20 August 2019

Perang Dagang Kian Panas, Singapura Pangkas Proyeksi Ekonomi Dekati 0 Persen

KONFRONTASI -  Pemerintah Singapura memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi mereka hingga hampir mendekati nol persen. Dikutip dari Bloomberg, Selasa (13/8/2019) pemangkasan prediksi pertumbuhan ekonomi tersebut dilakukan seiring dengan semakin meningkatnya ketegangan perdagangan antara China dan Amerika Serikat yang berdampak pada perekonomian negara tersebut.

Perekonomian Singapurs diprediksi bakal tumbuh di kisaran 0 persen hingga 1 persen tahun ini, lebih rendah dibanding proyeksi sebelumnya yang berada di kisaran 1,5 persen hingga 2,5 persen.

Kementerian Perdagangan dan Industri setempat mengatakan, realisasi pertumbuhan ekonomi diprediksi bakal berada di titik tengah kisaran tersebut. Baca juga: Perang Dagang Belum Usai, Ini Dampaknya bagi Indonesia Pada kuartal II-2019 ini, produk domestik bruto (PDB) Singapura terkontraksi hingga 3,3 persen dari tiga bulan pertama tahun ini, lebih rendah dsri proyeksi yang mengayakan bakal tumbuh negatif hingga 3,4 persen. "Sebagai perekonomian terbuka yang kecil, Singapura adalah salah satu negara yang bakal terdampak ( perang dagang) di awal," ujar Head of Treasury Research and Strategy Oversea Chinese Banking Corp Selena Ling.

"Kami melihat di beberapa negara lain seperti Hong Kong juga merevisi pertumbuhan ekonominya lebih rendah. Inilah tren pertumbuhan ekonomi kawasan Asia saat ini," ujar dia. Pada kuartal kedua tahun ini, ekonomi Singapura tumbuh 0,1 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sama seperti yang telah diprediksi pemerintah.

Sementara, nilai tengah yang diprediksi Bloomberg, secara kuartalan ekonomi Singapura tumbuh negatif 3 persen, sementara dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, kuartal II-2019 ini ekonomi Singapura tumbuh 0,2 persen. Adapun nilai tukar mata uang dollar Singapura melemah 0,1 persen pada perdagangan hari ini, setelah sempat menyentuh titik terendah dalam dua tahun terakhir. Prospek perekonomian Negeri Singa tersebut kian meredup dalam beberapa bulan terakhir. Sebab, AS dan China, dua mitra dagang terbesarnya, terus meningkatkan ketegangan perdagangan.

Hal tersebut kian meningkatkan potensi resesi di Singapura yang bakal memungkinkan adanya peningkatan pengangguran. "Terhadap latar belakang makroekonomi eksternal yang menantang ini, dan penurunan dalam siklus elektronik global, ekonomi Singapura kemungkinan akan terus menghadapi angin sakal yang kuat untuk sisa tahun ini," ujar Kementerian Perdagangan dan Industri setempat dalam sebuah pernyataan. Wakil Direktur Pelaksana Otoritas Moneter Singapura untuk kebijakan ekonomi Edeard Robinson mengatakan, kebijakan moneter tetap tidak berubah dan bank sentral pun tidak mempertimbangkan mengadakan pertemuan kebijakan off-cycle. Dalam pidato Hari Kemerdekaan pekan lalu, Perdana Menteri Lee Hsien Loong mengatakan pemerintah bersedia untuk merangsang ekonomi jika diperlukan

Prospek perekonomian Negeri Singa tersebut kian meredup dalam beberapa bulan terakhir. Sebab, AS dan China, dua mitra dagang terbesarnya, terus meningkatkan ketegangan perdagangan. Hal tersebut kian meningkatkan potensi resesi di Singapura yang bakal memungkinkan adanya peningkatan pengangguran.

"Terhadap latar belakang makroekonomi eksternal yang menantang ini, dan penurunan dalam siklus elektronik global, ekonomi Singapura kemungkinan akan terus menghadapi angin sakal yang kuat untuk sisa tahun ini," ujar Kementerian Perdagangan dan Industri setempat dalam sebuah pernyataan. Wakil Direktur Pelaksana Otoritas Moneter Singapura untuk kebijakan ekonomi Edeard Robinson mengatakan, kebijakan moneter tetap tidak berubah dan bank sentral pun tidak mempertimbangkan mengadakan pertemuan kebijakan off-cycle. Dalam pidato Hari Kemerdekaan pekan lalu, Perdana Menteri Lee Hsien Loong mengatakan pemerintah bersedia untuk merangsang ekonomi jika diperlukaN.(Jft/Kompas)

 

 

 

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...