Terkutuklah Kalian, Bandit Bandit Zaman Peralihan

Juftazani

 

Mulai detik melangkah 20 Oktober 2014 pagi
Tangan-tangan berkuku besi mencengkeram negeri ini
Dengan senyum khas, cengengesan yang kini terasa berwibawa
Di belakangnya berbaris seribu bandit
Di depan rakyat yang serius – ingin bersetia agar negeri indah gemah ripah
Dibawa ke dalam panorama kejayaan
Saat itu kau berpidato tentang apa saja, tol laut, tol langit, infrastruktur, ah
Entah apalagi aku sudah lupa semua
Rakyat tak tahu, kini masuk ke dalam sebuah kotak “Pandora”
240 juta rakyat yang sangat berharap, terjerat dalam lobang penuh ular, kalajengking
Dan buaya yang akan menguras seluruh isi perut bumi negeri ini

 

Lama aku termenung
Usai beberapa minggu setelah pelantikan itu
Dunia memuji-muji gaya kepemimpinanmu unik
Sebuah media internasional menulis besar-besar sebuah tajuk berita
Yang menggemparkan "A New Hope"
Ke sanalah harapan itu dilemparkan
Untuk sebuah dunia besar di Asia Tenggara
Tapi…,
Tapi tuan-tuan dunia pemodal dan pelapak kelas raksasa dari Amerika dan Cina
Telah mengembangkan karpetnya di istana negara
Mengkapling-kapling gubuk reyotku jadi milik para taipan dan konglomerat
Dan terasa rakyat mulai megap-megap
Hidup susah tak berkesudahan
Negara mulai berhutang dalam jumlah yang mencengangkan
Kelaparan di Papua seakan menghabiskan satu suku terbelakang tinggal nama
Di atas papan nisan

 

 

Setahun, dua tahun, tiga tahun dan sampai pemilu di depan mata
Anak-anak bangsa yang kian ringkih semakin nyata
Mati oleh narkoba, tewas oleh minuman keras
Dan para pejabat sibuk dengan korupsi, tertangkap tangan KPK
Presiden sama sekali melupakan janji-janji
Rakyat terperangah tak habis mengerti

 

Tibalah kini seseorang berpidato
Seperti Rendra yang membaca puisi dengan gaya salto
Wahai, negeri yang dirampas oleh seribu bandit
Terkutuklah kalian menjelang zaman peralihan
Kami akan kurung kalian dengan revolusi dan pemberontakan
“Siap !, kami anak-anak muda yang mulai garang melihat hampir 600 petugas KPPS
Mati jangkang habis mengurus Pilpres 2019
Dan anak-anak muda yang terus menggelepar disuntik kokain
Lihatlah, bangsa ini mati hanya karena dicekoki kopi beracun dan kecanduan narkoba
Siapa yang telah membuat negeri dan hati rakyat terpecah-pecah
Retak seperti padang tandus yang terbongkah, terbelah oleh panas kemarau panjang?
Para bandit tak henti menguras seluruh isi bumi negeri yang dikenal kaya dengan hasil alam ini
Kini dirampok para bandit yang bersenjata racun, pisau lipat, kekerasan di jalan tol
Dan fitnah yang dihunjamkan kepada ulama dan para tokoh panutan rakyat
Negeri ini kering kerontang, rakyat makin kelaparan
Dan bandit-bandit terus makan dengan lahap dan kenyang
Tanpa peduli rakyat mati kelaparan, putus sekolah, rumah
dan sawah tergadaikan
Hanya untuk mempertahankan hidup
Selama Presiden pro rakyat mengabaikan semua janji-janjinya
Selamat jalan Presiden Jokowi, kabinet dan seluruh para bandit yang menyertainya !
22 Mei 2019, kami akan menyaksikan presiden baru harapan generasi masa depan
Dengan penuh tanggungjawab yang sangat erat digenggam
Kami rindukan pemenang Pemilu Presiden 2019, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno
Melangkahkan kakinya ke istana Negara
Karena telah menang mutlak di setiap sudut negeri
dan berhak dan sah memimpin atas negara yang telah centang perenang diacak-acak
bandit-bandit serakah dari dalam dan luar negeri."

 

Indonesia, detik-detik akhir 13 Mei 2019

 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA