26 May 2018

Mengapa Luwak White Koffie Diduga Mengandung Babi? Ikuti Penjelasan dari LPPOM MUI Ini

KONFRONTASI - Beberapa minggu ini beredar informasi soal produk Luwak White Koffie yang disinyalir mengandung unsur babi. Padahal produk ini sudah mendapatkan sertifikat halal dari LPPOM MUI. Benarkah demikian? Berikut klarifikasi Direktur LPPOM MUI, Ir. Lukmanul Hakim, M.Si.

Berdasarkan rilis yang diterima detikFood (17/04/2013), Luwak White Koffie sudah memiliki sertifikasi halal dari LPPOM MUI Provinsi Jawa Tengah. Sertifikasi halal tersebut berlaku hingga tanggal 29 Desember 2013.

Salah satu komposisi yang disebut-sebut mengandung unsur babi adalah emulsifier E471. E471 berasal dari lemak, yang bisa berasal dari lemak hewani maupun nabati. Lemak hewani bisa berasal dari hewan sapi ataupun babi.

Kode E sendiri merupakan standar internasional untuk aditif dalam produk pangan, yang bisa berupa bahan pewarna, pengawet, pengasam, pemanis, penstabil, pengemulsi, maupun senyawa antioksidan.

Sementara itu, emulsifier E471 dalam Luwak White Koffie digunakan dalam krimer yang menjadi salah satu komposisinya. Kandungan emulsifier E471 dalam krimer di Luwak White Koffie dibuat dari bahan lemak nabati. Krimer tersebut juga sudah berstandar halal.

"Krimer pada Luwak White Koffie tersebut diperoleh dari Krimer yang sudah memiliki sertifikat halal LPPOM MUI Pusat. Bahan tersebut sudah dilakukan pengkajian secara mendalam dan berasal dari bahan nabati yang halal", tulis Lukmanul dalam salah satu poin klarifikasinya yang dilayangkan pada detikfood (17/04).

LPKP Surabaya Ragukan Label Halal MUI

Kopi Luwak White Koffie diduga mengandung lemak babi. Dugaan bahwa kopi putih produksi PT Javaprima Abadi-Semarang ini “tidak hahal” setelah ditemukan kode E471 dalam kemasannya. Diketahui, kodifikasi makanan atau minuman yang diwali dengan hutuf “E” adalah produk yang mengandung lemak babi.

“Dikalangan BPOM mengenal kode E471 itu kandungan lemak babi. Kami heran, mengapa produk ini bisa beredar bebas dipasaran,” kata Direktur Lembaga Pengkajian Kota Pahlawan (LPKP) Surabaya, Zaenal Karim, Selasa (19/03/2013).

Ia juga mengaku heran, meski terdapat kode E471, namun dikemasan Luwak White Koffie tersebut juga tercetak logo halal Majelis Ulama Indonesia (MUI). “Tolong jangan hanya label halal saja yang di-fatwakan. Lebel haram juga sangat penting digunakan. Masa umat diajak subhat terus-terusan,” tegasnya.

Zaenal menyebutkan, kode-kode yang positif mengandung lemak babi diantaranya adalah: E100, E110, E120, E-140, E141, E153, E210, E213, E214, E216, E234, E252,E270, E280, E325, E326, E327, E337, E422, E430, E431, E432, E433, E434, E435, E436, E440, E470, E471, E472, E473, E474, E475, E476, E477, E478, E481, E482,E483, E491, E492, E493, E494, E495, E542, E570, E572, E631, E635 dan E904.

Menurut dia, untuk mengetahui produk makanan atau minuman itu halal atau haram harus dilihat ada tidaknya kode “E” dan tiga digit angka dibelakangnya.
“Jika memang emulsifier yang dipakai adalah kode E471 dan tidak ada embel-embel lain, misal: lecithin de sojaatau soy lecithin, berarti produk tersebut mengandung adalah pork or varken (babi),” terangnya. “Sebenarnya tak hanya E471 tapi juga E472,” tambahnya. E471 dan E472 biasa dikenal dengan sebutan lecithin è originnya merupakan ekstrak dari tulang babi. Kedua additive ini merupakan senyawa turunan dari asam lemak (fatty acid).
Biasanya kedua additive ini sangat sering ditemukan pada produk-produk makanan mengandung cokelat, roti, ice cream dan biskuit.@ridwan_licom
(Juft/Kaskus)
 

 

Category: 
Loading...