Kampung di Kota Yogya Ramai Berlakukan "Lockdown", Wawalkot: Untuk Melindungi Warga dari Penularan Covid-19

Konfrontasi - Ramai pembahasan soal kampung atau desa 'lockdown' di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyusul mewabahnya virus Corona (COVID-19). Termasuk juga kampung di Kota Yogyakarta.

Wakil Wali Kota (Wawali) Yogyakarta Heroe Poerwadi menyampaikan penjelasannya terkait kampung di Kota Yogyakarta lockdown itu.

Dalam keterangan tertulisnya, Heroe mengatakan pihaknya telah mendapat laporan dari masing-masing Camat terkait lockdown di kampung-kampung Kota Yogyakarta. Sebagian besar ternyata hanya menutup akses masuk ke kampungnya masing-masing.

"Seperti RT 18 RW 3 (Kelurahan) Patangpuluhan, pengurus kampung menyatakan bukan lockdown tetapi akibat selama 2 hari jalan tembus ke Bantul dilewati pendatang dari Jakarta dan Semarang, akhirnya akses dibatasi untuk umum, dan bukan lockdown," kata Heroe, Minggu (29/3/2020).

"Untuk RT 35 RW 7 Wirobrajan, Ketua RW juga tidak menyatakan lockdown. Hal ini akibat ada warga RW sebelah yang meninggal di Malaysia dan dimakamkan di Mancasan melewati RT 35 RW 7," terangnya.

Tak hanya di RT 18, Heroe menyebut hal serupa juga terjadi di RT 35 RW 7 Kecamatan Wirobrajan, Kota Yogyakarta. Penutupan akses jalan di kampung tersebut ternyata karena warga menolak adanya proses pemakaman melewati kampung tersebut.

"Warga menolak, akhirnya lewat akses jalan lain. Begitu informasi laporan dari Camat Wirobrajan," lanjut Heroe.

Adanya informasi pemasangan spanduk bertuliskan 'lockdown' di Kampung Sudagaran, Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Heroe membenarkannya. Namun, setelah ada diskusi akhirnya spanduk itu dilepas.

"Di (Kecamatan) Tegalrejo ada 20-an spanduk lockdown yang dipasang di gang masuk perkampungan. Setelah Forkompimka datang dan diskusi akhirnya semua sudah dilepas oleh pengurus RT/RW setempat," ujarnya.

"Pemasangan atas hasil kesepakatan pengurus RT/RW dengan warga, karena merasa perlu melindungi warganya. Tulisan (pada spanduk) akhirnya disepakati berubah menjadi tamu/pemudik harap lapor RT/RW setempat," lanjut Heroe.

"Ya kita memahami reaksi pimpinan masyarakat di wilayah yang memang merasa perlu melindungi. Inilah kebersamaan warga Yogya, saling menjaga dan saling melindungi. Tetapi setelah diberi penjelasan dengan benar, akhirnya mereka mengawal warga yang datang atau mudik untuk mendorong segera periksa dan isolasi diri," ucap Heroe.

Heroe menilai banyaknya kampung yang melakukan pemasangan spanduk adalah sebagai wujud rasa kebersamaan warga Kota Yogyakarta. Mengingat hal itu semata-mata untuk melindungi warga kampung dari penularan virus Corona atau COVID-19. (dtk/mg)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA