Terbang ke Moskwa: Catatan Perjalanan dari Unpad ke Rusia (bag 6)

Dalam Pesawat ke Moskwa: Terbang perdana dalam sejarah hidupku, perjalanan panjang selama kurang lebih 8 jam saya serahkan semua keselamatan jiwaraga kepada sang pilot yang tidak ku kenal namanya yang akan mengendalikan pesawat ini ketempat tujuan.

 

 Saya duduk dikursi no 45D, area dibuntu pesawat kelas ekonomi. Disebelah kiri ku ibu-ibu berumur kurang lebih 40an. Terlihat jelas dari wajah si ibu bukanlah istri dari seorang penjabat negara yang sedang berlibur menghabiskan uang suami, tetapi penampilah hampir menyerupai. Si ibu adalah pekerja keras, jauh merantau ke negeri minyak untuk membeli berlian sebagai pembantu rumah tangga. Saya permisi untuk duduk disebelahnya, beliau dengan senyum mempersilahkan.

 

Si ibu ingin pergi ke Dubai. Dalam percakapan kami, saya sedari awal pun sudah tau si ibu adalah TKI yang berasal dari jawa sana. Senang saya melihat ibu ini, dia bangga menjadi TKI, walau katanya harus kucing-kucingan dengan petugas keamanan dan harap-harap cemas. Saya tidak tau kenapa ibu ini harus cemas jika ibu ini membawa semua dokumen yang dibutuhkan untuk bekerja disana, ternyata benar ibu ini menjadi TKI ilegal, dengan bermodalkan penampilan yang sedikit wah, ternyata itu hanya kamuplase untuk mengelabui imigarsi. Tapi ya sudahlah, memang sudah jalannya seperti itu. Toh saypun tidak mempedulikannya. Pikiran saya masih menuju wanita yang mengantar ku kebandara. Ya istriku, baru beberapa jam kami berpisah tapi rasanya sudah lama sekali. saya tetap mengambil sikap cool dan berdoa dalam hati semoa semua akan berjalan dengan baik dan dimudahkan oleh Allah SWT. AAMIINNN!

Dari spiker pesawat terdengar suara seperti orang mengaji dan terakhir saya mengetahui suara itu adalah pemberitahuan dari seorang pramugari bahwanya pesawat kami akan lepas landas. Tidak lebih dan tidak kurang waktu yang tertera ditiket dan jam tangan ku persis jam 01:50 WIB. Perjalanan kami menghabiskan waktu kurang lebih 15 jam. Dengan rute yang sudah ditentukan jam 8 pagi kami akan tiba di Dubai, transit 2 jam lamanya, setelah itu kami akan menuju Rusia. Saya berdoa dalam hati semoga kami semua selamat dalam perjalanan ini, semoga pesawat yang membawa kami tidak mendarat di samudura pasifik. RUSIA AKU DATANG.

Lampu tanda mengenakan sabuk pengaman pun sudah dimatikan, saya melihat dibelakang sebalah kanan ku ada kursi kosong, lalu saya meminta ijin kepada pramugari cantik untuk pindah kursi. Pramugari dalam pesawat ini rata-rata berwajah seperti kebanyakan dalam film timur tengah, tapi ada satu berwajah asia, saya sudah tau dia pasti orang vietnam, lalu dengan sok berbahasa ingris saya meminta ijin untuk pindah kursi, ternyata dia menjawab dengan bahasa ibu pertiwi. Salah dugaanku. Setelah itu saya menjoba untuk tidur, dengan dada yang sesak, saya tidak tau ini perasaan apa. Perasaan sedih karena meninggalakan keluarga atau demam eropa sudah merasukiku. Tak saya hiraukan, saya minum obat yang diberikan oleh istriku. Sebelum berangkat kebandara tadi dia memberikan obat tidur kepadaku. Sehingga setelah saya minum obat itu, selang 1 jam obat mulai bekerja, berat sekali mata ini dan saya pun terlelap dalam mimpi indah. 

Nurbayu Nandes Manan, alumnus FIB studi Rusia Universitas Padjadjaran, menulis dari Kremlin, Moskwa

 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA