17 August 2018

Rizal Ramli, Mimpi Buruk Gubernur BI dan Neoliberalisme Ekonomi

KONFRONTASI- Ekonom senior Rizal Ramli (RR) menegaskan, Indonesia tidak  akan maju dan tidak akan  sejahtera  selama  model ekonomi yang diikuti ini model Neoliberalisme ala IMF/Bank Dunia yang tidak akan mampu mengangkat,  paling maksimal  6% itu pun tumbuh dengan hutang besar.

''Kita  mampu dan percaya ekonomi Indonesia bisa tumbuh di atas  10% dari 2019-2024 secara rata-rata sehingga pendapatan per kapita kita bisa naik dari 4000 dolar AS menjadi 7000 dolar. Jepang tumbuh 12%  selama 20 tahun setelah Perang Dunia II karena keberhasilan PM Ikeda. Dan China tumbuh 12% selama 25 tahun di era Deng Xiaoping dan Zhu Rong Ji.  Maka Jepang dan China jadi raksasa .Saya ingin Indonesia bangkit dan menjadi raksasa Asia Tenggara, dan kita mampu untuk itu dengan kepemimpinan kita yang amanah,'' kata teknokrat senior Rizal Ramli  dalam dialog ILC di TV One Selasa malam (3/4/18)

Sejauh ini. Imbuh RR, debt service ratio di Indonesia 39-40% atau tertinggi di Asia Tenggara, sementara batas yang dianggap aman maksimal 25%. Sementara itu sekitar 41% utang negara dalam valuta asing. Dengan average time to maturity 9 (Sembilan) tahun dan yang bertenor (jatuh tempo) 5 (lima) tahun sebesar 40% nya, akan menjadi beban berat APBN dalam 5 (lima) tahun kedepan. Pemerintah juga tidak bisa membandingkan tax ratio Jepang yang 31% PDB sementara tax ratio Indonesia kurang dari 11% atau praktis yang terendah di Dunia..

RR melihat  mimpi buruk Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo sudah  terjadi ketika kemarin memproyeksikan Indonesia bakal sulit naik level dari negara berpendapatan menengah (middle income) ke berpendapatan tinggi (higher income) atau negara maju pada 2030. Sebab, pendapatan per kapita Indonesia masih belum memadai.

"Ini terus terang mungkin mission impossible kalau kita asumsikan dan kemudian lakukan proyeksi di BI. Kita bicara proyeksi long term pakai pendekatan supply side,” kata dia dalam Diskusi Publik Indonesia 2030: Peluang dan Tantangan Ekonomi di Gedung Pakarti, Jakarta, Rabu (6/6). Indonesia bisa saja naik level lebih cepat yaitu di tahun 2040 jika pertumbuhan ekonomi bisa digenjot lebih tinggi yaitu mencapai 6,4%. Namun, untuk mencapai ini, Indonesia harus kerja sangat keras. Menurut Gubernur BI, perlu kerja yang lebih keras untuk naik level. Bila pertumbuhan ekonomi rata-rata bisa mencapai 5,6%, Indonesia diprediksi bisa naik level pada 2045 dengan pendapatan per kapita di atas 10 ribu. Per 2017 lalu, pendapatan per kapita Indonesia baru mencapai US$ 3.876.

RR menuturkan, negara-negara di Asia seperti China, Jepang, Singapura dan lain-lain ekonominya lebih maju dari Indonesia karena sejatinya kebijakan-kebijakan ekonomi negara tersebut tidak mau memakai model ekonomi ala Bank Dunia/IMF. Negara-negara itu lebih memilih kebijakan ekonomi yang "nasionalistik", sehingga pertumbuhan ekonominya selama hampir 15-20 tahun selalu tumbuh diatas 10%. Contohnya Jepang, selama 15 tahun pertumbuhan ekonomi kisaran 12%. Sementara, Tiongkok selama 20 tahun, perekonomiannya tumbuh di antara 13-14%.

Di Asia yang ikut model pembangunan Bank Dunia itu hanya Indonesia dan Filipina, maka tidaklah aneh banyak negara di Asia dan bekas Rusia ekonominya hanya tumbuh 6-8 persen. ekonomi konstitusi dianggap kuno, ekonomi nasionalistik dianggap ketinggalan zaman, ujung-ujungnya ekonomi kita susah bangkit, ekonomi hanya merangkak tertinggal dengan negara-negara tetangga lainnya karena berkutat hanya tumbuh 5-6%.

Sudah saatnya pemerintahan Joko Widodo yang sejak awal bercita-cita mewujudkan Tri Sakti melalui agenda Nawacita dan Revolusi Mental, merubah haluan ekonominya yang sesuai konstitusi, yang bersifat nasionalistik sebagaimana saran mantan menko perekonomian era Gus Dur tersebut.

 

Menurut RR, soal utang Indonesia dewasaini yang Rp7000 trilyun (swasta dan negara)   jelas tidak masuk akal jika rasionya harus membandingkan dengan negara lain, seperti Amerika Serikat dan Jepang.  
“Membandingkan rasio utang dengan Amerika itu konyol. Karena AS itu tinggal cetak dollar dan jual ke luar negeri,  ongkos cetak 100 dolar hanya dua dolar dan apalagi didukung hegemoni militer dan politik,” jelas Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur itu.

Tak masuk akal kalau kita membandingkan utang RI dengan Jepang, sebab meskipun utang Jepang tinggi tetapi  income internasionalnya sangat tinggi dan dari kaca mata riil ekonomi Jepang mempunyai net international investment positions USD2.8Triliun yang berarti memiliki net external assets positif alias bangsa kreditor.  Hal ini berbeda dengan Indonesia yang net international investment positionnya negatif lebih dari USD400Miliar alias mempunyai net external liabilities atau benar-benar negara dengan neraca sebagai negara debitor.
“Kalau membandingkan rasio utang terhadap GDP duga Jepang juga tidak tepat. Karena (di Jepang) sebagian besar utang domestiknya itu bunga murah. Sehingga tidak bisa didikte kepentingan bond holder (pemegang surat utang),” papar dia.

perry warjiyo

 

Sejauh ini. Imbuh RR, debt service ratio di Indonesia 39-40% atau tertinggi di Asia Tenggara, sementara batas yang dianggap aman maksimal 25%. Sementara itu sekitar 41% utang negara dalam valuta asing. Dengan average time to maturity 9 (Sembilan) tahun dan yang bertenor (jatuh tempo) 5 (lima) tahun sebesar 40% nya, akan menjadi beban berat APBN dalam 5 (lima) tahun kedepan. Pemerintah juga tidak bisa membandingkan tax ratio Jepang yang 31% PDB sementara tax ratio Indonesia kurang dari 11% atau praktis yang terendah di Dunia.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...