27 February 2020

Trump Terima Banyak Masukan Sebelum Batalkan Serangan Militer ke Iran

KONFRONTASI-Suasana di dalam Situation Room, Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat (AS) dipenuhi ketegangan saat Presiden AS Donald Trump menyetujui rencana serangan ke Iran sebelum kemudian membatalkannya di menit-menit akhir. Salah satu anggota parlemen AS menyebut Trump terlihat 'menderita' saat itu.

Seperti dilansir CNN, Sabtu (22/6/2019), sejumlah anggota parlemen AS ikut hadir di Situation Room saat rapat pengambilan keputusan untuk serangan militer ke Iran digelar pada Kamis (20/6) waktu setempat. Serangan itu dimaksudkan sebagai balasan atas aksi Iran menembak jatuh drone militer AS, Global Hawk RQ-4.

Sebagai 'commander-in-chief' atau panglima tertinggi AS, Trump saat itu harus mengambil keputusan berat yang bisa berdampak sangat besar.

Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri Senat AS, James Risch, menyebut Trump saat itu tampak fokus 'menggali' perspektif dan argumen berbeda yang disampaikan oleh para anggota parlemen juga penasihat-penasihat keamanannya. Namun satu hal yang pasti, sebut Risch, Trump adalah presiden yang 'tidak ingin berperang'.

"Saya sungguh-sungguh melihatnya menderita atas semua ini. Semuanya (keputusan) mengerucut pada satu pria," sebut Senator Idaho dari Partai Republik ini kepada sekelompok kecil wartawan saat menceritakan momen yang disaksikannya di dalam Situation Room.

"Presiden sungguh bergumul atas ini," timpal Ketua Komisi Angkatan Bersenjata House of Representatives (HOR) AS, Adam Smith, dari Partai Demokrat.

Dilema yang dirasakan Trump berhadapan dengan tim keamanan nasionalnya yang nyaris sepenuhnya meyakini AS harus membalas Iran yang menembak jatuh drone militer AS di Selat Hormuz. Serangan militer via udara terhadap sejumlah target Iran diyakini sebagai balasan yang pantas oleh tim keamanan nasional Trump.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...