16 August 2018

Tragedi 13 Februari, Adakah Angkatan Bersenjata Revolusi Nasional Patani?

KONFRONTASI - Peristiwa 13 February tahun 2013 yang lepas menunjukkan adanya kumpulan bersenjata dengan makar melakukan perlawanan di rantau ini, tujuan untuk kemerdekaan bangsa Patani.

Dimana pada hari tersebut berlaku operasi serangan terhadap kamp tentara di daerah Bachok, Narathiwat, demikian mengidentifikasi sebagai pejuang pembebasan Patani yang dikomandan oleh Muhammad Rasul bin Ibrahim atau Maroso bersama rekannya. Pada akhirnya operasi gerilyawan ini terperangkap semua 16 orang tewas di tempat kejadian itu.

Sebelum peristiwa ini terjadi, banyak pihak menganggap dan percaya kasus itu terjadi dari aparat pertahanan Thailand atau kumpulan yang bertindak hanya untuk kepentingan dan ingin berkuasa dalam masyarakat. Sekiranya dianggap daerah ini tidak sedang terjadinya pergolakan antara pihak berkuasa Thailand dengan kumpulan yang memiliki ideologi berbeda atau perjuangan untuk pembebasan Patani.

Hal senada yang diungkap oleh Artef Sohko, koordinator The Patani atau Patani Viewers mengatakan bahwa, 13 February adalah sebuah peristiwa yang membuktikan adanya kumpulan yang melawan  penindasan.

"...Dimana sebelum ini beberapa pihak menolak pendapat itu, dan sebagian orang menyebutkan kasus yang terjadi selama ini, oleh sebab tentara Thailand ingin anggaran tertentu (korupsi), ada pendapat lain menyebut kumpulan penjualan barang gelap yang beroperasi serangan sana-sini," kata Artef.

Hal tersebut diungkapkan pada Selasa (13/02/2018) di Patani Artspace, Donrak, Nongcik, saat gelaran Disuksi Kreatif waktu sore diselenggarakan oleh Persekutuan Mahasiswa Anak Muda dan Siswa SePatani (PerMAS).

"Namun apabila terjadinya peristiwa pada hari itu mengakibatkan 16 pejuang pembebasan Patani tewas, maka nyatalah hal terjadi selama ini jelas bahwa adanya Angkatan Bersenjata Revolusi Nasional Patani (ABRNP) sebagai sayap militer oleh kumpulan pembebasan Patani," pungkas Artef dalam Diskusi Kreatif, Selasa (13/02/2018).

Sebuah daerah yang dihuni mayoritas Muslim Melayu ini sedang mengalami krisis kemanusiaan yang hebat. Pergolakan terjadi 14 tahun selama ini, krisis yang sangat serius dengan dampak yang berpotensi parah terhadap keamanan kawasan ini.

Berdasarkan laporan Thai PBS pada awal tahun 2018, menunjukkan angka korban meningkat daripada tahun 2017, kini sudah 7,000 lebih nyawa melayang sejak 2004. Hal tersebut yang menjadi korban bukan hanya tentara Thailand atau anggota pejuang pembebasan Patani yang sedang bergolok. Namun lebih banyak korban jatuh kepada warga sipil yang juga menjadi sasaran kekerasan dalam era perang rakyat semesta (revolusi Patani) di Utara Semenanjung ini.(Jft/turanisia.com)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...