16 December 2018

Rizal Ramli: Hubungan Personal Saya dengan Sri Mulyani Baik-Baik saja. Secara Personal, Dia Oke, kata RR.

KONFRONTASI- Ekonom Rizal Ramli kerap mengkritik utang luar negeri Indonesia. Dia bahkan pernah menantang Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati debat terbuka soal utang pemerintah. Tapi hubungan personal keduanya tetap baik-baik saja, salam-salaman kalau ketemu. RR menjadi Menko Ekuin/ Menkeu usia 46-47 era Presiden Gus Dur, lebih senior, lebih dulu  dari Sri Mulyani

Meski demikian, ternyata tak semua kebijakan Sri Mulyani ditentang dan dikritik. Kebijakan pemerintah yang pro rakyat bahkan ditanggapi positif olehnya.

"Kebijakan yang positif itu beasiswa untuk anak-anak Indonesia," ungkapnya dalam diskusi, di JCC, Jakarta, Selasa (3/7).

Pada kesempatan yang sama, pria yang biasa disapa RR ini menegaskan bahwa semua kritik yang dia lancarkan semata-mata demi pengelolaan keuangan negara yang lebih baik.

 

 

Dia mengatakan bahwa kritik yang sering dia lancarkan sama sekali tidak mengganggu atau memengaruhi hubungan personal antara dia dan Sri Mulyani.

"Jadi harus dipisahkan (antara kritik terhadap kebijakan dengan hubungan pribadi). Individu enggak masalah. Kita salam-salaman. Secara personal dia (Menkeu Sri Mulyani) oke," tandasnya

Begawan  Ekonomi Rizal Ramli mengatakan saat ini kondisi perekonomian Indonesia dalam keadaan tidak prudent. Sebab hampir semua indikator ekonomi makro dalam keadaan defisit.

"Trade balance (neraca perdagangan) kita negatif, Mei USD 1,5 miliar. Tetangga kita pada positif semua kecuali Thailand," ungkapnya dalam diskusi 'Debat-Tak Debat: Utang Besar untuk Siapa?', di JCC, Jakarta, Selasa (3/7).

Dia menambahkan, tanda perekonomian Indonesia tidak prudent adalah kondisi current account Indonesia yang juga mengalami defisit USD 5,5 miliar. Selain itu, neraca pendapatan primer Indonesia pun minus USD 7,9 miliar. Sementara neraca pembayaran Indonesia pun defisit USD 3,9 miliar pada kuartal I-2018.

"Ini belum masukan perkiraan harga crude oil yang baru naik naik. Asumsi kita USD 45 per barel, hari ini sudah USD 70 per barel. Belum dimasukkan faktor ekspektasi," katanya.

"Ini sudah setengah merah. Kami katakan akhir tahun lalu. Sibuk bantah-bantah, tidak punya kebijakan turn around. Ini sama sekali tidak prudent. Kalau ada Menteri yang katakan prudent, apanya yang prudent. Kalau prudent ini angka-angkanya positif bukan negatif," tegasnya.. [azz]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...