20 November 2019

Mengatasi Prasangka Destruktif Melalui Gastro Diplomacy

Ludwig Andreas Feuerbach, seorang filsuf, antropolog & gastrosophy Jerman dari abad ke -19 pernah menulis “Der mensch ist, was er ißt” ("A man is what he eats”). Pernyataan ini menyinggung fakta bahwa makanan yang dimakan seseorang memiliki efek pada kondisi pikiran dan kesejahteraan mereka (Marius Crous, 2012).

Relevansi pernyataan ini dalam istilah ilmiah tidak dapat diabaikan, namun ada banyak hal yang dapat dipelajari dari pernyataan itu di dalam perspektif politik, sosial dan diplomatik.

Mengingat bahwa “A man is what he eats", tidak perlu dikatakan bahwa seseorang dapat mengetahui Apa Pria Itu dengan memeriksa apa yang dia makan. Logika ini dirangkum oleh pengacara dan politisi Prancis abad ke-19 Jean Anthelme Brillat-Savarin ketika dia berkata, “Dis-moi ce que tu manges, je te dirai ce que tu es" ("Tell me what you eat, I'll tell you what you are").

Itu berarti kita dapat belajar tentang karakter orang, budaya orang, identitas nasional orang dengan menemukan seni dapur masakan mereka. Dalam menemukan budaya, seseorang mengembangkan pola pikir yang simpatik terhadap orang lain.

Mereka mulai berpikir tentang asal-usul makanan yang mereka hargai dan ini, seperti yang diakui Aristoteles, berfungsi untuk memperkuat ikatan dan mengurangi antagonisme (Sam Chapple-Sokol, 2013).

Untuk diketahui antagonis adalah kepribadian (perilaku) yang melawan karakter utama atau protagonis atau pertentangan antara dua paham yang saling berlawanan. Antagonis adalah nilai-nilai negatif, sedangkan protagonis adalah nilai-nilai positif.

Berbicara tentang antagonisme, Indonesia adalah contoh dari sebuah negara yang dapat dikatakan telah mengalami beberapa tingkat antagonisme sejak reformasi, dalam arti bahwa persepsinya dalam pandangan masyarakat barat terkadang kurang menguntungkan.

Fenomena antagonisme ini digambarkan oleh representasi negara Indonesia yang agak bias di media internasional alias dipandang dengan dua sisi mata yang berbeda. Representasinya di media telah berkontribusi untuk mengindoktrinasi stereotip kerusuhan, korupsi dan masyarakat dalam krisis yang mendalam.

Memang, kondisi-kondisi ini ada, namun beberapa negara - negara sahabat tidak memandang kerusuhan-kerusuhan yang terjadi sebagai sebuah persoalan serius. Meski tetap dianggap sebagai sebuah kekacauan, sejumlah negara melihat Indonesia masih dapat mengendalikan situasi tersebut. Mereka menyebutnya sebagai 'riot' kalau diikuti di media. Tapi, dunia internasional melihat situasi itu so far porsinya pas.

Disamping dunia barat tidak menceritakan keseluruhan cerita yang ada. Aspek positif lainnya seperti iklim demokrasi yang tumbuh dengan baik, Islam dan demokrasi bisa berjalan beriringan, ancaman radikalisme & terorisme dapat ditangani melalui pendekatan kultural dan keagamaan, pemberantasan korupsi yang signifikan, pengentasan kemiskinan yang berkelanjutan, pemberdayaan ekonomi yang inklusif, warisan budaya yang kaya, dan kelas menengah yang tumbuh cepat.

Saya berpendapat bahwa makanan memiliki kekuatan untuk mengubah persepsi ini, yang bisa menjadi modal besar bagi Indonesia di mata internasional. Apalagi kalau bisa menempatkan modal besar itu sebagai landasan dalam politik global bahwa Indonesia adalah negara Islam dan negara demokrasi terbesar di dunia.

Makanan, yakni melalui GastroDiplomacy, memiliki potensi untuk mengubah persepsi, dan menempatkan identitas negara di benak populasi negara lain, dan bagaimana negara memanfaatkannya untuk menempatkan dirinya pada peta signifikansi global.

Makanan adalah bagian sentral dari kehidupan. Dalam arti yang sangat mendasar, setiap organisme hidup untuk makanan dan akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Ini bahkan lebih benar bagi manusia. Makanan memberi manusia energi yang dibutuhkan untuk bertahan hidup setiap hari.

