11 December 2019

Erdogan Janjikan Suriah Bersih dari Terorisme

Konfrontasi - Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan Turki akan segera membersihkan Suriah dari semua kelompok teroris. Dia meminta sekutu NATO-nya untuk mendukung Ankara dalam perang melawan teror.

"Puluhan ribu senjata, kendaraan, dan peralatan diberikan secara gratis kepada kelompok-kelompok teror di Suriah utara yang kami lawan," kata Erdogan pada pertemuan buka puasa bersama para diplomat di Ankara, hari Jumat (10/5/2019).

Pasokan senjata gratis pada teroris yang dia maksud itu adalah dukungan Amerika Serikat (AS) kepada pasukan Unit Perlindungan Rakyat (YPG), afiliasi Partai Pekerja Kurdistan (PKK) di Suriah, yang oleh Ankara dinyatakan sebagai kelompok teroris.

"Kami akan segera membersihkan daerah-daerah Suriah yang dilanda teror dan memberi 4 juta warga Suriah kesempatan untuk pulang," katanya, seperti dikutip dari Daily Sabah, Sabtu (11/5/2019).

Para pejabat Turki telah mengisyaratkan meluncurkan operasi militer ke wilayah YPG di sebelah timur Sungai Eufrat jika ancaman teroris berlanjut. Para pejabat tinggi di Ankara juga telah mendiskusikan rencana untuk membangun zona aman di Suriah utara yang bebas dari YPG untuk memastikan keamanan nasional.

YPG telah menjadi sekutu AS dalam memerangi ISIS atau Daesh. Dukungan Washington untuk pasukan Kurdi itu telah berulang kali ditentang Ankara.

Erdogan menekankan bahwa sebagai anggota NATO dan mitra strategis, Turki tidak dapat membiarkan sekutu-sekutunya salah bertindak. Dia secara khusus mengutip penjatuhan sanksi, seperti yang telah dilakukan AS.

"Yang kami inginkan adalah melihat persahabatan mereka yang mereka bilang adalah teman kami dan kesetiaan mereka yang mereka bilang bilang adalah sekutu kami," katanya.

Presiden Erdogan juga mengkritik standar ganda dalam perang melawan teror dan meningkatnya gerakan ekstremis di Barat, dengan menyindir bahwa YPG dan PKK ditoleransi dan bahkan didukung di seluruh Eropa.

"Muslim adalah korban terbesar di tingkat global perlakuan tidak adil, pendekatan berprasangka, generalisasi stereotip, diskriminasi, intoleransi, dan ujaran kebencian," kata Erdogan.

Dia menyerukan PBB dan negara-negara lain untuk mengakui 15 Maret sebagai "Hari Solidaritas Internasional melawan Islamofobia."

Berkenaan dengan tawaran Turki yang berkelanjutan untuk menjadi anggota di Uni Eropa, Erdogan mengatakan; "Keanggotaan Uni Eropa telah menjadi sasaran kebijakan luar negeri yang strategis bagi kami sejak awal."

Turki melamar menjadi anggota Uni Eropa pada tahun 1987 dan pembicaraan aksesi dimulai pada tahun 2005. Namun negosiasi terhenti pada tahun 2007 karena keberatan dari pemerintah Siprus Yunani di pulau Siprus dan penentangan dari Jerman dan Perancis. (snd/mg)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...