Dikritik Sri Mulyani, Begini Tanggapan Anies Baswedan

Konfrontasi - Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan tanggapi santai soal kritik yang diberikan oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati (SMI) terkait tata kelola APBD DKI Jakarta yang dianggap memiliki banyak catatan.

"Nanti kita lihat lagi," katanya di Kawasan Monas, Jakarta Pusat, Jumat (29/12/2017).

Sebelumnya, saat memberikan arahan pada forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan RPJMD DKI Jakarta 2017-2022, di Balaikota Jakarta yang juga dihadiri oleh Anies, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Asman Abnur, SMI mengeluarkan kritik keras kepada Anies yang ingin menjadikan Jakarta sebagai Smart City.

"City-nya smart, yang memerintah juga smart, masyarakat smart, infrastrukturnya smart, dan juga hasilnya mestinya smart. Hasilnya harusnya triple A," ketus SMI.

Salah satu sorotan SMI adalah soal biaya perjalanan dinas pejabat Pemprov DKI Jakarta yang dibuat tiga kali lebih besar dari anggaran serupa untuk pejabat pemerintah pusat. 

"Daerah ini, kalau bikin standar biaya, lebih mahal dari pemerintah pusat. Biaya perjalanan dinas pemerintah DKI Rp 1,5 juta per orang per hari. Sedangkan standar untuk pemerintah pusat hanya Rp 480 ribu per orang per hari. Padahal kita (pemerintah pusat) juga ada di DKI," sindir SMI.

SMI pun ogah pusing tentang bagaimana uang itu digunakan. Namun, bekas direktur Bank Dunia itu berharap agar ini tidak membuat sektor lain justru mengalami minus pendanaan. 

"Bagaimana dengan pengangguran, kemiskinan, kesenjangan, dan untuk tiga hal, infrastruktur, human capital investment, dan untuk reformasi (birokrasi)?," ucap SMI. 

SMI mengatakan Jakarta saat ini memiliki kekayaan Rp 66 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah(APBD). Anggaran segitu, terbesar se-Indonesia. Sayangnya, duit segitu dirasa belum punya dampak yang signifikan. Misalnya, ia mencontohkan pada APBD 2017, DKI memiliki 207 program yang diterjemahkan menjadi 6.287 kegiatan. 

"Dengan makin banyak kegiatan makin sulit untuk diketahui jejaknya dan kinerjanya sulit diukur," lanjut SMI. 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA