Darmin Nasution Tak Yakin Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 2 bakal Berhasil. Ekonomi Jokowi kian Rapuh

KONFRONTASI- Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution merasa belum yakin dengan paket kebijakan ekonomi jilid II. Ini kata dia.

Saat ini, kata Menko Darmin, para pelaku pasar sedang melihat-lihat situasi, karena adanya ketidakpastian suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed serta pelemahan ekonomi di Cina.

"Yang namanya situasi sedang begini, ya, itu semua orang lebih cenderung lihat kiri, lihat kanan dulu. Lihat Amerika dan Cina," kata Darmin di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (29/9/2015).

Menko Darmin bilang, paket kebijakan ekonomi jilid II, lebih konkret dan sederhana ketimbang paket I. "Paket II lebih fokus pada isu-isu yang krusial, dan lebih sederhana ketimbang paket I," kata mantan gubernur BI ini Suka atau tidak, pelemahan ekonomi terjadi di segala lini. Nilai tukar ambruk, ekspor merosot, setoran pajak minim, kemiskinan melonjak. Kondisinya bakal memburuk karena industri siap-siap tutup. Ketua Komisi VI asal PAN, A Hafisz Tohir, mengingatkan agar Presiden Joko Widodo harus lebih serius dalam menyelesaikan gejolak di perekonomian nasional. "Pemerintah harus berhati-hati. Jangan anggap remeh semua persoalan ini," kata Hafisz di Jakarta, Senin (28/9/2015). Tahun ini, kata Hafisz, tak ada kemajuan di perekonomian nasional, bahkan cenderung merosot tajam. Nilai tukar rupiah, seolah terjun bebas menuju Rp 15 ribu per US$. Saat ini, berada di level Rp 14.600-Rp 14.700 per US$. Cepat atau lambat, dikhawatirkan bisa menembus batas psikologis Rp 15.000 per US$. Ironisnya, kata Hafisz, sejumlah pejabat negara selalu berkelit dengan menuding faktor eksternal sebagai biang pelemahan rupiah ini. Memang betul, pelemahan mata uang terhadap dolar AS hampir terjadi di seluruh dunia. Namun, bukan berarti pemerintah harus tenang-tenang saja. Data Bloomberg mencatat, sejak awal tahun hingga 24 Agustus 2015, pelemahan rupiah mencapai 12%. Bila disandingkan dengan negara-negara ASEAN, pelemahan rupiah adalah nomor dua terjelek setelah ringgit Malaysia 18%. Sementara bath Thailand 7,6% dan peso Filipina 4,6%. Masih menurut Hafisz, efek domino dari pelemahan nilai tukar rupiah, cukup dahsyat. Saat ini, ketergantungan industri terhadap bahan baku impor, cukup tinggi. Semakin mahalnya dolar AS membuat beban produksi makin terkerek naik. "Kalau tak mampu membiayai produksi, pilihannya mengurangi produksi atau tutup. Artinya, PHK bertambah dan kemiskinan makin menjulang tinggi," tuturnya. Politisi PAN ini juga menyorot adanya penurunan ekspor periode Januari-Agustus 2015. Data BPS mencatat, nilai ekspor Januari-Agustus 2015 sebesar US$ 102,52 miliar. Bila di banding periode yang sama di 2014, terjadi penurunan 12,70%. Sementara ekspor nonmigas pada Januari-Agustus 2015 tercatat US$ 89,60 miliar, atau menurun 7,30% di banding periode sama di 2014. Untuk ekspor migas penurunannya lebih signifikan yakni 41,08 persen. Terkait paket kebijakan ekonomi yang diluncurkan pada 9 September lalu, Hafisz menilai tak ada efeknya. Sejauh ini, investor maupun pelaku pasar, dingin-dingin saja. "Saya khawatir, pemerintahan Jokowi-JK sudah tidak dipercaya pasar," papar Hafisz.. (k)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA