27 April 2018

Shaaban, Pembantu Assad Ledek Barat: Pertahanan Suriah Lebih Pintar dari Rudal AS

KONFRONTASI -  Penasihat politik untuk Presiden Bashar al-Assad memuji sistem pertahanan udara Suriah. Sebagian besar rudal yang ditembakkan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya pada akhir pekan lalu berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Suriah.

Dalam pernyataan yang diterbitkan situs al-Mayadeen yang berbasis di Lebanon, Bouthaina Shaaban mengatakan kemenangan menandai awal dari  

  akhir kerajaan AS

  

 

"Pecahnya agresi jahat mereka adalah awal dari lenyapnya kekaisaran mereka, yang akan digantikan oleh kekuatan baru yang menghormati kemanusiaan, kedaulatan dan keamanan masyarakat," katanya seperti dilansir dari Press TV, Selasa (17/4/2018).

Pada Sabtu pagi, AS bersama Inggris dan Prancis meluncurkan rentetan serangan rudal melaksanakan perintah Presiden Donald Trump. Serangan itu sebagai tanggapan atas apa yang mereka klaim sebagai serangan kimia di kota Douma yang dikuasai militan.

Suriah, yang menyerahkan seluruh persediaan bahan kimia di bawah kesepakatan yang dinegosiasikan oleh Rusia dan AS pada 2013, mengatakan pihaknya telah mencegat sebagian besar rudal yang ditembakkan.

“Fakta paling penting yang harus kita catat di sini untuk Trump adalah bahwa misilnya tidak cerdas, tidak akurat - dan bahwa pertahanan udara Suriah telah memberikan bukti bahwa mereka lebih pintar dan akurat daripada misilnya. Dia harus berhati-hati tentang tweet-nya,” ledek Shaaban.

Perempuan berusia 65 tahun itu mengacu pada tweet Trump sebelum serangan, memperingatkan Suriah dan sekutunya untuk bersiap-siap menghadapi serangan misil. Trump menyebut bahwa misil-misil yang diluncurkan akan menghindari pertahanan udara karena mempunyai kualitas yang "baik dan baru serta cerdas."

Shaaban mencatat bahwa serangan udara yang dipimpin AS tidak mengintimidasi orang-orang Suriah dan malah membuat warga Israel meringkuk, berebut tempat perlindungan serangan udara.

“Alih-alih orang-orang Suriah pergi ke tempat penampungan, mereka pergi ke atap untuk menyaksikan pasukan Suriah menembak jatuh sejumlah rudal Trump sebelum mereka dapat mencapai tujuan mereka. Sementara para pemukim dari entitas Zionis melarikan diri ke tempat penampungan mereka," cetus Shaaban.

Shaaban juga menolak tuduhan kepala Pentagon Jim Mattis bahwa instalasi yang terkait dengan produksi senjata kimia telah dibom.

"Pusat Sains dan Penelitian yang memberikan pengetahuan kepada mahasiswa Suriah terbaik setiap tahun menjadi sasaran," tulisnya.“Trump menghancurkan institusi ini, yang tidak memiliki koneksi untuk memproduksi senjata apa pun. Ini adalah kebohongan perang tentang senjata kimia yang diciptakan Trump,” imbuhnya.

Pejabat Suriah itu mencatat bahwa Barat dan Israel bertujuan untuk mencapai "dua hal" di wilayah tersebut.

“Pertama adalah bahwa tidak ada persatuan di negara (Arab). Yang lain adalah bahwa (bangsa Arab) tidak mempersenjatai dirinya dengan sains dan pengetahuan, nilai tertinggi untuk manusia," ujarnya

“Tanggapan nyata terhadap agresi, pendudukan, dan upaya mereka untuk melikuidasi Palestina dan mempermalukan orang Arab dan pan-Arabisme adalah memiliki lebih banyak ilmu dan pengetahuan, dan untuk mengembangkan kemampuan dan pertahanan udara dan laboratorium kami, dan untuk menghasilkan apa pun yang mengamankan kebutuhan generasi kita,” tukas Shaaban.(Jft/Sindo)

Category: 
loading...

Related Terms