14 December 2018

Warga Kulon Progo Sebut Jokowi Tidak Pedulikan Rakyat

KONFRONTASI- “Nama saya Biyem.”  Demikian, perempuan berjilbab hijau itu memperkenalkan diri ketika didatangi rumahnya di Desa Palihan, Kecamatan Temon, Kulon Progo, Jumat (8/12).

Puluhan orang mengatasnamakan Aliansi Perjuangan Rakyat Tolak Bandara mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (16/1/2018) siang.Hasil gambar untuk penindasan jokowi di kulon progo 2018

Tak hanya membawa bendera aneka warna, tampak beberapa peserta aksi membentangkan spanduk bertuliskan "Stop Penggusuran Paksa Terhadap Tanah Petani di Kulon Progo".

Puluhan petugas Kepolisian baik dari Poleresta Yogyakarta dan Polsek Danurejan juga nampak berjaga di sekitar kantor DPRD DIY.

Tepat di depan gerbang masuk kantor tersebut, peserta aksi melakukan orasi dan dilanjutkan dengan meminta akses guna bertemu anggota DPRD DIY.

Fikri M Faroek (21), koordinator aksi, mengatakan aksi yang digelar berkaitan penggusuran paksa yang terjadi pada 8-9 Januari 2018, di lahan yang rencananya akan dibangun Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA).

Mereka menuntut agar Pemerintah menghentikan perampasan hak masyarakat Kulon Progo dalam mempertahankan lahannya.

Menurut Fikri, tindakan represif yang dilakukan oleh pihak keamanan pada kegiatan land clearing kemarin tak seharusnya dilakukan.

"Pembangunan bandara yang dilakukan oleh rezim Jokowi-Jusuf Kalla tidak pernah memikirkan kepentingan rakyat. Kenapa bisa begitu? Karena semua itu berhubungan dengan arus modal dan untuk mempertahankannya sampai melakukan tindakan represif seperti kemarin," jelasnya.

Karena itu, pihaknya mengecam keras tindakan kekerasan oknum aparat terhadap warga yang masih mempertahankan lahannya dari pembangunan Bandara NYIA.

KETERANGAN BIYEM
Di rumah berdinding batako itu, Biyem tinggal bersama suaminya, Jumari. Di rumah itu tinggal pula anak, menantu serta tiga orang cucu. Total tujuh orang tinggal di bangunan kecil yang berdiri di atas lahan yang diklaim Jumari seluas 450 meter itu.

Jumari mengingat tanah itu diperolehnya pada tahun 1995. Kini, rumah pasangan Jumari dan Biyem terancam dirobohkan oleh Angkasa Pura I untuk pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA).

Namun, Biyem dan Jumari memilih bertahan. Rumah-rumah di sekitarnya telah rata dengan tanah. Tak hanya rumah, pemakaman di Desa Palihan pun ikut tergusur karena Angkasa Pura mengebut proses land clearing untuk pembangunan bandara.

"Saya akan bertahan sampai mati, sampai kapan pun saya tidak mau pindah dan tetap akan di sini," kata Biyem.

Menurut Biyem, dia senang tinggal di rumahnya sekarang. Nyaman, kata dia. Jumari mengatakan, dia memilih bertahan karena dia memikirkan masa depan anak cucunya.

"Anak cucu itu nantinya kan untuk bermukim di sini dan di sini ini sudah enggak ada perbandingannya enaknya, enaknya macam-macam," kata dia.

Sehari-hari, Biyem dan Jumari mengandalkan hidupnya pada ternak dan tani. Enam ekor kambing, kata Jumari sudah cukup untuk hidup.

"Gusti Allah yang mengatur," katanya.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...