Imam Shamsi Ali Menjawab Fadli Zon dengan Jernih: Awas, Fadli Zon bakal Kejeblos !

KONFRONTASI-Gonjang-ganjing elite DPR di New York terkait Donald Trump, bakal makin seru dan membuka mata hati publik..Tanpa setahu publik, ternyata telah berjalan komunikasi antara Wakil Ketua DPR Fadli Zon dengan Imam Shamsi Ali mengenai kehadiran para pimpinan DPR RI di kampanye Donald Trump, New York..Fadli bisa kejeblos kalau salah langkah dan tak bijak.

Paling tidak, Sabtu malam (5/9) lalu Imam Shamsi Ali memposting persoalan tersebut di akun media sosialnya. Berikut postingan tersebut:

"Dari semalam Fadhli Zon meminta saya meralat pernyatan saya...ini whatssap yg saya terima:

Ass. Pak Shamsi Ali, apakah Bapak bisa meralat keterangan di FB? Soal kampanye Trump? Soalnya ini berawal dari keterangan Bapak yg salah. Sehingga isu melebar dan dimanfaatkan lawan politik. Apakah ini memang maksud Bapak. Klu sy, katakan yg benar itu benar dan yg salah itu salah. Yg Bapak katakan kampanye Trump itu salah. 3 menit itu salah. Soal Kongres reses itu salah krn kami di NY dlm rangka IPU. Tlg klarifikasi demi kebaikan bersama. Apakah benar Bapak Imam di Masjid New York? Setahu saya masjid yg dibangun Indonesia dan sdh tdk lagi. Terima kasih.

Dan ini jawaban saya:
Alaikumussalam...Nampaknya pak Fadhli mempertanyakan posisi saya sekarang ya? Apakah Imam atau bukan maksudnya? Sekarang saya memimpin masjid dg komunitas terbesar di NYC pak.
Kalau masjid Indonesia memang dikenal Imam, dalam arti pemimpin komunitas. Bukan Imam sholat seperti yang dikenal di Indonesia. Mungkin Bapak bisa bertanya ke Kementerian luar negeri Amerika tentang saya. Insya Allah mereka akan berikan jawabannya.

Bapak meminta saya meralat pernyataan saya di FB dan media sosial lainnya. Saya kurang tahu mana yang salah. Yang saya ceritakan apa yang saya lihat. Dan itu jelas di video.

1.Tentang kampanye dan konferensi pers. saya kira siapapun yang melihat video itu akan memahami dg jelas jika acara itu adalah bahagian dari kampamnye DT. Dengan banners, bahkan Bapak sempat selfie dg wanita Amerika beserta banner dukungan untuk DT. Kampanye itu kan bukan cuma orasi di lapangan. Tapi boleh juga di acara konferensi pers seperti kemarin.
Jadi saya tidak salah kalau Ketua DPR dan rombongan memang hadir dalam acara konferensi pers sebagai rangkaian kampanye DT. Ini tidak bisa dibohongi.

2. Mengenai 3 menit itu juga ada di video. Terus terang, dengan melihat posisi ketua DPR dan wakilnya serta rombongan lainnua, dan posisi DT sebagai peserta konvensi salah satu partai, cara pengenalan dia kepada pendukungnya melecehkan. Tapi saya memahami. Kadang bangsa kita ini ada perasaan inferior kepada orang lain karena persepsi yang sudah terbangun kalau mereka hebat.

Maaf saya lihat diperkenalkan dengan cara seolah-seolah memperkenalkan anak kecil. Ditanya kayak anak SD dengan pertanyaan yang sangat tricky, dan jawaban pak ketua salah total: yes highly. Dari mana kebenaran jawaban ini?

Setelah itu seorang ketua DPR dan rombongannya ditinggalkan begitu saja seolah kebingungan. Kalau DT menghormati akan diajak jalan hingga ke pintu dan melepas dengan hormat. Maaf ini bukan seorang Setya dan Fadhli. Ini ketua DPR RI, sama dengan speaker of the house of US.

