Meletakkan Strategi Pembinaan Umat (Agenda Pembinaan Umat dan Negara 1)

Oleh: Nasaruddin Umar

PADA 19-21 Agustus 2013 silam, penulis diundang sebagai pembicara di dalam sebuah Konferensi Internasional tentang The Project of a Viable and Sustinable Modern Islamic State, yang diselenggarakan oleh The Royal Aal al-Baut Institute for Islamic Thought, sebuah institusi semi pemerintah yang didukung penuh oleh HRH Prince Ghazi bin Muhammad bin Talal, keluarga sekaligus penasehat senior kerajaan Yordania.

Lembaga ini sangat aktif melakukan Joint Research and Interfaith Dialog. Salahsatuproduknya setiap tahun menerbitkan buku: The Worlds 500 Most Influentioal Muslims, menyeleksi 500 tokoh muslim paling berpengaruh di dunia dari tahun ke tahun.

Dalam konferensi kali ini disoroti bagaimana mengaktualisasikan nilai-nilai Islam di dalam masyarakat dan negara modern. Tidak kurang dari 200 pakar diundang dari berbagai negara untuk merumuskan apa yang diistilahkan dengan "Project" untuk pengembangan umat dan negara.Para peserta diminta tidak hanya memaparkan aspek teoretis tetapi sekaligus langkah-langkah kongkrit, sekaligus pengalaman negara masising-masing di dalam menjembatani antara nilai-nilai keumatan dan nilai-nilai kemodernan.

Umumnya para peserta melihat pentingnya menghidupkan dan melestarikan nilai-nilai keumatan dan nilai-nilai kemodernan berjalan seiring dan paralel. Satu sisi masyarakat umat tetap mempertahankan nilai-nilai luhur keagamaannya masing-masing sebagai pembina moral individu, keluarga, dan masyarakat di satu sisi, dan pada sisi negara modern diperlukan untuk mewadahi masyarakat umat sebagai bagian dari tuntutan zaman.

Topik-topik penting yang dibahas dalam konferensi itu antara lain: Wujud Negara Ideal bagi Masyarakat Islam Modern, Hak dan Kewajiban Non-Muslim di dalam Negara Muslim, sekaligus Posisi Komunitas Muslim di Negara mayoritas Non-Muslim. Dipaparkan juga studi kasus dan pengalaman sejumlah negara mayoritas muslim menyiasati perkembangan masyarakat di dalam suatu wadah negara modern.

Dalam konferensi kali ini tidak dibicarakan konflik internal umat Islam dalam suatu negara seperti yang marak terjadi di negara-negara Islam di kawasan Timur-Tengah saat ini. Konferensi ini juga tidak menyinggung secara khusus konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina.

Konferensi ini lebih banyak menyoroti faktor sebab yang menyebabkan perpecahan dan konflik internal itu muncul. Diharapkan jika prinsip negara ideal untuk masyarakat muslim modern bisa dirumuskan maka akan mengurangi ketegangan internal dan regional.

Secara umum para pembicara melihat pentingnya membaca ulang kembali dengan kritis ayat-ayat dan hadis serta pengalaman sejarah masa lampau dunia Islam. Reaktualisasi sejumlah ayat dan hadis diperlukan guna menyejajarkan kondisi obyektif dunia Islam yang hidup dalam sebuah era global dan berbeda jauh dengan kondisi obyektif yang pernah menjadi adres awal ayat-ayat atau hadis itu. Semangat umum ajaran Islam (maqashid al-syariah) perlu lebih disosialisasikan dan dijabarkan ke dalam system pendidikan negara-negara muslim. [Juft/Inilah]

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA