20 July 2019

KPK Bakal Kejar Boediono soal skandal Centurygate

JAKARTA- Dengan pensiunnya Boediono dari jabatan Wakil Presiden sepertinya menjadi sinyal positif bagi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk kembali mengungkap kasus pemberian dana talangan alias bailout Bank Century. Menurut Wakil Ketua KPK Zulkarnain, saat ini KPK sudah tidak perlu lagi berkoordinasi dengan protokol kepresidenan jika ingin memeriksa Boediono.

"Kalo (Wapres) aktif ada protokol yang menyangkut kepada dia. Kalau tidak ya jelas bedanya," kata Zulkarnain kepada wartawan, Senin (20/10).

Mantan staf ahli Jaksa Agung ini mengatakan, pihaknya cukup kesulitan untuk menjerat Boediono, karena belum ada putusan hukum yang tetap terhadap mantan Gubernur Bank Indonesia tersebut. Walaupun nama Boediono disebut melakukan korupsi bersama-sama dengan Budi Mulya, namun putusan tersebut masih belum berkekuatan hukum tetap.

Sementara itu, Wakil Ketua KPK lainnya Bambang Widjojanto mengakui kesulitan dalam mengungkap kasus Century. Hal itu disebabkan karena belum ada putusan hukum yang tetap terhadap Boediono. Menurut Bambang, kasus Century berbeda dengan kasus-kasus lainnya, termasuk kasus sengketa Pilkada di Mahkamah Konstitusi yang melibatkan mantan Ketua MK Akil Mochtar.

Menurut Bambang, kasus Akil lebih mudah, karena mantan politisi Golkar itu ditangkap dalam operasi tangkap tangan oleh penyidik KPK, sehingga bukti untuk menjerat Akil jauh lebih nyata. Apalagi, dalam kasus tersebut beberapa pihak yang terjerat juga sudah disidangkan.

"Kalau ini kan nunggu pertimbangan-pertimbangan hakim menjadi bagian-bagian penting, masih ada argumen fakta. Anda tidak bisa menggunakan kasus Akil untuk Century, bukan apple to apple," kata Bambang di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (19/10) kemarin.

Bambang menyatakan, KPK tidak akan gegabah dalam menetapkan seseorang sebagai tersangka. Unsur kehati-hatian menjadi penting bagi KPK dalam mengungkap suatu kasus. Ia mencontohkan dalam kasus cek pelawat yang melibatkan Miranda Gultom serta Nunun Nurbaeti.

"Mulai dari Agus Condro kelar, empat terdakwa DPR, terus bertemu Nunun lalu naik ke Miranda. Kalau Miranda mau ngebuka, bisa sampai atas itu. Sayang aja dia enggak mau," ucapnya.
 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...