BNN: Buwas Minta Sipir dari TNI, Tapi...

Konfrontasi - Peredaran narkoba yang dikendalikan dari dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kian marak. Badan Narkotika Nasional (BNN) mengatakan, 70 persen peredaran narkotika justru dikendalikan para bandar dari dalam penjara.

"Munculnya permasalahan ini membuat pak Budi Waseso (Kepala BNN) menginginkan sipir penjara dari angkatan darat yang masih nasionalis dan tidak terkontaminasi," kata Deputi Pencegahan BNN Antar MT Sianturi saat jumpa pers acara 10K Solo Keren Tanpa Narkoba, Minggu (8/5/2016).

Sayang, keinginan Budi Waseso itu terbentur peraturan. "Peraturannya tidak memungkinkan. Menteri Hukum dan HAM, Yasona Laoly kemudian akan merekrut dari purnawirawan," kata dia.

Antar menilai, sipir yang tidak mudah dipengaruhi dengan iming-iming apa pun merupakan hal yang sangat penting. Sedangkan untuk mendidik sipir saat ini dengan materi nasionalisme agar tidak mudah terkontaminasi tentu saja akan memakan waktu.

Begitu pula dengan lapas khusus bagi pelaku penyalahgunaan narkoba, Gunung Sindur di Jawa Barat. Selain disebabkan oknum lapas, regulasi pun sangat mempengaruhi.

"Ya penjaganya juga harus yang betul-betul bersih supaya tidak ada kesan hanya memindahkan tempat saja," ujar dia.

"Kalau di Malaysia dan Singapura, begitu ada bandar yang divonis mati langsung diikuti dengan eksekusi mati. Sedangkan negara kita, misalnya sudah dijatuhi hukuman mati bukan berarti sudah dieksekusi. Di Undang Undang kita masih punya hak dia meminta grasi meminta PK dan seterusnya," imbuh dia.

Bandar-bandar yang mengendalikan peredaran narkoba dari dalam lapas, lanjut dia, seringkali menggunakan teknologi canggih. "Contohnya Bandar di Cipinang, mereka malah punya provider sendiri, sehingga sulit terlacak. Ini yang memerlukan kerja sama bagus antara BNN, Lapas, dan pihak kepolisian," pungkas dia. (mtv/mg)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA