12 December 2019

Sebuah Nilai yang Mempersatukan Perantau. Minang & Purworejo?

“Walau kaie nan dibantuak, ikan dilauik nan diadang”

 

KONFRONTASI -  Artinya, bagaimanapun bentuk kailnya, bakal bertemu ikan di laut. Prinsip yang sangat familiar dari tanah Minang ini menyampaikan pesan untuk mempunyai visi dan misi yang besar dari sesuatu hal. Dan penggambaran dalam pelaksanaan sekaligus untuk mengukur tingkat keberhasilannya.

Kenapa lagi-lagi orang Minang dan tanah negeri Gadang ini yang di buat contoh? Sudah sedari lama baik dilihat dari catatan dan tinggalan tradisi lisan dan budayanya. Sejak berabad-abad lalu, bahkan sampai seribu tahun mungkin. Sudah kesohor dengan tradisi merantaunya.

Perantau Minangkabau, atau disebut Perantau Minang, kini tak hanya tersebar sepenjuru negeri. Bahkan sampai Amerika Serikat, Eropa, Australia, Malaysia-Singapura, timur tengah dan banyak negara lainnya. Secara ringkas di tahun 2009 saja, ada sekitar 13 juta perantau dari Minang, sementara di daerah asalnya hanya ada sekitar satu juta penduduk yang bermukim.

Bolehlah sedikit, penulis mengutip pendapat sosiolog asli Minangkabau, Dr. Mochtar Naim perihal merantau yang menjadi tradisi turunan di daerahnya. Yaitu, ada enam unsur pokoknya : meninggalkan kampung halaman, kemauan sendiri, jangka waktu lama atau tidak, bertujuan mencari penghidupan: menuntut ilmu & mencari pengalaman, bermaksud kembali pulang dan terakhir menjadi sebuah lembaga sosial yang membudaya.

Gambar mungkin berisi: teks

Dibalik kesejarahan & kisah klasik yang hebat dari saudara Minang kita tentang merantau ini. Tentu ada kisah-kisah samping yang beredar, dan ini bisa untuk kita jadikan pelajaran, studi kasus juga. Selain Gebu Minang yang kesohor itu, sebenarnya ada juga kelompok atau persatuan paguyuban baik yang mengatasnamakan para orang Minang di rantau setingkat kabupaten, provinsi, nasional bahkan kaliber internasional.

Sebut saja ada Gebu Minang, IKPS Pesisir Selatan, IPM, IKM dan banyak lainnya. Yang terbaru ada Diaspora Minang Global juga,yang bahkan penasehat nya adalah perantau keturunan Minang yang menjadi tokoh di Malaysia atau mantan Menteri Informasi & Kebudayaan Malaysia, Tan Sri Dato Seri Utama Dr Rais Yatim.

Bagaimana dengan Kabupaten Purworejo?
Dilihat dari alasan sosiologis Dr Mochtar Naim di atas, sebenarnya poin-poin nya banyak yang masuk. Atau banyak kesamaan antara negeri Minang tersebut dengan Kabupaten Purworejo tercinta.

Keterangan foto tidak tersedia.

Enam aspek itu masuk semua. Bahkan di tambah dari segi struktur kota dan geneakologis nya. Purworejo yang setelah usai perang Jawa, dan kebetulan menjadi kota baru yang tergolong modern di waktu itu sangat lengkap prasarananya. Dari rel kereta api, daerah antara atau tengah yang memungkinkan terjadi mobilitas dari isu sekaligus para tokoh-tokoh nasional untuk mengagendakan sesuatu di sini.

Beberapa ringkasan singkat dari riwayat kesejarahan merantau masyarakat Purworejo yang sangat kesohor dengan warga Bagelen ini di antaranya dengan beberapa keturunan dari daerah sini ( penulis menyebutnya) dengan daerah DNA mix atau campuran. Karena ada dari Majapahit, Belanda, tatar Sunda, Arab dll yang bermukim di sini dan beranak-pinak , bercampur.

Gambar mungkin berisi: luar ruangan

1.Tokoh-tokoh yang melegenda dari tatar Bagelen dan membentuk atau merintis adanya daerah baru lain semisal di Indramayu.
2.Transmigrasi awal, atau disebut kolonialisasi di tahun 1900. Dari Bagelen ke Provinsi Lampung sekarang.
3.Jual beli budak belian, buruh kontrak dari Purworejo, Bagelen ke Deli- Medan, Suriname dan banyak daerah lainnya.
4.Penutupan Balai Yasa Purworejo dan bedhol desa ke Kabupaten Lahat Sumatera Selatan diikuti puluhan warga Purworejo & Kutoarjo kesana.
5.Paska kemerdekaan. Banyak anak dari keluarga priyayi berpendidikan di Purworejo dan kelak ikut berperan dalam pembangunan dan mengisi kemerdekaan negeri ini. Dalam berbagai bidang & era-masa. Kelak mereka menjadi tokoh di institusi atau wilayah barunya juga.

Pendapat di atas hanya pendapat subjektif lisan. Seharusnya bisa juga di jadikan sebagai “ nilai lebih” dari Purworejo beberapa alasan di atas.

Pun beragam atribut slogan kota sudah melekat di kota ini. Ada yang menyebut Kota Pensiunan. Ini yang tergolong lama & awet, Kabupaten Pramuka, Kota Pejuang dan banyak lainnya.

Hasil gambar untuk Padang - SUmatera barat

Kembali ke Minang. Di sana sepertinya ada figur sesepuh, atau sentral yang bisa mempersatukan. Kemudian ada visi dan misi kesejarahan dan masa depan yang kuat. Diketahui dari pepatah dan kidung-kidung Minang klasik. Lantas juga tahu posisi dan “timingnya”. Perantau Minang boleh di ajang politik dll berbeda pendapat, bermusuhan bahkan. Tetapi dalam satu ruang kumpul daerah bisa guyub & gayeng?

Bagaimana dengan Purworejo? Apakah juga sama akan kembali ke formulasi semula. Biarkan seperti apa adanya. Berjalan parsial, dan tergantung dari tetua atau pamong yang membawahi dari sebuah paguyuban itu?

Konon, berdasar dari penuturan salah satu tokoh Purworejo di Jakarta. Paguyuban Purworejo termasuk yang tertua diantara 35 paguyuban kota dan kabupaten di Jawa tengah. Dan menjadi rujukan, study banding dari daerah lain.

Banyak yang dengan santai dan “ kabar burung”. Wong Purworejo itu di rantau kalau sudah berbeda pendapat dan “ bermusuhan” gampang mutungan, tugel dan tak mau tegur sapa lagi? Ada sifat tugel, gampang patah di sini.
Ada juga sifat ksatria yang tinggi sekaligus pengkhianat yang besar pula?

Ada juga sifat-sifat yang sangat baik seperti petarung & lentur. Ini yang menjadikan setiap cita-cita atau target nya selalu kena dan menjadi terbaik, rendah hati dan bisa meresap, masuk ke berbagai lini lingkungan baru dan komunikasi baru dengan lawan bicaranya.

Bukankah ini semua sebenarnya juga sama. Sebuah “kesetimbangan hidup” yang Tuhan Yang  Esa ciptakan di dunia. Untuk manusia, untuk sebuah tatanan organisasi dan lainnya.

Semoga coretan singkat ini bisa menjadikan guna kita semua. Mohon maaf ada salahnya.(Jft/IDEA)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...