19 December 2018

Eddy Sindoro Akhirnya Serahkan Diri ke KPK

KONFRONTASI-Setelah sempat kabur ke 4 negara, tersangka kasus suap, Eddy Sindoro, akhirnya menyerahkan diri ke KPK. Dia ditetapkan sebagai tersangka pada tahun 2016.

Bagaimana peran Eddy Sindoro serta apa perkara yang menjeratnya?

"ESI (Eddy Sindoro) diduga telah memberi hadiah atau janji kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara terkait dengan pengurusan perkara di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat," ucap Wakil Ketua KPK Saut Situmorang di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (12/10/2018).

Eddy Sindoro disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a dan/atau Pasal 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Saat ini Eddy Sindoro sedang menjalani pemeriksaan di KPK. Dia--atau kuasa hukum yang ditunjuknya--belum memberikan keterangan apapun tentang penyerahan diri atau perkara yang menjeratnya.

Jeratan untuk Eddy Sindoro itu berawal dari operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK terhadap Doddy Aryanto Supeno dan Edy Nasution. Doddy saat itu hanya disebut sebagai seorang swasta, sedangkan Edy Nasution adalah panitera sekretaris PN Jakarta Pusat saat itu.

Baik Doddy maupun Edy Nasution telah divonis serta hukuman untuk keduanya sudah berkekuatan hukum tetap atau inkrah. Doddy menjalani hukuman 4 tahun penjara dan denda Rp 150 juta subsider 6 bulan kurungan, sedangkan Edy Nasution harus meringkuk di penjara selama 8 tahun dan membayar denda Rp 300 juta subsider 6 bulan kurungan.

Eddy Sindoro disebut sebagai Presiden Komisaris Lippo Group yang membawahi beberapa anak perusahaan, antara lain:
- PT Jakarta Baru Cosmopolitan (PT JBC) dan PT Paramount Enterprise International (PT PEI) dengan Ervan Adi Nugroho sebagai direktur.
- PT Metropolitan Tirta Perdana (PT MTP) dengan Hery Soegiarto sebagai direktur
- PT Across Asia Limited (PT AAL)

Perusahaan-perusahaan itu tengah menghadapi permasalahan hukum di tingkat PN Jakarta Pusat dan tingkat kasasi di Mahkamah Agung (MA). Untuk urusan di MA, Eddy Sindoro turun langsung berhubungan dengan Nurhadi selaku Sekretaris MA saat itu. Sedangkan untuk urusan di PN Jakarta Pusat, Eddy Sindoro mengutus Wresti Kristian Hesti Susetyowati berhubungan dengan Edy Nasution.

Dalam perkara itu, Edy Nasution disebut menerima:
- Rp 1,5 miliar dalam bentuk dolar Singapura dan Rp 100 juta dari Doddy Aryanto Supeno atas arahan Wresti Kristian Hesti Susetyowati, Ervan Adi Nugroho, Hery Soegiarto, dan Eddy Sindoro.
- USD 50 ribu dari Agustriyadhy atas arahan Eddy Sindoro.
- Rp 50 juta dari Doddy Aryanto Supeno atas arahan Wresti Kristian Hesti Susetyowati dan Ervan Adi Nugroho.

Sedangkan peruntukan pemberian uang itu pada Edy Nasution adalah sebagai berikut:
- Pemberian Rp 1,5 miliar dalam bentuk dolar Singapura itu agar Edy Nasution melakukan pengurusan perubahan redaksional (revisi) surat jawaban dari PN Jakarta Pusat untuk menolak permohonan eksekusi lanjutan dari ahli waris berdasarkan Putusan Raad Van Justitie Nomor 232/1937 tanggal 12 Juli 1940 atas tanah lokasi di Tangerang, atau agar Edy Nasution tidak mengirimkan surat tersebut kepada pihak pemohon eksekusi lanjutan.
- Pemberian Rp 100 juta agar Edy Nasution mengurus penundaan teguran aanmaning perkara niaga PT PT MTP melalui PN Jakarta Pusat sesuai Putusan Singapura International Arbitration Centre (SIAC) Nomor 62 Tahun 2013 tertanggal 1 Juli 2013, ARB Nomor 178 Tahun 2010.
- Pemberian USD 50 ribu ditambah Rp 50 juta agar Edy Nasution mengurus pengajuan Peninjauan Kembali (PK) PT AAL dalam perkara niaga melalui PN Jakarta Pusat meskipun telah melewati batas waktu.

Namun dalam putusan kasasi Edy Nasution, pemberian Rp 1,5 miliar dalam bentuk dolar Singapura belum dapat dibuktikan. Sementara untuk pemberian Rp 100 juta, USD 50 ribu, dan Rp 50 juta disebut terbukti diterima Edy Nasution. Selain itu, Edy Nasution disebut terbukti menerima gratifikasi sebesar Rp 10.350.000, USD 70 ribu, dan SGD 9.852.[mr/dtk]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...