19 February 2020

Akhiri Dominasi AS, Mesir Beli Jet Tempur Prancis

Konfrontasi - Keputusan pemerintah Mesir membeli 24 jet tempur Rafale dari Prancis semakin membuktikan tekad mereka memperluas sumber senjata dan sekaligus mengurangi ketergantungan pada AS, kata pengamat, Sabtu (14/2).

"Kontrak dengan Perancis merupakan sebuah pesan secara implisit bagi AS bahwa Mesir tidak lagi tergantung sepenuhnya dalam pasukan senjata dari AS," kata pensiunan Jendral Mesir Mohammed Mujahid al-Zayyat.

Penjualan senilai 5,9 miliar dolar AS (lebih dari 59 triliun rupiah) tersebut adalah penjualan pertama jet Rafale bagi Prancis ke negara asing dan kontrak penjualannya siap ditandatangi pada Senin mendatang di Kairo.

Tapi, kelompok Amnesti Internasional menentang penjualan jet tempur serta sebuah kapal frigat itu karena pemerintah Mesir dianggap telah melakukan pelanggaran hak azasi manusia.

AS, merupakan sahabat lama Mesir yang telah memberikan bantuan 1,5 miliar setiap tahun, termasuk 1,3 miliar bantuan militer, menyatakan bahwa perjanjian Mesir dengan Perancis itu tidak menimbulkan dampak bagi mereka.

"Mesir adalah negara berdaulat. Kami juga mempunyai kerjasana keamanan, jadi pembelian jet tersebut tidak mengkhawatirkan kami," kata Jen Psaki, jurubicara Departemen Luar Negeri AS.

Tapi hubungan Mesir-AS terganggu sejak pihak militer menjungkalkan pemerintahan Islam pimpinan Muhamed Morsi pada Juli 2013 lalu dan pemerintahan yang baru dituduh melancarkan serangan brutal untuk memadamkan protes.

Ahmed Abdel Halim, pengamat militer yang juga mantan tentara Mesir mengatakan bahwa Mesir telah "disandera" oleh Washington dengan alasan catatan hak azasi manusia, sehingga perlu mencari sumber senjata dari negara lain.

Menurut Abdel Halim yang juga mantan Ketua Komisi Keamanan Nasional di Senat Mesir, negaranya akan tetap mengimpor senjata dari AS, termasuk juga dan Perancis dan bahkan mungkin juga Tiongkok.

"Rusia, bisa menjadi negara pemasok lainnya," kata Abdel Halim.

Presiden Rusia Vladimir Putin, yang sebenarnya bukan pendukung Sisi, berkunjung ke Kairo minggu ini. Kedua kepala negara setuju untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir pertama di Mesir. Pada tahun lalu, Sisi berkunjung ke Rusia sebanyak dua kali untuk membicarakan pembelian senjata.

Mesir saat ini sedang sibuk memerangi kelompok Islam militan di Semenanjung Sinai dan juga khawatir dengan kekacauan yang terjadi di negara tetangga Libya.

"Mesir akan tetap membeli senjata dari AS, tapi juga akan membeli dari Rusia, dan ini sudah dijelaskan selama kunjungan Putin di Kairo," kata Mathieu Guidere, pengamat masalah Arab.

"Kebijakan ini akan membuat Mesir berada dalam posisi yang lebih baik saat berhubungan dengan AS," katanya. (mg/akt)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...