16 October 2018

Anggota DPR RI Masinton Aniaya Staf Ahli, MKD Koordinasi dengan Polri

Konfrontasi - Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI akan melakukan pendalaman terkait kasus penganiayaan yang dilakukan anggota Fraksi PDI Perjuangan Masinton Pasaribu terhadap staf ahlinya yang bernama Dita Aditya Ismawati (27) pada 21 Januari 2016 lalu.

Anggota MKD DPR RI, Sarifuddin Sudding mengatakan, sambil menunggu laporan pihaknya tetap akan bekerja mendalami atau mencermati insiden tersebut.

“MKD secepatnya berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan mendukung proses hukum yang memang menjadi kewenangannya. Untuk itu kita hormati bila polisi terlebih dahulu dibanding MKD memprosesnya,” kata Ketua Fraksi Hanura di MPR RI ini saat dihubungi, Minggu (31/01/2016).

Seperti diberitakan sebelunya, kasus pemukulan yang dilakukan anggota Komisi III DPR RI Masinton Pasaribu terhadap staf ahlinya, Dita Aditya Ismawati terus berlanjut. Setelah melaporkan ke ke Breskrim Mabes Polri, perkara tersebut kini juga akan diadukan ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR.

“Kami ada rencana melaporkan itu ke MKD,” kata Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah Partai Nasdem DKI Jakarta Wibi Andrino, Minggu (31/01/2016).

Dita Aditya yang menjadi staf ahli Masinton merupakan kader DPW Partai Nasdem DKI Jakarta.

Selain ke Mahkamah Kehormatan Dewan, Wibi mengaku juga akan melaporkan anggota Fraksi PDI Perjuangan tersebut ke Komisi Nasional Perempuan.

Saat ini, kata Wibi, pihaknya sedang memikirkan matang-matang langkah yang akan diambil sebab mereka sedang berhadapan dengan seorang anggota DPR.

Sementara itu Masinton tetap mengelak tuduhan pemukulan tersebut. “Kalau dibilang saya mukul enggak benar banget itu,” kata Masinton.

Masinton menjelaskan, kejadian bermula saat dirinya bersama supir dan staf ahlinya baru pulang sekitar pukul 23.00 WIB dari sebuah acara. Dita, disebut Masinton, minta dijemput di sebuah kafe di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.

Karena diketahui Dita sedang dalam kondisi mabuk berat, Masinton menjemputnya melalui sang supir. Dengan kondisi mabuk, Dita dibawa ke mobil oleh sang supir. “Dia duduk depan. Supirku duduk disampingku, dan staf ahliku bawa mobilku. Jemput mobil dia di kantor Partai NasDem,” ujarnya.

Lebih lanjut, Masinton menerangkan, selama perjalanan Dita histeris karena mabuk. Di Jalan Matraman, Dita sempat muntah, dan di sekitar Jalan Otista, Masinton mengatakan mobil sempat rem mendadak dan oleng ke kiri karena stir ditarik. “Tangannya ditepis terpental kena wajahnya,” tuturnya.

Lantas, Masinton menyebutkan Dita turun di MTH Square. Sempat ditawari berobat, namun Dita menolak. Masinton pun heran ketika Dita melaporkan dirinya ke Bareskrim Polri, karena saat itu dia mengaku tak melihat ada darah di wajah Dita.

“Ini berarti kita udah tau kan motifnya politis. Aku dituduh mukul dia, ini pembunuhan karakter. Tanggal 21 sudah mau sepuluh hari, terus dia enggak masuk kirain pemulihan. Enggak ada apa-apa kok tiba-tiba aja,” jelasnya.

Masinton belum akan memgambil langkah-langkah hukum atau pelaporan balik. Dia masih menunggu perkembangan kasus yang kini ditangani Bareskrim Polri.

Masinton dilaporkan atas perkara dugaan tindak pidana penganiayaan sebagaimana dijelaskan dalam pasal 351 KUHP. Laporan Dita tertuang dalam tanda bukti lapor nomor TBL/73/1/2016/Bareskrim dengan laporan polisi nomor: LP/106/1/2016/Bareskrim tertanggal 30 Januari 2016.

Laporan dibuat sendiri oleh Dita yang menyebut pekerjaannya sebagai Staf Ahli DPR RI. Dalam laporan itu, tercatat berusia 28 tahun, tinggal di Kota Bogor, Jawa Barat. Sedangkan terlapor adalah Masinton Pasaribu anggota Komisi III DPR FPDIP.

Di lain pihak, Sejretaris DPW NadDem DKi Jakarta, Wibi Andrino mengungkapkan, bahwa tindakan Masinton yang mengelak dan tak mau mengakui tindakannya atas Dita sebagai suatu tindakan pengecut. “Laki-laki ini tak berjiwa ksatria, dia mengorbankan orang lain, dan ngebantalin orang lain,” ujar Wibi.

Wibi menjelaskan bahwa bagi Dita, Masinton adalah mentor politik. Meski Dita anggota DPW Nasdem DKI Jakarta, selama menjadi tenaga ahli Masinton dia belajar politik dari anggota Fraksi PDI Perjuangan itu. “Makanya secara batin, Dita agak depresi,” ujarnya.

Sebab itu, Wibi meminta Masinton agar tak lagi mengumbar kebohongan di depan publik. Ia mendesak Masinton meminta maaf kepada Dita. “Kalau begitu akan selesai kok,” katanya. (lnsaid/ar)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...