Namun, bagaimana makanan dibuat sangat bervariasi karena banyaknya variasi bahan yang tersedia di dunia. Selain itu variasi lain adalah budaya. Makanan menjadi bentuk dari budaya, berarti makanan dapat juga digunakan dalam konteks diplomasi dan memang demikian adanya, karena makanan telah menjadi instrumen lobi & negosiasi diplomatik selama berabad-abad.

Sejarah mengajarkan bahwa faksi-faksi yang saling bertikai, diselesaikan melalui upacara rumit dengan menyajikan makanan, sehingga dapat memutuskan bagaimana gencatan senjata bisa dicapai dan perbedaan direkonsiliasi. Francois de Callières (1645-1717), salah satu sarjana pertama praktik diplomatik, dalam bukunya De la Manière de Négocier Avec Les Souverains, mengakui kekuatan strategis makanan dalam diplomasi :  “A good table is the best and the easiest way of keeping oneself informed [as a diplomat], … when people are a coaxed by wine they often disclose important secrets" (Geoff Berridge, 2010).

Aspek makanan sebagai alat untuk saluran protokol & instrumen diplomatik adalah GastroDiplomacy (diplomasi upaboga) & Culinary Diplomacy (diplomasi boga).

Relevansi makanan dalam hubungan diplomatik dilakukan dengan berbagai cara yang dapat dikelompokkan konsepnya dalam dua kategori berbeda, yakni Gastronomy Diplomacy atau GastroDiplomacy (diplomasi upaboga) & Culinary Diplomacy (diplomasi boga). Keduanya berinduk kepada atau merupakan turunan dari Food Diplomacy (diplomasi makanan).

Culinary Diplomacy dan GastroDiplomacy mungkin tampak memiliki kesamaan semantik, namun, Chapple-Sokol (2013) mengingatkan bahwa dua konsep ini cukup berbeda untuk menjamin kosa kata yang terpisah. Perbedaan utama antara kedua konsep ini adalah ruang lingkup di mana masing-masing terjadi, yakni pribadi vs publik (private vs public).

Chapple-Sokol (2013) menyoroti penggunaan pribadi makanan dalam diplomasi, mempertimbangkan kerja seorang diplomat walaupun utamanya didominasi tugas formal mereka memiliki beberapa tugas informal, seperti menghadiri makan malam kenegaraan dan makan siang bilateral.

Kegiatan berbagai aktifitas makanan ini merupakan bagian dari tugas seorang diplomat untuk membina hubungan internasional. Saat menghadiri makan malam dan makan siang tingkat tinggi (high-level cuisine), detail merupakan sangat penting karena menu dibuat dengan cermat untuk mencerminkan masakan nasional dari pihak-pihak yang terlibat.

Seseorang bahkan dapat membedakan suasana hubungan bilateral dari mengamati detail protokol seperti pengaturan tempat duduk. Penggunaan makanan pribadi ini dalam diplomasi dapat didefinisikan sebagai Culinary Diplomacy (diplomasi boga) yang terjadi di balik pintu tertutup dan dilakukan dengan counterpart sang diplomat.

Konsep lain adalah Gastronomy Diplomacy atau GastroDiplomacy (diplomasi upaboga), lebih berkaitan dengan bagaimana suatu pemerintah menggunakan makanan nasionalnya sebagai alat pencitraan diplomasi publik untuk mendapatkan pengakuan global melalui program penjangkauan boga (grass root cuisine) yang ditujukan untuk masyarakat kebanyakan (publik) di suatu negara.

Rockower (2014) mendefinisikannya secara ringkas GastroDiplomacy sebagai berikut: "GastroDiplomacy berupaya meningkatkan image (branding) edible nation brand melalui diplomasi budaya yang menyoroti dan mempromosikan kesadaran dan pemahaman budaya boga nasional kepada sejumlah besar publik di suatu negara."

Strategi ini bukan novel atau kiasan belaka. GastroDiplomacy terbukti sebagai solusi yang telah berhasil digunakan menjangkau publik di seluruh dunia sebagai upaya untuk mengesankan perubahan persepsi salah arah (mispersepsi) orang tentang satu negara atau bangsa.

Bisa dikatakan GastroDiplomacy sangat efektif dimanfaatkan untuk mengubah persepsi masyarakat menengah & ke bawah. Kesuksesan Thailand, Korea Selatan, Malaysia dan negara tetangga lainnya adalah cerita dari kesuksesan itu.