Saya tidak bisa bayangkan kalau John Boehner ke Indonesia lalu hadir di acara salah seorang peserta konvensi partai Golkar atau Gerindra. Setelah dikenalin lalu ditinggalin saja bersama khalayak ramai. Apa yang akan dikata oleh Amerika?

Ini yang saya dan banyak lagi anggap sebagai perendahan martabat bangsa.

3. Soal kehadiran ke konferensi IPU saya tahu. Itu sehari dan bukan masalah. Tapi yang jadi masalah adalah acara lainnya yang tidak sesuai keperluan, malah melanggar norma dan etika protokoler. Sekali lagi, sebagai seorang pejabat, bertemu dengan seorang kandidat di musim kampanye bisa sensitif. Apalagi hadir di acara yang memang di setting sebagai bagian dari acara kampanyenya? Bapak mau saya meralat ini. Tapi anak
SD saja tahu kalau ini memang bagian dari acara kampanye, dan kehadiran Bapak dan pak ketua di sana salah.

4. Saya tidak punya kepentingan politik apa-apa dalam hal ini. Kalaupun ada yang memakai ini untuk kepentingan politiknya itu urusan mereka. Saya tidak ada urusan. Dalam dunia keterbkaan memang susah menyembunyikan apapun. Video kehadiran ketua dan wakil ketua di acara itu tersebar cepat. Tanpa saya juga akhirnya orang tahu karena penyebaran informasi yg super cepat.

Saya sudah katakan kemarin jika saya ini seorang aktivis, dan punya rasa tanggung jawab mengoreksi yang saya anggap salah. Bapak juga saya kira pernah seorang aktivis dan biasa membela kebenaran. Saya juga berada di posisi itu. Dan saya akan membela posisi saya karena tidak punya beban sama sekali.

Entah apa yang menjadikan Bapak seolah mempertanyakan posisi saya sebagai Imam. Saya ajak kembali jalan-jalan ke NYC dan keliling ke berbagai komunitas muslim dan non Muslim biar tahu siapa dan apa yang saya lakukan.
Saya bukan orang sepenting pak Fadhli. Tapi cara bapak mempertanyakan posisi saya bermakna lain dan cukup mengusik. Terima kasih

Berbagai pihak melayangkan kritik pedas atas kunjungan luar negeri ke Amerika Serikat ala pimpinan DPR beserta rombongan. Kritik di antaranya datang dari lembaga FITRA (Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran). Menurut Sekertaris Jenderal FITRA, Yenny Sucipto, rincian biaya perjalanan ini tak transparan.

"DPR, melalui sekjennya, bahkan tidak menjelaskan tujuan perjalanan dinas beserta semua anggarannya," kata dia melalui siaran pers yang diterima, Sabtu, 5 September 2015.

Karena itu, lembaganya telah mengkaji dana perjalanan dinas ini berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Standar Tentang Biaya Masukan 2015. Anggaran ini termasuk biaya tiket, uang saku, dan hotel untuk sembilan anggota rombongan selama 12 hari.

Berikut biaya yang diperkirakan:
1. Biaya pesawat ke Amerika Serikat sebesar US$ 14.428 untuk satu kali perjalanan per orang.
2. Uang saku harian sebesar US$ 527 untuk setiap anggota DPR perhari.
3. Biaya hotel sebesar US$ 1.312,02 per malam.

Total biaya: Rp 4,63 miliar

"Bahkan, kami menduga anggaran bisa lebih besar dari Rp 10 miliar karena adanya berbagai tunjangan," kata Yenny.

Selain itu, Yenny menilai anggaran ini berpotensi adanya kemahalan harga (mark up) karena sistem lump sum. Apalagi, saat ini nilai tukar dollar sedang naik. Berbagai foto yang tersebar di media sosial antara pimpinan DPR dengan calon presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga dianggap memalukan
.(konfront/[inilah/dsy ]

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA