19 November 2019

Sebab Sebenarnya Soekarno Damprat Cakrabirawa Perkara Gadis Amerika di Istana: Intel Kita Kebobolan!

KONFRONTASI -   Pernah terjadi dalam sejarah saat Presiden Soekarno (Bung Karno) mendamprat resimen Cakrabirawa.

Semua berawal dari terungkapnya sosok gadis cantik Amerika di istana.

Alasan kemarahan Soekarno itu pun terungkap.

Simak kisahnya berikut ini.

Seperti diketahui, kisah kehidupan dan kebijakan Presiden Soekarno memang tak pernah habis digali.

Selama memerintah lebih dari 20 tahun (1945-1966), Sang Proklamator dan Pemimpin Besar Revolusi ini mampu mengangkat harga diri bangsa Indonesia di mata dunia.

Soekarno yang dikenal anti imperialisme dan kolonialme ini selalu mendukung dan membela negara-negara di Asia dan Afrika yang masih dijajah negara imperialis.

Tak heran, Soekarno mendapat simpati dan bersahabat dengan pemimpin besar negara-negara di dunia, termasuk Pakistan.

Di negara yang berbatasan dengan India itu, Soekarno bersahabat dengan Presiden Pakistan, Ayub Khan.

 

sebab-sebenarnya-soekarno-damprat-cakrabirawa-perkara-gadis-amerika-di-istana-intel-kita-kebobolan.jpg

Sebab Sebenarnya Soekarno Damprat Cakrabirawa Perkara Gadis Amerika di Istana: Intel Kita Kebobolan! - IST via WartaKota dan Surya

 

"Soekarno, ketahuilah bahwa gadis cantik itu, saya dapat informasi dari intel di Pakistan, saya tahu bahwa dia anggota CIA. Gadis cantik itu sudah dikenal oleh intel Pakistan sebagai anggota CIA", jelasnya.

 

Maka, sesampainya di Jakarta, Soekarno tak langsung menangkap gadis cantik Amerika berusia sekira 19-22 tahun itu.

Soekarno hanya menyuruhnya pergi dari Istana dan segera meninggalkan Indonesia.

Sebaliknya, Soekarno malah mendamprat intel Istana, khususnya Cakrabirawa.

Soekarno berkata, "Intel kita kebobolan, juga intel Cakrabirawa kebobolan. Wahhhh...hampir-hampir saja revolusi Indonesia kebobolan". (Januar)

 

Cakrabirawa dan Soekarno. (Intisari)

Nasib Para Eks Prajurit Cakrabirawa Pasca G30S/PKI, Disiksa hingga Lari ke Thailand & Punya 1 Ciri

Pecahnya kejadian G30S/PKI pada tanggal 30 September 1965, rupanya berbuntut panjang.

Satu di antaranya adalah pembubaran pasukan pengawal Presiden Soekarno, Resimen Cakrabirawa atau menurut ejaan baru disebut Cakrabirawa.

Pada 28 Maret 1966 di lapangan Markas Besar Direktorat Polisi Militer Jalan Merdeka Timur, Jakarta, pasukan pengawal Presiden Soekarno, Cakrabirawa, secara resmi dibubarkan.

Tugas pengaman bagi Presiden Soekarno kemudian diberikan kepada Batalyon Para Pomad yang dikomandani oleh Letkol CPM Norman Sasono.

Tapi dibubarkannya Cakrabirawa melalui upacara serah terima itu ternyata tidak “seindah” yang dibayangkan.

Biasanya jika ada resimen pasukan yang dilikuidasi, para anggotanya akan dikembalikan kepada satuannya masing-masing mengingat personel Cakrabirawa berasal dari satuan AD, AL, AU, dan kepolisian.

Namun yang justru terjadi pada para personel Cakrabirawa adalah malapetaka karena semua personelnya dianggap terlibat Gerakan 30 September.

Maka yang terjadi setelah Cakrabirawa dibubarkan para personelnya diburu dan ditangkap oleh TNI AD untuk kemudian diinterogasi, disiksa, dan dipenjara tanpa perikemanusiaan.

Personel Cakrabirawa yang dianggap telah melakukan pelanggaran berat seperti terlibat penculikan dan pembunuhan para jenderal TNI AD umumnya langsung dieksekusi.

Menyadari bahwa jika sampai ditangkap tim pemburu akan mendapatkan siksaaan berat saat diinterogasi maka banyak mantan personel Cakrabirawa berusaha melarikan diri tanpa jejak.

Sebagai anggota militer dari kesatuan yang terbaik, maka cara melarikan diri para anggota mantan Cakrabirawa itu juga tidak sembarangan.

Beberapa orang bahkan menyusun strategi supaya bisa melarikan diri secara terencana dan di tempat pelarian yang dituju mereka tetap bisa survive.

Satu di antara “rombongan” mantan personel Cakrabirawa berkat bantuan pejabat tertentu yang pro-Soekarno bahkan bisa lari sampai Thailand secara legal dan kemudian malah bisa menjadi warga Thailand.

Agar pelarian di Thailand tidak menimbulkan masalah dan sekaligus tidak kebingungan mencari pekerjaan serta tetap bisa makan, pada awalnya para mantan anggota Cakrabirawa banyak yang menjadi biksu.

Sedangkan anggota lainnya banyak juga yang langsung membuka lahan di hutan dan kebetulan pada tahun 1970-an untuk mengolah lahan di hutan-hutan Thailand tidak dipungut biaya.

Lahan hutan yang dibuka dan diolah pun bisa menjadi milik para pengolahnya.

Umumnya para mantan Cakrabirawa saat ini, terutama yang masih hidup, telah menjadi petani sukses dan memiliki lahan luas.

Para mantan anggota Cakrabirawa di Thailand pun menikah dengan warga setempat dan menjadi warga negara resmi.

Satu di antara ciri yang bisa ditandai pada mantan personel Cakrabirawa adalah memiliki kebiasaan berburu di hutan dan dikenal sangat mahir menembak.

Jika bertemu orang Indonesia yang sedang ke Thailand, mereka sangat merahasiakan jati diri sebagai mantan Cakrabirawa.

Meskipun kadang-kadang, terutama yang berasal dari Jawa Tengah, sangat ingin berbahasa Jawa ketika bertemu turis Indonesia dari Jawa yang sedang berkunjung ke Thailand.

Selayaknya para prajurit yang pernah di satuan elit Paspampres, dalam waktu tertentu mereka berkumpul dan kadang-kadang membahas perkembangan kehidupan sosial politik Indonesia.

Sejumlah mantan anggota Cakrabirawa yang tersebar di Thailand karena usia lanjut telah meninggal.

Namun kendati suasana Indonesia telah berubah para mantan personel Cakrabirawa di Thailand ternyata memiliki satu prinsip, “tidak akan pernah pulang lagi ke Indonesia”.

Alasannya hanya satu.

Mereka yakin pasti akan ditangkap, dinterogasi, dan dijebloskan ke penjara.(Jft/TribunJatim)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...