15 December 2019

RIP Reformasi

Juftazani

 

 

Apa yang terjadi ketika gejolak Reformasi membakar negeri

Di bawah bau amis darah Elang Lesmana dan kawan-kawan

Ada penumpang gelap menyertai awal perjalanan

Derak ranting patah dan Isak Ibu pertiwi

Menangisi kepergian putra terbaiknya

Ke negeri sunyi

 

 

 

Air mata rakyat lebih banyak memberi pesan

Dari apa yang disodorkan semua kata

Zona militer untuk sipil dan mahasiswa yang tertembak di dada

Dan uneg-uneg jiwa yang terasa hampa

 

 

 

Hanya 21 tahun, ruh reformasi terbang ke angkasa

Meninggalkan jasad luka dikerubuti asing, aseng dan komprador

lapar

Ibu pertiwi menangis menyaksikan burung asing dan aseng itu

Mematuki tubuh Reformasi dan bahkan negeri ini

Digerogoti bersama belatung yang haus kuasa

Hari - hari kita jalani kini terasa sunyi

Diiringi langkah perih, pedih dan terasa kita melangkah sendiri

Anak-anak masih mendendangkan lagu sedih

Kemana demokasi yang dulu menghiasi hidup kami

Teringat Elang Lesmana, Hafidhin Royan, Heri Hartanto, dan

Hendriawan Sie

Tertidur panjang dan tak lupa kirim doa

Akan Indonesia yang tengah merintih

Kami datang berbagi cerita

Tentang Indonesia yang makin menderita

Penumpang gelap Reformasi kini telah menguasai Negara

Selangkah lagi kami turun esok lusa

Meneruskan titah perjuangan pemuda

Pahlawan bangsa

 

 

Tangerang, 21 Mei 2019

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...