16 December 2018

Putin: Rusia Akan Tambah Senjata Nuklir

Konfrontasi - Presiden Rusia Vladimir Putin, Selasa (16/6), mengatakan negaranya akan menambah jumlah senjata nuklir dengan lebih dari 40 peluru kendali antarbenua pada tahun ini, yang dicap sebagai "penghasutan perang" oleh NATO dan "langkah mundur" oleh Washington.

Pernyataan petinggi Kremlin tersebut muncul ketika Rusia berang terhadap laporan atas rencana AS menambah persebaran militernya di Eropa Timur, sekaligus menambah ketegangan Rusia dengan Barat, yang meningkat sepanjang tahun lalu akibat sengketa Ukraina.

"Pada tahun ini, kekuatan nuklir kami akan bertambah dengan lebih dari 40 peluru kendali balistik antarbenua baru, yang mampu mengatasi, bahkan yang paling canggih, sistem pertahanan anti-rudal," kata Putin pada pembukaan pameran perangkat keras militer di luar Moskow.

Amerika Serikat menyuarakan keprihatinannya dan menyebut tindakan tersebut sebagai langkah mundur, yang mengingatkan kepada peristiwa Perang Dingin.

"Kami sudah bekerja sama sejak tahun 1990-an ke depan sehubungan dengan penghancuran senjata nuklir yang berada di wilayah bekas Uni Soviet. Dan tak seorang pun ingin melihat kita melangkah mundur," kata Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry.

"Tak seorang pun ingin kembali kepada kondisi semacam Perang Dingin," katanya.

Pemimpin NATO Jens Stoltenberg mengatakan pernyataan Putin adalah bagian dari pola perilaku berbahaya yang dilakukan oleh Moskow.

"Penghasutan perang dengan nuklir oleh Rusia tidaklah tepat, tidak stabil dan itu berbahaya," kata Stoltenberg.

Putin mengatakan bahwa Rusia akan mempertahankan diri jika merasa terancam, menuduh bahwa NATO "datang ke perbatasan (Rusia)".

Rusia diperkirakan memiliki 7.500 hulu ledak nuklir, menurut Institut Studi Perdamaian Internasional Stockholm, di mana 1.780 di antaranya digunakan pada rudal atau pangkalan militer.

Amerika Serikat, jika dibandingkan, memiliki sekitar 7.300 hulu ledak, di mana 2.080 di antaranya digunakan.

Polandia dan negara-negara lain di Eropa Timur dibuat bingung dengan tindakan Rusia di Ukraina, yang menganeksasi Semenanjung Krimea pada 2014 sebelum kelompok separatis pro-Moskow mulai memerangi pasukan militer Kiev di sebelah timur negara itu.

Kiev dan sekutunya menuduh Moskow telah mengirim pasukan dan senjata berat untuk mendukung kelompok separatis, tetapi Rusia membantah klaim tersebut.

Laporan persebaran AS NATO bergerak untuk menangani kegelisahan yang disebabkan oleh Rusia di Eropa Timur dengan meluncurkan latihan yang dipimpin AS di negara-negara Baltik dan Polandia awal bulan ini.

"The New York Times" melaporkan pada akhir pekan lalu bahwa Pentagon telah siap untuk menempatkan senjata berat untuk sekitar 5.000 tentara AS di beberapa negara Eropa Timur dan Baltik untuk cegah agresi Rusia.

Itu adalah pertama kalinya sejak berakhirnya Perang Dingin bahwa AS memiliki peralatan militernya, termasuk tank tempur, kepada anggota baru NATO yang berada di bawah pengaruh Moskow pada era Soviet.

Polandia, Minggu, mengatakan bahwa hal tersebut masih dalam pembicaraan dengan pihak AS di Washington terkait penempatan senjata berat di wilayahnya.

Sekretaris Angkatan Udara AS Deborah Lee James mengatakan jet tempur F-22 bisa dikerahkan ke Eropa apabila konflik dengan Moskow terjadi, lapor The Wall Street Journal, Senin.

Ketika ditanya tentang Moskow dan NATO yang meningkatkan kekuatan militer mereka di wilayah tersebut pada pertemuan di luar Moskow dengan Presiden Finlandia Sauli Niinisto, Putin mengatakan Rusia harus mempertahankan diri.

"Jika pihak lain menempatkan beberapa wilayah kami di bawah ancaman, itu berarti kami harus mengarahkan angkatan bersenjata dan kekuatan serangan modern di wilayah-wilayah dari mana ancaman tersebut berasal," katanya.

"Adalah NATO yang datang ke perbatasan kami, dan bukan kami yang bergerak ke suatu tempat," katanya.

Namun, dia mengatakan bahwa pengamat seharusnya tidak "melayangkan sesuatu yang di luar proporsi" sehubungan dengan dugaan ancaman dari NATO.

"Tentu saja kami akan menganalisis semuanya, mengikuti hal ini dengan hati-hati. Sejauh ini, saya tidak melihat adanya tanda-tanda yang akan memaksa kami untuk khawatir," kata Putin.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam wacana persebaran militer AS di wilayah tersebut, memperingatkan bahwa langkah itu bisa saja "membunuh diri sendiri".

Deputi Menteri Pertahanan Rusia Anatoly Antonov, Selasa, menuduh NATO "mendorong (Moskow) menuju perlombaan senjata," tulis lembaga negara RIA Novosti.

Pameran senjata Putin, Selasa, mengunjungi sebuah pameran senjata di situs luar ibu kota yang diatur sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah "Taman Patriot" yang menampilkan kekuatan militer Moskow.

Pemimpin Rusia, yang mendapatkan dukungan tinggi dan telah dipompa dengan dana besar untuk memperbaharui angkatan bersenjata Rusia, memuji kompleks industri militer di negara itu sebagai sebuah "lokomotif untuk inovasi".

Banyak negara di Eropa Timur yang dibuat gelisah dengan ekspansi Rusia di Ukraina.

Rusia telah menggunakan banyak bahasa perang sebagai wujud untuk memperdalam kebuntuan dengan Barat, termasuk menunjuk ke persenjataan nuklirnya.

Pada Maret, Putin mengatakan bahwa dirinya telah siap untuk menempatkan pasukan nuklir negara itu dalam kondisi siaga yang sama ketika bergerak untuk menganeksasi Krimea tahun lalu.(akl/ar)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...