12 November 2019

Dihantam Kabut Asap, Ekonomi Riau Sempoyongan

KONFRONTASI- Akibat bencana kabut asap, pertumbuhan ekonomi Provinsi Riau pada kuartal III/2015 akan cenderung negatif .

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Pekanbaru Irwan Mulawarman mengatakan, pihaknya belum menghitung berapa kerugian dan pengaruh negatif akibat bencana kabut asap sejak pertengahan Agustus hingga saat ini bagi perekonomian daerah di Riau.
 
“Memang dari beberapa pihak seperti Kadin, Apindo, PHRI, asosiasi logistik, maskapai, sudah melaporkan kerugian yang dialaminya akibat kabut asap, dan kami prediksi ekonomi Riau kuartal III ini masih akan tumbuh negatif,” katanya seperti dilansir Bisnis.com, Kamis (8/10/2015).
 
Meskipun diprediksi tumbuh negatif, nilainya tidak terlalu besar dikarenakan pada Juli dan Agustus lalu ada beberapa momen besar seperti Ramadan, Idul Fitri serta tahun ajaran baru yang mendorong meningkatnya konsumsi masyarakat.
 
Selain itu, jelang akhir September yaitu momen Idul Adha juga memberikan dampak positif yakni meningkatnya belanja masyarakat dan hewan kurban, meskipun dari data sementara yang diterima pihaknya jumlah peserta kurban dan hewan kurban menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
 
Pihaknya berharap pemerintah di tingkat pusat dan daerah mampu memberikan solusi jangka panjang dalam menyikapi bencana kabut asap yang berulang di wilayah Riau.
 
“Tentu kami berharap seperti itu karena dampak negatifnya bagi ekonomi lokal sangat terasa,” katanya.
 
Sebelumnya, PT Angkasa Pura II (Persero) sebagai pengelola bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru mengaku mengalami kerugian akibat kabut asap yang semakin pekat dalam beberapa hari terakhir.
 
General Manager Bandara SSK Dani Indra Iriawan mengatakan, pihaknya tentu mengalami kerugian akibat kabut asap sehingga jadwal penerbangan di bandara Ibu Kota Provinsi Riau itu terganggu.
 
“Pastilah ada kerugiannya, misal pesawat tidak jadi masuk karena pembatalan penerbangan itu kami kehilangan pendapatan dari biaya parkir pesawat, landing fee, dan airport tax atau passenger service charge (PSC),” katanya.
 
Menurut data Bank Indonesia, perekonomian di Riau pada semester I/2015 mengalami kontraksi sebesar 1,37% secara year on year.
 
Sedangkan pada kuartal II/2015 tercatat kontraksi sebesar 2,64% (yoy), jauh lebih dalam dibandingkan dengan kuartal I/2015 yang berkontraksi sebesar 0,03%.[mr/bns]
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...