Memetik Hikmah dari Pandemik Corona dan Isolasi Diri

Teman-teman yang disayang Allah! 

Banyak di antara kita yang dipaksa oleh keadaan untuk mengurung diri di rumah masing-masing. Belum lagi yang memang harus mengkaratina diri karena dikhawatirkan terdampak virus Corona itu. Apalagi yang memang kotanya/negaranya sedang "lockdown" atau ditutup dari kegiatan apapun, kecuali yang bersifat emergensi. 

Hal ini pastinya tidak mudah. Apalagi untuk mereka yang terbiasa aktif dengan berbagai kegiatan di luar rumah. Pasti merasa tertekan, sempit, bahkan ada kecenderungan marah bahkan frustrasi. 

Saya hanya ingin mengingatkan singkat. Seperti yang sering kita ulang-ulang di masa lalu. Tak sebuah apapun yang terjadi dalam hidup ini kecuali memang ada takdirnya. Dan sekaligus pasti ada hikmahnya. 

Ratusan ribu orang yang sakit. Puluhan ribu yang kehilangan nyawa. Perekonomian dunia ambruk seketika. Pusat-pusat pencarian rezeki orang, dari restoran, toko, hingga ke travel dan penerbangan terhenti. Seolah lalu lintas perekoniman dunia mengalami kemacetan dan lumpuh seketika. Jutaan manusia kehilangan pekerjaan dan sumber rezekinya.

Sekolah-sekolah ditutup. Universitas dan semua pusat-pusat pendidikan ditutup. Dan lebih menyedihkan rumah-rumah ibadah juga mengalami nasib yang sama. Hati-hati manusia yang terikat dengan rumah-rumah ibadah itu menjerit kesedihan. Bahkan Mekah dan Madinah mengalami hal yang sama. 

Tapi yakinlah. Jangan pernah ragu. Di balik segala tantangan itu tersembunyi segala peluang. Hidup memang bukan satu warna. Dan dunia ini terus bergerak, berputar silih berganti. 

Karenanya jangan sedih. Jangan berkecil hati. Jangan merasa sumpek. Jangan putus harapan dan motivasi. Buka tirai dari semua tantangan itu dan gapai semua peluang yang tersembunyi itu. 

Tinggal dan mengisolasi diri di rumah itu tantangan. Tabiat manusia ingin bergerak dan berjalan. Pikiran yang terbang jauh ke mana-mana, mendorong kaki manusia untuk melangkah. Ingin berjalan menggapai banyak yang diimpikan. 

Renungkan sejenak. Di masa silam ketika semua belum tersedia. Ketika hidup di kampung yang alami. Tiada jalan raya. Tiada kendaraan. Tiada listrik. Apalagi TV dan HP. Kita tinggal di rumah lebih lama dan nyaman. 

Di saat itu kita masih ada waktu bercengkrama dengan sanak keluarga. Makan bersama. Cuci piring dan angkat air bersama dari sumur dekat rumah. Lalu tidur di dalam rumah sederhana kita bersama. Bunyi jangkrik dan suara-suara burunglah yang membangunkan kita. Bukan alarm HP. 

Teman-teman, di saat-saat seperti ini mari ambil hikmah terbesarnya. Inilah hari-hari kebersamaan dengan keluarga. Bersama dalam kebaikan. Bersama dalam melaksanakan sholat berjamaah. Bersama secara fisik dan insya Allah jiwa. 

Jadikan Quarantine time menjadi Quran-time. Pergunakan waktu yang ada dengan hal-hal positif. Baca Al-Quran, baca Hadits, baca buku-buku agama. Atau pergunakan untuk merenung dan menuangkannya dalam goresan tintah seperti ini. 

Social distancing bukan social disconnection. Jaga hubungan. Jaga silaturrahim. Tetap get connected setiap saat. Di saat satu pintu tertutup Allan membuka pintu-pintu yang lain. 

Dalam situasi seperti ini tetap "tie the camel then trust your Lord" (ikat ontanya lalu tawakkal kepada Allah). Kuatkan iman. Tawakkal padaNya. Seraya berusaha menjaga diri. Doa adalah senjata yang ampuh....

 

Salam dari kami di Jamaica Hills 

______________

Oleh: Imam Shamsi Ali

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA