Penguatan Rupiah Buat Darmin Nasution Tak Senang, Kenapa Pak?

Konfrontasi - Gerak nilai tukar rupiah pada penutupan pasar perdagangan Jumat akhir pekan terpantau makin menguat menuju level Rp13.000 per USD. Namun penguatan ini ternyata bukan menjadi kabar yang menggembirakan.

Menurut Menko Perekonomian, Darmin Nasution, dirinya tidak menginginkan penguatan rupiah terlalu tinggi atau melebihi fundamentalnya.

"Tentu tidak ingin terlaku kuat di atas fundamentalnya," kata Darmin di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Jumat (4/3/2016).

Penguatan rupiah yang terlalu drastis akan memberikan dampak yang tak bagus bagi ekspor Indonesia. Harga produk ekspor Indonesia akan lebih murah dan menjadi tidak kompetitif dibading ekspor negara lain.

Di sisi lain Darmin mengatakan penguatan mata uang Garuda dipengaruhi oleh kebijakan beberapa negara yang menerapkan suku bunga rendah bahkan negatif sehingga para investor yang semula menaruh dananya di negara tersebut, berpindah dan lebih memilih negara berkembang atau emerging market seperti Indonesia untuk menyimpan uangnya. Apalagi Indonesia dianggap sebagai negara yang memiliki prospek pertumbuhan ekonomi cerah.

"Para pemilik dana menganggap investasi di Indonesia itu menjanjikan, ya masuk uangnya ke sini. Ya kalau masuk uangnya ke sini, ya rupiah kita menguat," jelas Darmin. (mtv/mg)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA