19 September 2019

Puluhan Peziarah Kristen Tersesat di Pegunungan PNG, 11 Orang Tewas

KONFRONTASI-Kelompok warga Kristen berjumlah 30 orang yang hendak menghadiri kegiatan keagamaan di Dataran Tinggi Papua Nugini (PNG) tersesat 10 hari lalu. Persediaan bahan makanan yang mereka bawa di negara tetangga Indonesia itu sangat terbatas.

Bantuan sudah dikerahkan ke sana setelah beberapa orang berhasil menyelamatkan diri turun dari gunung di akhir pekan, dan melaporkan bahwa belasan lain masih tersesat di daerah pegunungan.

Tim penyelamat menggunakan helikopter sudah dikirim ke daerah tersebut pada Minggu, namun insiden ini sudah menimbulkan korban jiwa sebanyak 11 orang dilaporkan tewas, termasuk seorang pendeta.

Mayat mereka sudah ditemukan. Sedikitnya tiga orang lagi belum ditemukan. Kelompok peziarah ini berangkat 10 hari lalu untuk menghadiri perayaan keagamaan Kristen di kota Kabwum, namun mereka tersesat di pegunungan Saruwaged Ranges, Provinsi Morobe.

Pilot helikopter Jurgen Ruh mengatakan timnya berhasil menyelamatkan delapan orang kemarin, dan menambahkan bahwa mereka akan ke lokasi lagi pada Senin untuk mengirim makanan dan mengevakuasi yang masih berada di daerah pegunungan tersebut.

"Kami hanya bisa membawa tiga orang dalam helikopter sekali jalan." kata Ruh kepada ABC.

"Kawasan pegunungan bisa berkabut selama beberapa hari dan hanya cukup terang untuk didarati selama beberapa jam di pagi hari."

Ia menggambarkan daerah pegunungan ini sebagai daerah yang sulit dijangkau dengan ketinggian sekitar tiga ribu meter dari permukaan laut dan suhu bisa mencapai 8 derajat celcius di malam hari.

"Suhu dingin dan cuaca buruk. Mereka tidak mempersiapkan diri dengan baik dengan ketinggian dan cuaca yang membeku." kata Ruh.

Kelompok warga Kristen ini melakukan perjalanan untuk menghadiri perayaan 100 tahun kehadiran misionaris Kristen Jerman di daerah tersebut.

Misionaris Lutheran mendirikan gereja di sana 10 Agustus 1919, dan perayaan sudah dilakukan di beberapa kota di sekitar selama beberapa hari.

Wartawan PNG Scott Waide mengatakan perjalanan biasanya harus dilakukan selama dua hari, namun kelompok tersebut mungkin mengambil rute keliru di tengah cuaca yang buruk.

Banyak kelompok sudah melakukan perjalanan dari desa masing-masing namun karena tidak ada jalan yang jelas, perjalanan seperti ini berbahaya karena melewati kawasan pegunungan yang terpencil.

Perayaan utama akan dilakukan pada Senin dengan kehadiran Perdana Menteri Papua Nugini James Marape, namun perayaan ini diwarnai dengan tragedi dengan usaha evakuasi masih terus berlangsung.(mr/viva/abc)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...