Selain berhasil mengubah persepsi, GastroDiplomacy juga mempengaruhi banyak orang untuk bepergian ke negara yang masakannya mereka nikmati atau mereka berpikir untuk bepergian ke suatu negara berdasarkan makanan yang telah pernah nikmati. Ini terjadi karena rasa penasaran yang merupakan kecenderungan alami manusia untuk mengetahui lebih mendalam tentang apa yang pernah mereka makan, termasuk sejarah & budayanya.
Bentuk ketertarikan inilah yang dibutuhkan suatu negara, yang telah menjadi korban representasi media, dengan mengalihkan fokus masyarakat setempat ke kisah nyata yang lain yakni perdamaian, keindahan budaya & keramahtamahan masyarakat. Indonesia, misalnya, memiliki banyak keuntungan dari bentuk diplomasi budaya ini.

Indonesia harus dapat menghadapi representasi negatif terhadap negaranya di panggung global, karena penggambaran metaforis bangsa Indonesia oleh media barat telah berdampak pada tingkat ekonomi, bisnis, investasi, sosial dan bahkan lokal.

Melalui penggunaan GastroDiplomacy sebagai prakarsa branding bangsa, yang memiliki masakan sebagai elemen inti, Indonesia dapat memperbaiki citra yang agak bias selama ini, yang berbicara melalui makanan dan seni masakannya. Dengan mengadopsi inisiatif GastroDiplomacy, Indonesia memiliki banyak hal ditawarkan kepada dunia.

GastroDiplomacy adalah konsep yang memiliki implikasi nyata terhadap opini publik internasional. Ia memiliki kekuatan untuk mengubah persepsi, meningkatkan pengakuan dan menarik perhatian wisatawan untuk keuntungan ekonomi.

Bentuk diplomasi budaya ini juga memungkinkan masyarakat Indonesia sendiri, dengan sumber daya yang tersedia, melakukan berbagai inisiatif diplomasi publik secara bersamaan dengan Pemerintah. Masyarakat memiliki kesempatan yang sama dengan Pemerintah untuk membangun persepsi positif pada sistem global dan dalam mempengaruhi publik asing bersimpati dengan negeri ini.

Pemerintah perlu secara aktif mempertimbangkan & merumuskan dalam kepentingan kebijakannya berinvestasi dalam agenda branding bangsa melalui boga sebagai elemen inti. Namun mungkin ada tantangan, karena boleh jadi rumit untuk menentukan apa yang merupakan identitas boga nasional negeri ini.

Akan tetapi pada awalnya kemajuan selalu dapat dicapai, umpamanya melalui penciptaan buku seni memasak dalam berbagai bahasa asing yang merinci seni dapur masakan Indonesia dan akan menjadi daya tarik negara & masyarakat tertentu.

Perwakilan Indonesia di luar negeri dapat menyebar luaskan buku seni masakan itu secara gratis kepada publik dan atau sentra-sentra jaringan masyarakat setempat sebagai promosi GastroDiplomasi negara Indonesia.

Dengan cara ini, Indonesia bisa menyentuh hati orang-orang di seluruh dunia melalui perut mereka.

Semoga bermanfaat
Tabek
Indrakarona Ketaren
Indonesian Gastronomy Association

Referensi Artikel:
1. Chapple-Sokol, Sam : "Culinary Diplomacy: Breaking Bread To Win Hearts & Minds", The Hague Journal of Diplomacy 8, no. 2 (1 January 2013):
2. Geoff Berridge : "Diplomacy: Theory & Practice", 4th ed (Houndmills, Basingstoke, Hampshire; New York: Palgrave Macmillan, 2010)
3. Iver B. Neumann : "Diplomatic Sites: A Critical Enquiry, Crises In World Politics", (London: Hurst & Company, 2013)
4. Marius Crous : "Der Mensch Ist Was Er Isst (Feuerbach) -Texts On Food, The Eating Process & The Philosophy Of Recipes",  Journal of Literary Studies 28, no. 1 (1 March 2012)
5. Paul Rockower : "The State Of Gastrodiplomacy", Public Diplomacy Magazine, 2014.
6. Sam Chapple-Sokol : "Culinary Diplomacy: Breaking Bread to Win Hearts & Minds", The Hague Journal of Diplomacy 8, no. 2 (1 January 2013)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...