21 February 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (55

Episode 38

 

Perang Batak Usai Perang Imam Bonjol

 

 

Bagian Pertama

 38

 

Dua dasawarsa lebih kaphe-kaphe Belanda jatuh bangun menduduki tano Perlawanan, tapi apa daya singa-singa Aceh itu memang galak, tangkas dan tak dapat diburu atau dilahap begitu saja seperti melahap Tuanku Imam Bonjol di Sumatera barat, melahap Pangeran Diponegoro dengan tipuan mentah untuk berunding, melahap Patimura (syahid pada titimangsa  16 Desember 1817 di Ambon) atau Sisingamangaraja yang syahid  pada titimangsa 17 Juni 1907 di Dairi. Yang benar-benar menohok jantung kaphe-kaphe Belanda sampai ke Denhaag sana, dan mendapat malu dari tetanga-tetangganya di Eropa adalah berbaliknya seorang  yang dikira menjadi pembela kaphe-kaphe Belanda,  dikira Van Heutsz ia telah sukses mengendalikan Tano Aceh,  tetapi  panglima pribumi yang telah menyerang posisi-posisi mujahidin-mujahidin Aceh di beberapa kubu itu mengkhianati kaphe-kaphe Belanda yang sangat terhormat di mata Teuku Umar. Tapi Teuku Umar juga bermain dengan cantiknya dengan menjadikan dirinya menjadi terhormat di depan kaphe-kaphe Belanda, terutama di hadapan yang mereka kira sukses mereka kendalikan, yakni si kancil Teuku Umar.

 

Dalam buku  De Krijgsgeschiedenis van Nederlansch Indië van 1811 tot 1894, jilid III, seorang purnawirawan infantry berpangkat Letnan Kolonel berinisial G.B. Hooijer yang bertugas di Tano Aceh dengan perasaan kecut dan penuh getir menulis begini: “Tidak ada pasukan Diponegoro atau Sentot, baik orang-orang Padri yang fanatik maupun rombongan orang-orang Bali atau massa berkuda orang-orang Bone, seperti yang pernah diperagakan oleh para pejuang Aceh yang begitu berani dan tak takut mati menghadapi serangan, yang begitu besar menaruh kepercayaan pada diri sendiri, yang sedemikian gigih menerima nasibnya, yang cinta kemerdekaan, yang bersikap sedemikian fanatik seolah-olah mereka dilahirkan untuk menjadi gerilyawan bangsanya. Oleh sebab itu perang Belanda di Aceh akan tetap menjadi sumber pelajaran bagi pasukan kita. Dan karena itu pula saya menganggap tepat sekali jika jilid III atau terakhir sejarah perang (Belanda di Hindia Belanda) itu seluruhnya saya peruntukkan guna menguraikan peperangan di Aceh.”

Ya, begitulah Van Teijn dan kemudian van der Heijden – gubernur Militer kaphe-kaphe Belanda yang ditipu mentah-mentah oleh Teuku Umar. Pada titimangsa  18 Maret 1893, lelaki ganteng, cerdas, berotak berilian dan bahkan lebih pintar dan lebih cerdas dari Einstein itu  mengakhiri sandiwaranya. Lelaki cerdas dan lebih hebat kecerdasannya dari Einstein sukses  melarikan pasukannya lengkap dengan 800 pucuk senjata, 23.000 butir peluru, 500 kg amunisi dan uang 18.000 dollar AS, dan langsung merger dengan Panglima Polim.

Mengapa jauh lebih cerdas dari Einstein? Karena Einstein tak pernah melakukan perjuangan di tabno Aceh dengan melarikan  800 pucuk senjata, 23.000 butir peluru, 500 kg amunisi dan uang 18.000 dollar AS. Einstein hanya sibukdi belakang laboratorium untuk meneliti sesuatu yang  menurut keyakinannya berguna bagi umat manusia. Tapi Teuku Umar terjunlangsung  ke lapangan dan mengharubiru semua bangsa Belanda, baik di Hindia Belanda apalagi di Nederland (Negeri Belanda) sana.   

Inilah yang membikin seluruh kaphe-kaphe Belanda mengirim Van Heuzt ke tano Aceh. Si mulut besar ini langsung berteriak”Tangkap Teuku Umar, Hidup atau mati.”

Ini baru seper-empat perjalanan pahit-getirnya kaphe-kaphe Belanda berperang dengan rakyat dan bangsa Aceh. Tiga perempat lagi, akan terus berkecamuk ketika Van Heutsz sudah tua renta dan akhirnya mati dalam susah payah di Swiss, sebuah dataran tinggi di Eropa. Walau ia disanjung-sanjung sebagai pahlawan kaphe-kaphe Belanda di Tano Aceh, tapi lihatlah, betapa menderita ia di masa-masa akhir hidupnya di dataran tinggi Eropa, karena dosa-dosa dan penyakit-penyakit yang menggerogoti dirinya yang kian payah dan kian susah. Akhirnya tergeletak mati dengan mengenang segala sepak-terjangnya yang mengerikan di tano Aceh, tanah perlawanan.

Tapi Teuku Umar syahid dengan penuh senyum setelah dikejar-kejar oleh  Van der Dussen atas perintah Van heutzs di  di Meulaboh.  Boleh saja Teuku Umar gugur, tapi tongkat estafet perjuangan langsung disambut oleh istrinya  Cut Nyak Dhien yang tampil menjadi komandan perang gerilya. Syahidnya tokoh perang Aceh yang sangat bersejarah ini, telah ia ramalkan sendiri dengan penuh serius dan rasa gembira hati dalam kepasrahan kepadaNya. Teuku Umar telah mendapat firasat, dengan berkata: “Beungoh singoh geutanyoe jep kupi di keude Meulaboh atawa ulon akan syahid”(besok pagi kita akan minum kopi di kota Meulaboh atau aku akan syahid). ”

Betul saja, saat Teuku Umar menunaikan sahurnya di pertengahan bulan Ramadhan, saat ia tengah menyantap makan sahur, pasukan Van Der Dussen memberondongnya dengan peluru dan mengenai lambung dan dada kirinya.

