14 December 2019

Menggugat Penguasa Zalim dengan Doa-doa Mustajab

KONFRONTASI -   Di antara sunnatullah yang sudah lazim adalah Allah SWT pasti akan menghukum penguasa dan raja-raja yang zalim. Sebagai contohnya adalah ketika Allah SWT menghancurkan raja Abrahah yang hendak menyerang Ka’bah. Sebelum menyerang Ka’bah Abrahah merampas 200 unta milik Abdul Muththolib. Kemudian kekek Nabi Muhammad SAW pergi menemui Abrahah. Sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Katsir

“Tatkala Abrahah melihat Abdul Muttholib dia pun memuliakannya. Abdul Muttholib adalah seorang yang tampan dan berpenampilan indah. Abrahah kemudian turun dari singgasananya (karena menghormati Abdul Muttholib –pent) lalu duduk bersama Abdul Muttholib di karpet. Abrahah berkata kepada penerjemahnya, “Tanyakan kepadanya, apa keperluannya?” Abdul Muttholib berkata kepada si penerjemah, “Keperluanku adalah agar sang raja Abrahah mengembalikan kepadaku 200 ekor ontaku yang diambil oleh sang raja”. Maka Abrahah berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepada Abdul Muttholib, sungguh tadinya engkau membuatku kagum tatkala melihatmu, namun aku menjadi menyepelekanmu ketika engkau berbicara denganku (mengenai onta tadi -pent). Apakah engkau berbicara denganku mengenai 200 ekor ontamu yang aku ambil agar aku mengembalikannya padamu, lalu engkau membiarkan ka’bah yang merupakan agamamu dan agama nenek moyangmu, sementara aku datang untuk menghancurkannya, lantas engkau tidak berbicara kepadaku tentang ka’bah?”

Maka Abdul Muttholib berkata kepada Abrahah :

إِنِّي أَنَا رَبُّ الْإِبِلِ، وَإِنَّ لِلْبَيْتِ رِبًّا سَيَمْنَعُهُ

“Sesungguhnya aku adalah pemilik onta, dan sesungguhnya Ka’bah punya pemilik sendiri yang akan membelanya”

Abrahah berkata,

مَا كَانَ لِيَمْتَنِعَ مِنِّي

“Dia tidak akan bisa mencegahku (untuk menghancurkan ka’bah)”

Abdul Muttholib kemudian berkata, أَنْتَ وَذَاكَ  “Itu urusanmu denganNya.”  (Tafsir Ibnu Katsir 8/485)[1]

Sebagaimana Allah SWT menghancurkan Abrahah yang hendak menghancurkan Mekkah, Allah juga membinasakan para pemimpin yang menzalimi kaum muslimin. Namun berbeda dengan kisah Abrahah yag dihancurkan burung Ababil, Allah mengancurkan para pemimpin zalim itu dengan do’a orang-orang sholih yang terzalimi.

Hajjaj, Binasa karena Do’a Sa’id bin Jubair

Sejarah Hajjaj memang bergelimang darah kaum muslimin. Namun siapa sangka kematian Hajjaj disebabkan karena do’a seorang ulama tabi’in yang bernama Sa’id bin Jubair. Diceritakan ketika Hajjaj berhasil menangkap Sa’id, terjadi dialog di antara keduanya.

Hajjaj: “Bagaimana pendapatmu tentang diriku?”

Sa’id: “Engkau lebih tahu tentang dirimu sendiri.”

Hajjaj: “Aku ingin mendengarkan pendapatmu.”

BACA JUGA  Tingkatan Manusia dalam Membantu Kezaliman
Sa’id: “Itu akan menyakitkan dan menjengkelkanmu.”

Hajjaj: “Aku harus tahu dan mendengarnya darimu.”

Sa’id: “Yang kuketahui, engkau telah melanggar Kitabullah, engkau mengutamakan hal-hal yang kelihatan hebat padahal justru membawamu ke arah kehancuran dan menjurumuskanmu ke neraka.”

Hajjaj: “Kalau begitu, demi Allah aku akan membunuhmu.”

Sa’id: “Bila demikian, maka engkau merusak duniaku dan aku merusak akhiratmu.”

Hajjaj: “Pilihlah bagi dirimu cara-cara kematian yang kau sukai.”

Sa’id: “Pilihlah sendiri wahai Hajjaj. Demi Allah, untuk setiap cara yang kau lakukan, Allah akan membalasmu dengan cara yang setimpal di akhirat nanti.”

Hajjaj: “Tidakkah engkau menginginkan ampunanku?”

Sa’id: “Ampunan itu hanyalah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan engkau tak punya ampunan dan alasan lagi di hadapan-Nya.”

Memuncaklah kemarahan Hajjaj. Kepada algojonya diperintahkan: “Siapkan pedang dan alasnya!”

Sa’id tersenyum mendengarnya, sehingga bertanyalah Hajjaj,

Hajjaj: “Mengapa engkau tersenyum?”

Sa’id: “Aku takjub atas kecongkakanmu terhadap Allah dan kelapangan Allah terhadapmu.”

Hajjaj: “Bunuh dia sekarang!”

Sa’id: (Menghadap kiblat sambil membaca firman Allah Ta’ala):

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (QS. Al-An’am: 79)

Hajjaj: “Palingkan ia dari kiblat!”

Sa’id: (Membaca firman Allah Ta’ala)

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.” (QS. Al-Baqarah: 115)

Hajjaj: “Sungkurkan dia ke tanah!”

Sa’id: (Membaca firman Allah Ta’ala)

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Thaha: 55)

Hajjaj: “Sembelihlah musuh Allah ini! Aku belum pernah menjumpai orang yang suka berdalih dengan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti dia.”

Sa’id: (Mengangkat kedua tangannya sambil berdoa), “Ya Allah jangan lagi Kau beri kesempatan ia melakukannya atas orang lain setelah aku.”

Tak lebih dari lima belas hari setelah wafatnya Sa’id bin Jubair, mendadak Hajjaj bin Yusuf terserang demam. Kian hari suhu tubuhnya makin meningkat dan bertambah parah rasa sakitnya hingga keadaannya silih berganti antara pingsan dan siuman. Tidurnya tak lagi nyenyak, sebentar-sebentar terbangun dengan ketakutan dan mengigau: “Ini Sa’id bin Jubair hendak menerkamku! Ini Sa’id bin Jubair berkata: “Mengapa engkau membunuhku?” Dia menangis tersedu-sedu menyesali diri: “Apa yang telah aku perbuat atas Sa’id bin Jubair? Kembalikan Sa’id bin Jubair kepadaku!”

BACA JUGA  Dubes: Organisasi Internasional Diam Saat Zionis Hancurkan Pemukiman Palestina
Kondisi itu terus berlangsung hingga dia meninggal. Setelah kematian Hajjaj, seorang kawannya pernah memimpikannya. Dalam mimpinya itu dia bertanya kepada Hajjaj: “Apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perbuat terhadapmu setelah membunuh orang-orang itu, wahai Hajjaj?”

Dia menjawab, “Aku disiksa dengan siksaan yang setimpal atas setiap orang tersebut, tapi untuk kematian Sa’id bin Jubair aku disiksa 70 kali lipat.”[2]

Sufyan Ats-Tsauri dan Abu Ja’far Al-Manshur

Di dalam sejarah diriwayatkan bahwa Ahli Hadits dan Ahli Fikih Sufyan Ats-Tsauri mengingkari para pemimpin daulah Abbasiyah atas kezaliman yang mereka lakukan. Sufyan Ast-Tsauri juga terus mengingatkan jika menyaksikan kezaliman mereka. Maka Abu Ja’far Al-Manshur (khalifah ketika itu) ingin membungkam Sufyan Ats-Tsauri, maka ditawarkan kepadanya jabatan qadhi di Irak. Namun Sufyan menolak.

Ketika Sufya Ats-Tsauri menolak, maka Abu Ja’far mulai memberikan ancaman, tersiar kabar bahwa dia akan dihukum mati. Mendengar hal itu Sufyan melarikan diri ke sana ke mari. Setelah sempat melarikan diri ke sana kemari, Sufyan akhirnya menuju Mekkah. Kabar ini tersiar dan sampai kepada Abu Ja’far. Abu Ja’far langsung memerintahkan untuk menangkap Sufyan dan menyalibnya di pintu masjidil haram, hingga Abu Ja’far sampai ke kota Mekkah dan menghukum mati Sufyan dengan tangan sendiri.

Ketika itu Abu Ja’far dalam perjalanan menuju masjidil haram, memimpin manusia untuk melakukan haji. Ketika Sufyan mendengar para pasukan memperbincangkan kedatangan Abu Ja’far, beliau berjalan menuju ka’bah dan berdoa kepada Allah:

اللهم إني أقسمت عليك ألا يدخل أبو جعفر مكة

Artinya, “Ya Allah saya bersumpah atas diri-Mu agar jangan sampai Abu Ja’far memasuki kota Mekkah.”

Seketika itu Abu Ja’far Al-Manshur terjatuh dari kudanya sebelum memasuki kota Mekkah. Dan Abu Ja’far dibawa ke kota Mekkah dalam keadaan meninggal dan Sufyan Ats-Tsauri ikut menyolatkan jenazahnya. Mengomentari kisah ini Imam Adz-Dzahabi berkata, “Ini karomah yang nyata.”[3]

Penulis: Aiman

Editor: Arju

 

 

[1] Dinukil dari Firanda.com

[2] Kisah ini dinukil dari kisahmuslim.com

[3] Dikutip dari Istidlal.org.(jft/KIBLAT)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...