemenangan. Dari hasil survey yang pernah dirilis, elektabilitas Prabowo masih di bawah Jokowi. Inilah yang menjadi PR besar. Sosok Prabowo masih diragukan untuk bertanding head to head melawan Jokowi. Usulan capres dari tokoh lain pun bermunculan. Anies Baswedan, Gatot Nurmantyo, ataupun Agus Harimurti Yudhoyono menjadi calon kuat sebagai rival Jokowi. Sementara, di kubu Prabowo sendiri siapa cawapres yang akan mendampingi masih tarik ulur. Partai koalisi oposisi masih bersibuk mencalonkan kader dari partai masing-masing. Berbeda dengan partai koalisi pendukung Jokowi. Barisan pertahanan mereka begitu rapat hingga tak tampak keegoisan partai pendukungnya mencalonkan kader mereka. Siapapun cawapresnya, asal Jokowi menang.

Umat perlu menyadari tak ada harga mati dalam demokrasi. Berubahnya sikap politik TGB menjadi bukti, tak ada yang benar-benar memperjuangkan hak rakyat. Semua sibuk menyelamatkan kepentingan diri ataupun partainya. Musuh bisa merangkul, teman bisa memukul. Tak perlu heran. Memang begitu jalannya pertandingan politik ala demokrasi. Tak usah baper pula melihat ulama atau tokoh yang dikagumi justru bergandengan tangan dengan penguasa saat ini. Detik-detik pendaftaran calon RI 1 akan dimulai. Babak Knockout akan tersaji dalam putaran kandidat capres dan cawapres.

Siapapun pemenangnya, mereka tak akan bisa berlepas diri dari ideologi dan kekuatan global. Pemimpin itu harus bebas dari segala intervensi. Pemimpin itu pelayan rakyat, mengurusi seluruh kepentingan rakyat. Namun, bila sistem kapitalisme-demokrasi masih diterapkan, sudah dipastikan ada intrik kepentingan yang akan bermain. Inilah yang membuat negeri ini tak kunjung mengalami perubahan. Sistem sama, hanya sekedar ganti kepala. Ujung-ujungnya rakyat siap kecewa.

Tengoklah sejarah bagaimana Rasulullah SAW berpolitik. Tak pernah mau kompromi dengan sistem yang didominasi kaum quraisy kala itu. Beliau tetap konsisten melakukan penyadaran umat di tengah sistem jahiliyah quraisy. Alhasil, Allah SWT berikan kemenangan atas beliau melalui kaum Anshar dari Madinah. Itulah politik yang beliau ajarkan. Politik Islam. Oleh karena itu, tak usah silau dengan sosok-sosok yang ditawarkan. Tetap berjuang menyadarkan umat bahwa solusi sistem dan kepemimpinan hanya dengan politik Islam. Wallahu a’lam.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  



Berita lainnya

loading...