16 August 2018

Lion Air, Rusdi Kirana yang Amat Ambisius

Ketika Lion Air mengalami delay berhari-hari pada eka lalu, mungkin publik berharap Rusdi Kirana, pemilik maskapai itu, tampil dan menemui para penumpang Lion Air yang terlantar di Bandara Soekarno Hatta. Nyatanya, direksi Lion Air tak ada satu pun yang datang. Baru belakangan, Direktur Edward Sirait memberikan penjelasan kepada konsumen.

Kadang Rusdi dibandingkan dengan Tony Fernandes, CEO Air Asia, yang kerap tampil terbuka, sehingga khalayak mengenalnya. Tidak demikian dengan Rusdi. Tak banyak tahu, siapa sesungguhnya Rusdi, bahkan setelah dia diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbagan Presiden. Rusdi mengaku punya gaya sendiri dan tidak suka diekspos media.

Berikut ini kami turunkan bagian ketiga wawancara eksklusif Tempo dengan Rusdi Kirana yang dilakukan dalam dua kesempatan yang berbeda. Dalam bagian ini, Rusdi bercerita tentang ambisi bisnis dan pribadi. Wawancara ini dimuat di dua edisi: Majalah Tempo, 4 Desember 2011 dan 23 Juni 2013.

Anda akan menyaingi Singapura, yang selama ini menjalankan peran sebagai pusat jasa perawatan pesawat?

Mengapa tidak? Pabrik pesawat mempunyai bengkel dan menempatkan perawatan high technology di Singapura. Padahal Indonesia-lah pasar terbesar mereka. Mengapa kita tidak bisa punya sendiri? Kami tak bermaksud menantang atau menyaingi negara tetangga, tapi kami juga punya hak, dong.

Apakah rencana Anda itu direstui oleh pabrikan mesin pesawat?

Mereka bertanya ke saya, "Bagaimana bisa membuka pusat perawatan pesawat di Batam, sedangkan kami sudah berinvestasi yang sama di Singapura?" Saya jawab, "Urusan Lu, kenapa Lu enggak buka di Indonesia dari dulu?" Lalu mereka memberi izin. Semula izin itu hanya untuk perbaikan dan perawatan armada Lion Air. Saya bilang, "Tidak, saya harus punya hak juga memperbaiki pesawat orang lain." Akhirnya mereka mengalah.

Mengapa mereka sampai mengalah?

Karena saya punya leverage. Pada saat saya membeli ratusan pesawat mereka, sudah seharusnya kami punya kuasa, pengaruh, daya tawar yang tinggi. Kalau mereka tidak memberi kami izin untuk itu semua, saya akan menjawab tidak apa-apa, saya juga tidak akan membeli barang mereka, ha-ha-ha….

Pada 2011, Anda membeli pesawat Boeing. Tahun ini Airbus. Apakah dua produsen pesawat ini tak keberatan?

Ini saya lakukan supaya bisa menunjukkan ke Boeing dan Airbus, saya yang mengatur mereka, bukan mereka yang mengatur saya. Mereka mau memprotes, pusing amat, orang ini duit gue. Kami independen. Kita negara independen, saya warga independen. Jadi sekarang kalau Boeing tidak suka, saya pergi ke Airbus. Begitu pula sebaliknya. Kalau saya setia pada satu produsen, lalu kelak produsen itu tidak suka kepada kami, saya harus pergi ke mana? 

Banyak pengusaha terjun ke dunia politik. Anda juga tertarik?

Tertarik. Mungkin 2-3 tahun lagi. Saya menyenangi tantangan. Di airlines tantangannya sudah berkurang, karena pesawat yang kami order sampai 2026. Saya ingin melakukan sesuatu dalam hidup.

Anda ingin menjadi menteri, gubernur, atau anggota DPR?

Tidak. Saya hanya ingin mengabdi di partai politik sebagai aktualisasi diri. Terjun ke dunia politik bukan berarti harus menjadi menteri atau gubernur. Dengan menjadi politikus, kita bisa melobi birokrat sehingga kebijakan makro lebih baik.

Anda tidak takut menjadi sapi perah partai?

Tidak usah takut. Hingga hari ini kami sudah membawa 85 ribu orang per hari terbang di ketinggian 30 ribu kaki. Kalau berbicara tentang takut, ya, sekaranglah saatnya takut, ha-ha-ha

Sebagai pribadi, Anda juga tertutup?

Setiap orang punya gaya berbeda. Tony Fernandes mungkin senang diekspos, saya tidak begitu suka. Yang saya mau adalah saya mau jadi pemenang. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di ASEAN.

Banyak maskapai punya mimpi sama, ada AirAsia, Tiger Airways, dan Singapore Airlines?

Saya sangat senang dengan AirAsia. Mereka adalah maskapai yang selalu membuat saya bersemangat bangun pagi, berpikir untuk "berkelahi" dengan mereka. Saya juga akan sangat senang kalau bisa menghajar Tiger sampai kalah. Begitu juga Singapore Airlines. Why not?

Anda ambisius sekali….

Saya sangat ambisius. Yang membuat saya hari ini hidup adalah karena ambisi saya. Kalau saya hari ini hanya berpikir untuk makan saya dan keluarga, saya sudah berhenti. Apakah kecelakaan di Bali tidak memukul? Saya sangat terpukul. Pesawat baru, belum ada sebulan, baru 100 jam, tapi hanya butuh satu detik untuk membuat puluhan juta dolar itu habis. Untuk bisa melewati hal seperti ini, kita harus ambisius.

Apa ambisi Anda sebenarnya?

Mimpi saya ada beberapa. Pertama, ketika saya di ranjang kematian, karyawan saya bilang: "You are the best leader", atau ada yang berterima kasih karena anaknya sudah jadi sarjana. Kedua, saya mau membuktikan bahwa saya bisa menguasai dunia penerbangan ASEAN. Itu mimpi saya. Tolong bantu mimpi saya.

Rusdi Kirana

Tempat dan tanggal lahir: Jakarta, 17 Agustus 1963
Pendidikan: S-1 Ekonomi Universitas Pancasila
Karier:
Pendiri dan Direktur Utama PT Lion Mentari Airlines (1999-sekarang)
Pendiri Lion Tour.

(Tempo)

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...