Dalam waktu sekejap, nafas Teuku Umar ngap-ngapan dan anak buahnya sesegera mungkin melarikan jasadnya yang sedang sekarat. Dan kaphe-kaphe Belanda, terutama Van Heutsz kehilangan jejaknya pada titimangsa 11 Februari 1899.

Inilah yang membedakan kebesaran Van Heutsz dan Teuku Umar. Van Heutsz mati dalam busuknya penjajahan kaphe-kaphe Belanda yang bergelimang kemakmuran karena merampok harta kekayaan dari tanah Aceh dan Hindia Belanda. Sementara Teuku Umar syahid dalam menunaikan sahurnya dan tercium bau darah syahidnya yang wangi dan namanya yang menjulang ke langit tinggi. Dia adalah salah seorang pahlawan Aceh yang sangat berpengaruh dengan keharuman namanya yang tiada tara menyelubungi kuburnya di Desa Meugo, sekitar 40 km dari Kota Meulaboh.

Makam tokoh bersahaja berinisial Teuku Umar ini sangat sederhana, hanya berupa gundukan batu kerikil beserta  nisan batu polos berukuran kecil. Kubur yang dilindungi  bangunan cungkup rendah terbuka, di tengah hutan Glee Mugou. Terasa aura keagungan yang melambungkan namanya ke langit tinggi,  menyeruak dari makam yang berada di dalam sebuah bangunan berlantai pualam dan atap berciri bangunan tradisional Aceh. Di nisan bagian kepala tertulis: “Makam ini  adalah  tempat peristirahatan terakhir salah seorang putra bangsa terbaik Aceh sekaligus pahlawan nasional, pejuang dan mujahidin yang  menentang habis-habisan kaphe-kaphe penjajah Belanda.” Dari kuburan itu terbayang bagaimana Teuku Umar berkata: “ Van Heutsz, pergilah ke kebusukan kolonialisme yang berlumur darah, bercampur pergulatan kekuatan-kekuatan rakus yang meninggalkan bangkai-bangkai tua yang tiada artinya bagi manusia dan kemanusiaan.”

Satu  serdadu bule  bukan asli Belanda menuliskan begini; "Di perang ini Belanda berkenalan dengan satu kata yang membuat bulu kuduk mereka bergidik, yakni jihad." Setiap bangsa  Aceh berperang untuk mati syahid. Mereka meneriakkan dalam setiap kecamuk perang  pasukan Hindia-Belanda sebagai kaphe-kaphe Belanda."

Catatan H.J. Schmidt, pada titimangsa  1936, menyebutkan Teuku  Umar mempunyai  semua syarat  yang dibutuhkan  bangsa Aceh untuk  pemimpin bangsa ini menuju peradaban yang diinginkan.  Kemampuan Teuku Umar melakukan agitasi , kemudian mengumpulkan  semangat juang, kedermawanan dan kharismanya yang luarbiasa, memberinya pengaruh yang besar dalam memompa semangat juang setiap orang Aceh. Ia tetap berendah hati dan sejajar dengan setiap rakyat yang dikomandoinya.  Ini tercermin dari cara berkomunikasi Teuku Umar kepada setiap orang dalam  pasukannya. Dengan bahasa sastra yang tinggi namun mudah dimengerti, ia utus anak buah untuk  mengintai pergerakan kaphe-kaphe Belanda. Saa itu  Umar berkata, “Pergilah, matamu adalah mataku”.

Begitulah, berhadapan dengan semangat jihad bangsa Aceh yang tiada putus apinya menyala dan selalu tak mengenal padam karena estafeta perjuangan mereka sambung menyambung sejak mulai tahun 1873 sampai 1942 ketika kaphe-kaphe Jepang masuk dan menduduki tano Aceh. Bahkan jika perang Aceh - Belanda itu ditakdirkan terus berlangsung  sampai hari kiamat, niscaya perang itu tak akan pernah berhenti dan kedua bangsa yang saling membunuh itu musnah satu persatu hingga terompet sangkakala terakhir ditiup malaikat Israfil dan barulah sadar kaphe-kaphe Belanda itu, bahwa yang mereka lawan bukanlah bangsa yang tak memiliki   konsep perang yang jelas.

Jihad adalah satu kalimat atau kata yang tak pernah padam dalam hati sanubari setiap anak dan bangsa Aceh. Walaupun Sayid Ahmad Khan, seorang suruhan Inggris terpelajar dari sekte Ahmadiyah di India pernah menyerukan kepada bangsa Aceh:  “Jihad melawan Belanda harus dihentikan, oleh sebab perkataan itu (kata jihad) ditakrifkan sebagai perjuangan ketentaraan/milier melawan penindasan agama, sedangkan yang terjadi di Aceh bukanlah penindasan agama.Hanya perang memperebutkan tanah dan kekayaan dunia,” jelas tokoh yang mirip dengan Snocuk Hurgronje ini. Tetapi setiap bangsa Aceh tak memedulikan seruan Sayid Ahmad Khan, bahkan kenal dengan Sayid Ahmad Khan pun tidak. Bangsa Aceh  hanya kenal dengan Teuku CIk Ditiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dieh, CIk Pantekulu, Panglima Polim dan sederet mujahidin besar yang menentang Belanda yang terus dibuai mimpi untuk dapat dan mampu menguasai tano Aceh yang terus membara . (Bersambung)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...